Skip to the content

Imunisasi 101

Temukan jawaban pertanyaan seputar vaksinasi dan kesehatan preventif di sini

Rekomendasi Praktik Imunisasi

  • Pedoman Praktik Vaksinasi
    • Daftar Vaksinasi
    • Pedoman Vaksinasi Pandemi COVID-19 & New Normal
    • Standar layanan vaksinasi di masa pandemi COVID-19
    • Pedoman Penapisan Kontraindikasi Vaksinasi
  • Rekomendasi Berbasis Bukti
    • Vaksinasi Pneumokokal untuk dewasa dengan gangguan imunitas
  • Informasi Klinis
    • Beda Vaxigrip Tetra NH dan SH
  • Standar Administrasi
    • Prosedur Pengelolaan & Penyimpanan Vaksin
    • Periksa Riwayat Imunisasi Pasien
    • Menilai Kebutuhan Imunisasi Pasien
    • Penapisan Kontraindikasi Vaksinasi
    • Melakukan Edukasi Vaksinasi
    • Persiapan pemberian vaksin
    • Cara Pemberian Vaksin

Imunisasi Anak

  • Alasan Vaksinasi
    • Membuat Keputusan Vaksinasi
  • Jadwal Imunisasi Anak
    • Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun
    • Mengejar Kelengkapan Imunisasi
    • Rekomendasi Baru Jadwal Imunisasi Anak IDAI 2023
    • Berpikir Untuk Melewatkan Vaksin Flu Tahunan?
  • Panduan Imunisasi Anak
    • Vaksinasi Demam Dengue
    • Vaksinasi Tifoid
    • Vaksinasi Difteri
    • Vaksinasi Hepatitis A
    • Vaksinasi Hepatitis B
    • Vaksinasi HiB
    • Vaksinasi HPV
    • Vaksinasi Influenza
    • Vaksinasi Campak (Measles)
    • Vaksinasi Meningokokus
    • Vaksinasi Gondongan (Mumps)
    • Vaksinasi Batuk Rejan (Pertusis)
    • Vaksinasi Pneumokokus
    • Vaksinasi Polio
    • Vaksinasi Rotavirus
    • Vaksinasi Rubella (Campak Jerman)
    • Vaksinasi Tetanus
    • Vaksinasi Varicella

Imunisasi Dewasa

  • Imunisasi Kehamilan
    • Vaksinasi Dan Kehamilan
  • Alasan Vaksinasi
    • Kebutuhan Vaksinasi Orang Dewasa
    • Mengapa vaksinasi dewasa penting untuk Anda
  • Rekomendasi
    • Rekomendasi Vaksinasi Dewasa Berdasarkan Usia
    • Vaksinasi Dewasa Dengan Kondisi Medis Tertentu
  • Panduan Imunisasi Dewasa
    • Vaksinasi Demam Dengue
    • Vaksinasi Tifoid
    • Vaksinasi Difteri
    • Vaksinasi Hepatitis A
    • Vaksinasi Hepatitis B
    • Vaksinasi HPV
    • Vaksinasi Influenza
    • Vaksinasi Campak (Measles)
    • Vaksinasi Meningokokus
    • Vaksinasi Gondongan (Mumps)
    • Vaksinasi Batuk Rejan (Pertusis)
    • Vaksinasi Pneumokokus
    • Vaksinasi Polio
    • Vaksinasi Rubella (Campak Jerman)
    • Vaksinasi Tetanus
    • Vaksinasi Varicella

Pandemi COVID 19

  • Informasi Pasien
    • Gejala COVID-19 (Coronavirus Disease 2019)
    • Digigit Anjing? Jangan Panik! Ikuti 5 langkah penting ini.
  • Tenaga Kesehatan
    • Pedoman Vaksinasi Pandemi COVID-19 & New Normal
    • Standar layanan vaksinasi di masa pandemi COVID-19

Imunisasi Perjalanan

  • Daftar Negara Endemis Japanese Encephalitis
  • Daftar Negara Endemis Yellow Fever
  • Pedoman Imunisasi Pelajar Amerika Serikat
  • Pedoman Umum
    • Vaksinasi Perjalanan Wisatawan
    • Rekomendasi Vaksinasi Umroh 2023 (1444H)
  • Negara Wajib ICV
    • Daftar Negara Endemis Meningitis
    • Daftar Negara Endemis Yellow Fever
  • Persyaratan Imunisasi Pelajar Luar Negeri
    • Pedoman Imunisasi Pelajar Amerika Serikat

Emerging Infectious Disease

  • Daftar Negara Endemis Japanese Encephalitis
  • Daftar Negara Endemis Yellow Fever
  • Tes IGRA itu apa?
  • Mengapa heboh terjadi KLB Campak tahun 2022 di Indonesia?
  • Panduan Anti Gagal Pahami Penyakit Rabies
  • Vaksinasi polio wajib untuk visa Australia 2023

Pemeriksaan Kesehatan

  • Tes IGRA itu apa?
  • Tes Alergi Makanan (Food Allergy Test)
  • Tuberkulosis
    • Tes IGRA itu apa?

Artikel Kesehatan

  • 5 perbedaan vaksin RSV dan Pneumonia
  • Umum
    • Kenali 6 Tingkat Bahaya Gigitan Anjing
    • 10 Cara Sederhana Mencegah Penularan Penyakit Infeksi
    • 5 Dampak Perjalanan Udara Yang Bikin Rentan Sakit!
    • Bagaimana Cara Infeksi Influenza Menyebabkan Imunosupresi?
    • 5 perbedaan vaksin RSV dan Pneumonia
  • Penyakit & Kondisi
    • Influenza (Flu)
    • Human Papillomavirus (HPV)
    • Tuberkulosis
    • Mpox (Monkeypox; Cacar Monyet)
    • HMPV (Human Metapneumovirus)

Foreign Traveler Guidelines

  • Travel Vaccines: 5 Required Vaccines For Indonesia
  • Avoiding Bali Belly and Dengue: 4 Traveler’s Health Survival Tips
  • Top 6 Tropical Diseases in Indonesia to Watch Out for
  • Vaccine Requirements
    • Travel Vaccines: 5 Required Vaccines For Indonesia
  • Disease Profiles
    • Top 6 Tropical Diseases in Indonesia to Watch Out for
  • Destination-Specific Advice
    • Avoiding Bali Belly and Dengue: 4 Traveler’s Health Survival Tips

Genomik

  • Mengenal Mosaikisme Kromosom
View Categories
  • Home
  • Dokumentasi
  • Artikel Kesehatan
  • Penyakit & Kondisi
  • Human Papillomavirus (HPV)

Human Papillomavirus (HPV)

12 min read

  • Gejala & Penyebab
  • Diagnosis & Pengobatan
  • Pencegahan

Ringkasan

Infeksi Human Papillomavirus atau HPV adalah infeksi virus yang umumnya menyebabkan pertumbuhan pada kulit atau membran mukosa (kutil). Ada lebih dari 100 varietas Human Papillomavirus (HPV). Beberapa jenis infeksi HPV menyebabkan kutil, dan beberapa dapat menyebabkan berbagai jenis kanker.

Sebagian besar infeksi HPV tidak menyebabkan kanker. Namun beberapa jenis HPV genital dapat menyebabkan kanker pada bagian bawah rahim yang berhubungan dengan vagina (serviks). Jenis kanker lain, termasuk kanker anus, penis, vagina, vulva, dan belakang tenggorokan (oropharyngeal), telah dikaitkan dengan infeksi HPV.

Infeksi ini sering ditularkan secara seksual atau melalui kontak kulit ke kulit lainnya. Vaksin dapat membantu melindungi dari jenis HPV yang paling mungkin menyebabkan kutil kelamin atau kanker serviks.

Gejala HPV

Dalam kebanyakan kasus, sistem kekebalan tubuh mengalahkan infeksi HPV sebelum menimbulkan kutil. Ketika kutil benar-benar muncul, tampilannya bervariasi tergantung pada jenis HPV yang terlibat:

Kutil kelamin (Genital Warts)

Ini muncul sebagai lesi datar, benjolan kecil seperti kembang kol atau tonjolan kecil seperti batang bertagkai.

Pada perempuan, kutil kelamin kebanyakan muncul di vulva tapi bisa juga terjadi di dekat anus, di leher rahim atau di vagina.

Pada laki-laki, kutil kelamin muncul di penis dan skrotum atau di sekitar anus. Kutil kelamin jarang menyebabkan rasa tidak nyaman atau nyeri, meski mungkin terasa gatal atau terasa nyeri.

Kutil Kelamin Perempuan - Female Genital Warts

Kutil Kelamin Perempuan - Female Genital Warts

Kutil Kelamin Laki-laki - Male Genital Warts

Kutil Kelamin Laki-laki - Male Genital Warts

Kutil biasa (Common Warts)

Kutil biasa muncul sebagai benjolan yang kasar dan menonjol dan biasanya muncul di tangan dan jari. Dalam kebanyakan kasus, kutil biasa tidak sedap dipandang, tetapi kutil juga bisa memberikan rasa nyeri, rentan terhadap cedera, atau mudah berdarah.

Kutil Biasa - Common Warts

Kutil Biasa - Common Warts

Kutil plantar (Plantar Warts)

Kutil plantar merupakan pertumbuhan kasar dan berbutir yang biasanya muncul di bagian tumit atau bola kaki Anda. Kutil ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan.

Kutil Plantar - Plantar Warts

Kutil Plantar - Plantar Warts

Kutil datar (Flat Warts)

Kutil datar adalah lesi dengan bagian atas rata dan sedikit menonjol. Mereka dapat muncul di mana saja, tetapi anak-anak biasanya mendapatkannya di wajah dan Laki-laki cenderung mendapatkannya di area janggut. Perempuan cenderung mendapatkannya di kaki.  

Kutil Datar - Flat Warts

Kutil Datar - Flat Warts

Kanker Serviks dan Kanker Terkait HPV Lainnya

Infeksi HPV bertanggung jawab atas hampir semua kasus kanker serviks dan kanker terkait HPV lainnya. Kanker terkait HPV dapat terjadi karena infeksi persisten dengan virus Human Papilloma risiko tinggi. Perubahan sel menjadi kanker dari terjadinya infeksi dapat memakan waktu 20 tahun atau lebih.

Umumnya, infeksi HPV dan kanker serviks stadium awal tidak menunjukkan gejala yang nyata. Untuk melindungi dari kanker serviks dan kanker terkait HPV lainnya, mendapatkan vaksinasi HPV adalah tindakan pencegahan yang paling efektif.

Karena kurangnya gejala yang nyata pada stadium awal kanker serviks dan kanker terkait HPV lainnya, tes skrining rutin dengan Pap Smear Serviks dan Pap Smear Anal sangat penting untuk mendeteksi perubahan prakanker apapun yang dapat berkembang menjadi kanker.

Pedoman saat ini merekomendasikan agar perempuan berusia 21 hingga 29 tahun yang sudah pernah berhubungan seksual untuk melakukan pemeriksaan Pap Smear setidaknya setiap tiga tahun.

Untuk perempuan berusia 30 hingga 65 tahun, disarankan untuk melanjutkan tes Pap setiap tiga tahun, atau setiap lima tahun jika digabungkan dengan tes DNA HPV. Perempuan di atas 65 tahun dapat menghentikan pengujian jika mereka telah menjalani tiga tes Pap normal berturut-turut atau dua tes DNA HPV dan Pap tanpa hasil abnormal. 

Kapan harus berobat?

Jika kamu atau anak kamu memiliki kutil dalam bentuk apa pun yang mungkin menyebabkan rasa malu, tidak nyaman, nyeri, mudah berdarah, atau keluhan lainnya, jadwalkanlah pemeriksaan dengan dokter segera.

Penyebab

Infeksi HPV terjadi saat virus masuk ke dalam tubuh, biasanya melalui luka, lecet, atau robekan kecil di kulit. Virus ini ditularkan terutama melalui kontak langsung kulit dengan kulit.

Infeksi HPV pada alat kelamin dapat terjadi melalui hubungan seksual konvensional, seks anal, dan kontak kulit dengan daerah genital. Beberapa infeksi HPV yang menyebabkan luka pada mulut atau saluran pernapasan bagian atas dapat ditularkan melalui seks oral.

Jika kamu sedang hamil dan mengalami infeksi HPV dengan kutil kelamin, ada kemungkinan bayi juga akan tertular. Meskipun jarang terjadi, infeksi ini dapat menyebabkan pertumbuhan jinak di kotak suara bayi (laring).

Kutil adalah penyakit yang sangat menular dan menyebar dengan mudah melalui kontak langsung. Kutil juga dapat menyebar secara tidak langsung (sekunder) ketika seseorang menyentuh sesuatu yang sudah menyentuh kutil.

Klasifikasi

Infeksi human papillomavirus (infeksi HPV) disebabkan oleh virus DNA dari keluarga Papillomaviridae. HPV merupakan kelompok yang terdiri atas lebih dari 200 virus terkait, yang diklasifikasi dengan metode penomoran untuk setiap tipe virus.

Beberapa jenis HPV, seperti HPV5, dapat menginfeksi seseorang sepanjang hidupnya tanpa menunjukkan gejala klinis. HPV tipe 1 dan 2 dapat menyebabkan kutil biasa pada beberapa individu yang terinfeksi. HPV tipe 6 dan 11 dapat menyebabkan kutil kelamin dan papilomatosis laring.

Banyak jenis HPV bersifat karsinogenik. Sekitar empat belas jenis HPV (termasuk tipe 16, 18, 31, dan 45) disebut jenis "berisiko tinggi" karena infeksi yang persisten dikaitkan dengan kanker pada orofaring, laring, vulva, vagina, serviks, penis, dan anus.

Semua kanker ini melibatkan infeksi HPV yang ditularkan secara seksual ke jaringan epitel berlapis. Tipe HPV 16 adalah yang paling sering menyebabkan kanker dan ditemukan pada sekitar 47% dari semua kanker serviks, serta banyak kanker vagina, vulva, penis, anus, dan kanker pada kepala dan leher.

Tabel di bawah mencantumkan gejala umum infeksi HPV dan jenis HPV terkait.

PenyakitTipe HPV
Common warts2, 7, 22
Plantar warts1, 2, 4, 63
Flat warts3, 10, 28
Anogenital warts6, 11, 42, 44 and others[26]
Anal dysplasia (lesions)16, 18, 31, 53, 58[27]
Genital cancers
  • Highest risk:[26] 16, 18, 31, 45
  • Other high-risk:[9][26]33, 35, 39, 51, 52, 56, 58, 59, 66, 68
  • Probably high-risk:[28] 26, 53, 73, 82
Epidermodysplasia verruciformismore than 15 types
Focal epithelial hyperplasia (mouth)13, 32
Mouth papillomas6, 7, 11, 16, 32
Oropharyngeal cancer16[3]
Verrucous cyst60
Laryngeal papillomatosis6, 11

Replikasi dan Infektivitas

Infeksi HPV terbatas pada sel basal epitel bertingkat, satu-satunya jaringan tempat mereka bereplikasi. Virus tidak dapat mengikat jaringan hidup; sebaliknya, virus ini menginfeksi jaringan epitel melalui mikro-abrasi atau trauma epitel lainnya yang memaparkan segmen membran dasar.

Proses infeksi berjalan lambat, memakan waktu 12-24 jam untuk inisiasi transkripsi. Dipercayai bahwa antibodi yang terlibat memainkan peran penetral utama sementara virion masih berada di membran dasar dan permukaan sel.

Lesi HPV diyakini timbul akibat proliferasi sel keratinosit basal yang terinfeksi. Infeksi biasanya terjadi saat sel basal pada inang terpapar virus infeksius melalui gangguan pada lapisan epitel, seperti yang terjadi selama hubungan seksual atau setelah luka kecil pada kulit.

Infeksi HPV tidak terbukti bersifat sitolitik; sebaliknya, partikel virus dilepaskan sebagai hasil degenerasi sel yang mengelupas. HPV dapat bertahan selama berbulan-bulan pada suhu rendah tanpa inang; oleh karena itu, seseorang dengan kutil kaki dapat menyebarkan virus tersebut dengan berjalan tanpa alas kaki.

HPV adalah virus DNA sirkuler beruntai ganda kecil dengan genom sekitar 8000 pasang basa. Siklus hidup HPV secara ketat mengikuti program diferensiasi keratinosit inang. Diyakini bahwa virion HPV menginfeksi jaringan epitel melalui mikro-abrasi, di mana virion berinteraksi dengan reseptor yang disebut alfa integrin, laminin, dan annexin A2, yang kemudian memungkinkan virion masuk ke dalam sel epitel basal melalui endositosis yang dimediasi oleh klaterin dan/atau endositosis yang dimediasi oleh caveolin tergantung pada jenis HPV.

Pada titik ini, genom virus diangkut ke dalam inti sel dengan mekanisme yang belum diketahui dan membentuk salinan genom virus sebanyak 10-200 genom virus per sel. Kemudian terjadi rangkaian transkripsi yang canggih saat keratinosit inang mulai membelah dan menjadi semakin diferensiasi di lapisan atas epitel.

Setelah virion HPV menyerang sel, infeksi aktif terjadi, dan virus dapat ditularkan. Beberapa bulan hingga bertahun-tahun dapat berlalu sebelum lesi intraepitel skuamosa (SIL) berkembang dan dapat dideteksi secara klinis. Waktu dari infeksi aktif hingga penyakit yang terdeteksi secara klinis — Periode Latensi — dapat mempersulit kajian epidemiologi untuk menentukan pasangan mana yang menjadi sumber infeksi.

Faktor Risiko

Infeksi HPV sangat sering terjadi. Faktor risiko infeksi HPV meliputi:

Jumlah pasangan seksual

Semakin banyak pasangan seksual yang kamu miliki, semakin besar probabilitas penularan infeksi HPV genital. Berhubungan seks dengan pasangan yang memiliki banyak pasangan seks juga meningkatkan risiko Anda.

Usia

Kutil yang umum terjadi kebanyakan pada anak-anak. Kutil kelamin paling sering terjadi pada remaja dan dewasa muda.

Sistem kekebalan tubuh melemah

Orang yang memiliki sistem kekebalan yang lemah berisiko lebih besar terkena infeksi HPV. Sistem kekebalan dapat dilemahkan oleh HIV/AIDS atau oleh obat penekan sistem kekebalan — imunosupresan — yang digunakan setelah transplantasi organ.

Kulit rusak

Area kulit yang telah tertusuk atau terbuka lebih rentan untuk mengembangkan kutil biasa.

Kontak langsung

Menyentuh kutil seseorang atau tidak mengenakan pelindung sebelum menyentuh permukaan yang telah terpapar HPV - seperti kamar mandi umum atau kolam renang - dapat meningkatkan risiko infeksi HPV.

Komplikasi

Lesi mulut dan saluran pernapasan atas

Beberapa infeksi HPV menyebabkan lesi di lidah, amandel, langit-langit lunak (palatum mole), atau di dalam laring dan hidung.

Kanker

Strain HPV tertentu dapat menyebabkan kanker serviks. Strain ini mungkin juga berkontribusi terhadap kanker alat kelamin, anus, mulut, dan saluran pernapasan bagian atas.

Diagnosis

Umumnya, Dokter akan dapat mendiagnosis infeksi HPV dengan melihat kutil kamu.

Jika kutil kelamin tidak terlihat, beberapa pemeriksaan penunjang berikut mungkin diperlukan:

Tes larutan cuka (asam asetat)

Larutan cuka asam asetat yang dioleskan ke area genital yang terinfeksi HPV mengubahnya menjadi putih. Metode Inspeksi Visual Asetat (IVA) ini dapat membantu dalam mengidentifikasi lesi datar yang sulit dilihat. Pemeriksaan ini juga masih digunakan sebagai skrining kanker serviks pada daerah-daerah yang belum memiliki sarana dan prasarana pemeriksaan yang lebih mutakhir.

Tes Pap / Pap Smear

Pengambilan sampel sel (swab specimen) dari serviks atau vagina untuk dikirim ke analis laboratorium. Tes Pap (Papanicolau Test) dapat mengungkapkan perubahan seluler yang berpotensi menyebabkan kanker.

Tes DNA HPV

Tes ini, yang dilakukan pada sel-sel dari leher rahim (serviks) Anda, dapat mengenali DNA dari varietas HPV berisiko tinggi yang dikaitkan dengan kanker genital. Dianjurkan untuk wanita berusia 30 tahun ke atas sebagai tambahan Tes Pap.

Pengobatan

Kutil umumnya dapat hilang sendiri (regresi) tanpa pengobatan, terutama pada anak-anak. Namun, belum ada obat untuk menghilangkan virus tersebut, sehingga dapat muncul kembali di tempat yang sama atau di tempat lain (rekurensi).

Obat-obatan

Obat untuk menghilangkan kutil biasanya diterapkan langsung ke lesi dan biasanya membutuhkan banyak aplikasi sebelum berhasil. Contohnya termasuk:

  • Asam salisilat
    Perawatan over-the-counter yang mengandung asam salisilat bekerja dengan menghilangkan lapisan kutil sedikit demi sedikit. Untuk digunakan pada kutil biasa, asam salisilat dapat menyebabkan iritasi kulit dan tidak untuk digunakan pada wajah Anda.
  • Imiquimod
    Krim resep ini dapat meningkatkan kemampuan sistem kekebalan Anda untuk melawan HPV. Efek samping yang umum termasuk kemerahan dan pembengkakan di situs aplikasi.
  • Podofiloks
    Resep topikal lainnya, podofilox bekerja dengan menghancurkan jaringan kutil kelamin. Podofilox dapat menyebabkan rasa terbakar dan gatal di tempat yang dioleskan.
  • Asam trikloroasetat
    Perawatan kimia ini membakar kutil di telapak tangan, telapak kaki dan alat kelamin. Ini dapat menyebabkan iritasi lokal.

Pembedahan dan Intervensi Lainnya

Jika pengobatan tidak berhasil, dokter mungkin akan menyarankan untuk menghilangkan kutil dengan salah satu metode berikut:

  • Pembekuan dengan nitrogen cair (krioterapi)
  • Pembakaran dengan arus listrik (elektrokauter)
  • Operasi pengangkatan
  • Operasi laser

Pengobatan HPV Pada Serviks

Jika kamu memiliki tes HPV DNA atau tes Pap yang tidak normal, dokter kandunganmu akan melakukan prosedur yang disebut kolposkopi. Dengan menggunakan alat yang memberikan tampilan serviks yang diperbesar (colposcope), dokter Anda akan mengamati serviks dengan cermat dan mengambil sampel (biopsi) area mana pun yang terlihat tidak normal.

Setiap lesi prakanker perlu diangkat. Pilihannya termasuk pembedahan beku (cryosurgery), laser, operasi pengangkatan, prosedur eksisi bedah elektro loop (LEEP) dan konisasi pisau dingin. LEEP menggunakan kawat melingkar tipis yang diisi dengan arus listrik untuk menghilangkan lapisan tipis dari bagian serviks dan konisasi pisau dingin adalah prosedur pembedahan yang mengangkat bagian serviks yang berbentuk kerucut.

Home Remedy

Tidak ada rekomendasi pengobatan yang dapat dilakukan sendiri di rumah.

Kutil Biasa

Sulit untuk mencegah infeksi HPV yang menyebabkan kutil biasa. Jika kamu memiliki kutil biasa, kamu dapat mencegah penyebaran infeksi dan pembentukan kutil baru dengan tidak mengorek kutil dan tidak menggigit kuku Anda.

Kutil Plantar

Untuk mengurangi risiko tertular infeksi HPV penyebab kutil plantar, kenakan sepatu atau sandal di kolam renang umum dan ruang ganti.

Kutil Kelamin

Kamu bisa mengurangi risiko terjadinya kutil kelamin dan lesi genital terkait HPV lainnya dengan:

  • Berada dalam hubungan seksual monogami
  • Mengurangi jumlah pasangan seks
  • Menggunakan kondom lateks, yang dapat mengurangi risiko penularan HPV

Vaksinasi HPV

Vaksinasi HPV dapat digunakan oleh laki-laki dan perempuan untuk melindungi dari kutil kelamin, kanker serviks, dan kanker terkait HPV lainnya.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia baru-baru ini mengumumkan, vaksin HPV sudah bisa diterima secara gratis oleh anak perempuan kelas lima dan enam SD di seluruh wilayah Indonesia mulai 2023. Ini merupakan program lanjutan setelah hanya digratiskan di delapan provinsi pada tahun 2022 lalu.

Sangat ideal bagi anak perempuan dan laki-laki untuk menerima vaksin sebelum mereka melakukan kontak seksual dan terpapar HPV. Penelitian telah menunjukkan bahwa menerima vaksin pada usia muda tidak terkait dengan aktivitas seksual yang dimulai lebih awal.

lindungi diri sendiri lindungi masa depan bangsa

Respons terhadap vaksin lebih baik pada usia yang lebih muda daripada yang lebih tua. Namun, jika diberikan sebelum seseorang terinfeksi, vaksin tersebut dapat mencegah sebagian besar kasus kanker serviks.

Vaksin HPV direkomendasikan untuk diberikan bagi anak berusia 9 hingga 14 tahun sebanyak dua dosis vaksin HPV setidaknya dalam jarak enam bulan. Penelitian telah menunjukkan bahwa jadwal dua dosis efektif untuk anak di bawah 15 tahun.

Remaja dan dewasa muda yang memulai seri vaksin pada usia 15 hingga 26 tahun, harus terus menerima tiga dosis vaksin dengan mengikuti jadwal pemberian di bulan ke-0, 2, dan 6. Vaksin HPV susulan direkomendasikan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) untuk diberikan kepada perempuan hingga usia 55 tahun yang belum menerima vaksinasi lengkap.

Baru-baru penggunaan vaksin HPV 4 strain dan vaksin HPV 9 strain disetujui untuk laki-laki hingga 45 tahun, dari sebelumnya dibatasi hingga usia 26 tahun. Jika Anda berusia 27 hingga 45 tahun, konsultasikan dengan dokter vaksinolog mu untuk dapat segera melengkapi vaksin HPV.

Mengendalikan Penyebaran Infeksi

Tidak ada metode pencegahan tunggal yang 100% efektif, termasuk vaksinasi, jadi penting juga untuk menerapkan beberapa langkah berikut untuk mengurangi penyebaran infeksi, termasuk:

  • Segera lengkapi vaksinasi
    Vaksin HPV dapat mencegah sebagian besar kasus kanker serviks, vagina, vulva, dan dubur.
  • Gunakan kondom
    Penggunaan kondom secara konsisten dapat melindungi wanita dari infeksi HPV.
  • Hindari kontak langsung
    Cara paling pasti untuk mencegah infeksi HPV genital adalah menahan diri dari kontak genital dengan orang lain
  • Lakukan pemeriksaan rutin
    Infeksi HPV dapat didiagnosis dengan tes Pap, yang memeriksa kanker atau perubahan prakanker serviks, atau tes molekuler yang mencari DNA HPV. Baru-baru ini, permintaan tes Pap anal juga mulai meningkat dan dapat dilakukan kepada siapapun yang membutuhkannya.
HPV
What are your Feelings

Bagikan Artikel Ini:

  • Facebook
  • X
  • LinkedIn
  • Pinterest
Updated on Juni 18, 2023
Influenza (Flu)Tuberkulosis

Powered by BetterDocs

Table of Contents
  • Ringkasan
  • Gejala HPV
    • Kutil kelamin (Genital Warts)
    • Kutil biasa (Common Warts)
    • Kutil plantar (Plantar Warts)
    • Kutil datar (Flat Warts)
  • Kanker Serviks dan Kanker Terkait HPV Lainnya
  • Kapan harus berobat?
  • Penyebab
    • Klasifikasi
    • Replikasi dan Infektivitas
  • Faktor Risiko
    • Jumlah pasangan seksual
    • Usia
    • Sistem kekebalan tubuh melemah
    • Kulit rusak
    • Kontak langsung
  • Komplikasi
    • Lesi mulut dan saluran pernapasan atas
    • Kanker
  • Diagnosis
    • Tes larutan cuka (asam asetat)
    • Tes Pap / Pap Smear
    • Tes DNA HPV
  • Pengobatan
    • Obat-obatan
    • Pembedahan dan Intervensi Lainnya
    • Pengobatan HPV Pada Serviks
  • Home Remedy
  • Kutil Biasa
  • Kutil Plantar
  • Kutil Kelamin
  • Vaksinasi HPV
  • Mengendalikan Penyebaran Infeksi

Follow Us

Facebook-f Twitter Instagram

Layanan

  • Vaksinasi
  • Laboratorium
  • Konsultasi

Solusi

  • Vaksinologi 101
  • Analisis Risiko
  • Jadwal Imunisasi

Cari Klinik

Google Maps

Copyright @2017 – PT Visi Indonesia Pancacita

Home

Book

Cart

Chat

Profile

✕
 
Kembali ke katalog