Vaksin BCG SSI Kering

Rp669.000,00

Paket ≥ 20 pax (Kelompok/Perusahaan/Haji atau Umroh) : IDR. Call Us

Jadwalkan Layanan

Deskripsi

  • Ringkasan
  • Anjuran
  • Kandungan
  • Efikasi
  • Indikasi
  • Keamanan

Vaksin BCG SSI Kering – Vaksin Tuberkulosis (Danish Strain 1331)

Vaksin BCG SSI Kering adalah vaksin tuberkulosis hidup yang dilemahkan (live attenuated) yang mengandung Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331. Vaksin ini digunakan untuk imunisasi aktif terhadap tuberkulosis (TB), terutama untuk membantu melindungi bayi dan anak dari bentuk TB berat seperti meningitis tuberkulosis dan tuberkulosis milier.

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan terutama menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mengenai otak, tulang, kelenjar getah bening, serta organ lainnya. Penularan terjadi melalui udara ketika penderita TB paru atau laring yang menular mengeluarkan partikel infeksius.

Bayi dan anak kecil memiliki risiko lebih tinggi mengalami TB berat dan penyebaran infeksi ke berbagai organ.

Berbeda dari vaksin yang menggunakan bakteri mati, vaksin BCG SSI mengandung bakteri hidup yang telah dilemahkan dan diberikan melalui suntikan intradermal (ID), yaitu ke lapisan kulit. Vaksinasi BCG dianjurkan sejak dini sesuai jadwal imunisasi nasional untuk membantu membentuk respons kekebalan seluler terhadap tuberkulosis.


Siapa yang disarankan:

  • Bayi baru lahir: dianjurkan menerima vaksinasi BCG sedini mungkin sesuai jadwal imunisasi nasional, setelah dinyatakan layak secara klinis.
  • Bayi yang belum menerima vaksin BCG: termasuk bayi yang terlambat mendapatkan imunisasi, dengan mempertimbangkan usia, riwayat paparan TB, dan kebutuhan pemeriksaan sebelum vaksinasi.
  • Anak dengan risiko paparan tuberkulosis: terutama yang tinggal di wilayah dengan angka kejadian TB tinggi, selama belum terinfeksi dan tidak memiliki kontraindikasi.
  • Anak yang tinggal bersama atau memiliki kontak erat dengan penderita TB: memerlukan evaluasi untuk menyingkirkan infeksi atau penyakit TB aktif sebelum vaksinasi. Vaksin BCG bukan pengganti investigasi kontak maupun terapi pencegahan TB apabila diindikasikan.
  • Vaksinasi BCG Dewasa: Individu yang belum pernah menerima BCG dengan risiko paparan khusus: pada keadaan tertentu, vaksinasi dapat dipertimbangkan berdasarkan rekomendasi resmi, hasil pemeriksaan tuberkulin atau IGRA bila relevan, dan evaluasi dokter. Vaksinasi BCG Dewasa tidak dilakukan secara rutin, namun melalui pertimbangan manfaat.

Perhatian: vaksin BCG merupakan bagian dari imunisasi rutin bayi di Indonesia. Namun, bayi dengan dugaan gangguan kekebalan tubuh, infeksi HIV, atau paparan TB yang bermakna memerlukan penilaian khusus sebelum vaksinasi karena BCG merupakan vaksin hidup.


Manfaat utama:

  • Mencegah bentuk tuberkulosis berat pada anak: membantu mengurangi risiko meningitis TB dan TB milier, yaitu bentuk penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan permanen atau kematian.
  • Perlindungan sejak awal kehidupan: pemberian BCG pada masa bayi bertujuan membentuk respons imun sebelum anak mengalami paparan tuberkulosis.
  • Merangsang kekebalan seluler: BCG mengaktifkan respons imun yang melibatkan limfosit T dan makrofag, yang berperan dalam pengendalian infeksi mikobakteri.
  • Mengurangi risiko penyebaran infeksi: respons imun yang terbentuk membantu tubuh membatasi perkembangan dan penyebaran bakteri tuberkulosis ke organ lain.
  • Hanya membutuhkan satu dosis rutin: pada anak yang memenuhi syarat, vaksinasi BCG umumnya diberikan satu kali tanpa booster rutin.
  • Perlindungan terhadap komplikasi serius: manfaat BCG paling konsisten terlihat pada pencegahan bentuk TB berat pada anak, sedangkan perlindungan terhadap TB paru dan infeksi TB secara umum lebih bervariasi.
  • Bagian dari program pengendalian TB: vaksinasi BCG melengkapi upaya deteksi dini, investigasi kontak, terapi pencegahan TB, pengobatan TB aktif, dan pengendalian penularan.

Regimen & waktu terbaik:

  • Imunisasi Primer (Bayi Usia di Bawah 12 Bulan)
    • Dosis: satu dosis 0,05 mL intradermal (ID) setelah vaksin direkonstitusi.
    • Waktu pemberian: dianjurkan sedini mungkin setelah lahir sesuai jadwal imunisasi nasional dan penilaian klinis.
    • Lokasi suntikan: lapisan kulit pada daerah lengan atas, umumnya lengan kanan, sesuai prosedur imunisasi dan teknik intradermal yang benar.
    • Jumlah dosis: satu dosis rutin. Booster BCG tidak direkomendasikan secara rutin.
  • Anak Usia 12 Bulan ke Atas dan Vaksinasi BCG Dewasa (Indikasi Khusus)
    • Dosis sesuai informasi produk: satu dosis 0,1 mL intradermal (ID) setelah rekonstitusi.
    • Indikasi: pemberian pada kelompok usia ini harus berdasarkan rekomendasi resmi, status vaksinasi sebelumnya, risiko paparan TB, dan evaluasi dokter.
    • Pemeriksaan sebelum vaksinasi: pemeriksaan tuberkulin atau evaluasi TB lainnya dapat diperlukan, terutama pada individu yang lebih besar atau memiliki riwayat paparan.
    • Catatan: dosis 0,1 mL dalam informasi produk tidak berarti vaksin BCG dianjurkan secara rutin bagi semua remaja dan orang dewasa.
  • Imunisasi Kejar (Catch-up)
    • Bayi atau anak yang belum pernah mendapatkan BCG perlu dievaluasi berdasarkan usia, riwayat kontak TB, gejala klinis, dan status imun.
    • Di Indonesia, bayi yang terlambat menerima BCG dapat memerlukan uji tuberkulin terlebih dahulu sesuai batas usia dan pedoman imunisasi yang berlaku.
    • Apabila terdapat dugaan infeksi atau penyakit TB, lakukan evaluasi dan penanganan yang sesuai sebelum mempertimbangkan vaksinasi.
    • Tidak diperlukan pengulangan BCG secara rutin hanya karena bekas luka atau parut vaksinasi tidak terlihat.
  • Kontak Erat dengan Penderita Tuberkulosis
    • Anak yang memiliki kontak erat dengan penderita TB menular perlu menjalani investigasi kontak dan evaluasi infeksi TB.
    • Jika ditemukan penyakit TB aktif, pasien membutuhkan pengobatan TB, bukan vaksinasi sebagai terapi.
    • Jika terdapat indikasi terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), jadwal BCG harus disesuaikan dengan pedoman dan keputusan dokter.
  • Waktu ideal: pemberian BCG dianjurkan sedini mungkin setelah lahir, sesuai jadwal imunisasi nasional, untuk membangun perlindungan terhadap bentuk TB berat sejak masa bayi. Pada individu yang terlambat mendapatkan vaksin, kebutuhan pemeriksaan dan kelayakan vaksinasi harus dinilai terlebih dahulu.

Perbedaan vaksin BCG dan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT): vaksin BCG bertujuan membentuk kekebalan sebelum terjadi penyakit, terutama untuk mengurangi risiko TB berat pada anak. Sementara itu, TPT menggunakan obat antituberkulosis pada individu tertentu yang berisiko mengalami perkembangan penyakit setelah terpapar atau terinfeksi TB. Keduanya memiliki tujuan dan indikasi berbeda. BCG tidak menggantikan TPT, pemeriksaan TB, maupun pengobatan TB aktif.


Keamanan & perhatian ringkas:

  • Profil keamanan: BCG telah digunakan secara luas selama puluhan tahun dalam program imunisasi. Pada individu dengan sistem imun yang baik, reaksi pascavaksinasi umumnya bersifat lokal dan dapat sembuh dengan sendirinya.
  • Reaksi lokal yang diharapkan: muncul benjolan kecil atau kemerahan di lokasi suntikan yang dapat berkembang menjadi lepuhan atau luka kecil dalam beberapa minggu, kemudian mengering dan meninggalkan parut BCG.
  • Waktu penyembuhan: reaksi lokal dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga bulan. Bekas parut kecil merupakan temuan yang umum, tetapi tidak terbentuknya parut bukan bukti bahwa vaksinasi gagal.
  • Efek samping lainnya: dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening regional, terutama di ketiak pada sisi suntikan. Pembengkakan yang besar, bernanah, atau menetap memerlukan pemeriksaan medis.
  • Komplikasi jarang: abses di lokasi suntikan, limfadenitis supuratif, osteitis, osteomielitis, atau infeksi BCG yang menyebar. Risiko komplikasi berat meningkat pada pasien dengan gangguan kekebalan tubuh.
  • Kontraindikasi: hipersensitivitas berat terhadap komponen vaksin, imunodefisiensi seluler atau gangguan imun berat, serta penggunaan terapi imunosupresif tertentu. Kondisi terkait HIV harus dinilai mengikuti pedoman klinis terkini.
  • Penundaan vaksinasi: penyakit akut berat dengan demam, infeksi kulit luas, atau kondisi medis yang belum stabil memerlukan penundaan atau evaluasi lebih lanjut.
  • Pasien yang sedang menjalani pengobatan TB: BCG tidak diberikan sebagai terapi atau pengganti pengobatan antituberkulosis.
  • Perawatan luka: jaga lokasi suntikan tetap bersih dan kering. Jangan memencet benjolan, mengoleskan obat tanpa indikasi, atau menutup luka dengan plester kedap secara rutin.
  • Teknik pemberian: vaksin harus disuntikkan secara intradermal oleh tenaga kesehatan terlatih. Penyuntikan terlalu dalam dapat meningkatkan risiko abses dan komplikasi lokal.

Komposisi Vaksin BCG SSI Kering (ringkas)

Zat aktif: Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331, hidup yang dilemahkan.

Setelah rekonstitusi, kandungan antigen per dosis adalah:

  • Bayi usia di bawah 12 bulan: 0,05 mL mengandung sekitar 1–4 × 105 CFU BCG hidup yang dilemahkan.
  • Anak usia 12 bulan ke atas dan dewasa: 0,1 mL mengandung sekitar 2–8 × 105 CFU BCG hidup yang dilemahkan.
  • CFU (Colony Forming Units): satuan untuk menyatakan jumlah bakteri hidup yang mampu membentuk koloni dalam kondisi pengujian tertentu.
  • Eksipien dan komponen formulasi:
    • Natrium glutamat (sodium glutamate).
    • Magnesium sulfat heptahidrat (magnesium sulphate heptahydrate).
    • Dikalium fosfat (dipotassium phosphate).
    • Asam sitrat monohidrat (citric acid monohydrate).
    • L-asparagin monohidrat (L-asparagine monohydrate).
    • Feri amonium sitrat (ferric ammonium citrate).
    • Gliserol 85% (glycerol 85%).
    • Air untuk injeksi (water for injection).
  • Bentuk sediaan: vaksin beku-kering (freeze-dried/lyophilised) yang harus direkonstitusi menggunakan pelarut khusus yang disediakan untuk produk sebelum penyuntikan.
  • Karakteristik: mengandung bakteri hidup yang dilemahkan, sehingga tidak boleh diberikan kepada individu dengan kontraindikasi imunologis tertentu.
  • Informasi lengkap mengenai zat aktif, bahan tambahan, dan karakteristik sediaan tersedia pada tab Kandungan.

Pemberian Vaksin BCG SSI Kering dengan Vaksin Lain

Vaksin BCG SSI Kering dapat diberikan pada kunjungan yang sama dengan sejumlah vaksin rutin, termasuk vaksin yang mengandung difteri, pertusis, tetanus, polio, dan campak, sesuai informasi produk dan pedoman imunisasi yang berlaku.

Secara prinsip, vaksin BCG juga dapat diberikan bersama vaksin hidup maupun inaktif lainnya apabila memenuhi persyaratan imunisasi. Untuk vaksin hidup suntik tertentu yang tidak diberikan pada hari yang sama, interval antarpemberian perlu mengikuti pedoman imunisasi yang berlaku.

Vaksin lain tidak boleh disuntikkan pada lokasi yang sama dengan BCG. Sebaiknya gunakan lengan yang berbeda untuk vaksin injeksi lain pada kunjungan yang sama. Hindari penyuntikan vaksin lain pada lengan yang telah menerima BCG selama periode penyembuhan sesuai informasi produk dan pertimbangan tenaga kesehatan.

BCG tidak boleh dicampurkan dengan vaksin atau obat lain dalam satu spuit. Rekonstitusi harus menggunakan pelarut khusus yang disediakan untuk produk, dan pemberian harus dilakukan melalui rute intradermal oleh tenaga kesehatan terlatih.


Vaksin saat hamil / menyusui:

Kehamilan: vaksin BCG merupakan vaksin hidup yang dilemahkan dan secara umum tidak direkomendasikan selama kehamilan. Pada individu hamil yang memiliki risiko paparan TB, evaluasi dan strategi pencegahan harus ditentukan oleh dokter berdasarkan pedoman klinis.

Menyusui: vaksin BCG tidak diberikan secara rutin kepada ibu menyusui. Kebutuhan vaksinasi pada orang dewasa harus dinilai berdasarkan indikasi khusus dan pertimbangan manfaat–risiko.

Bayi yang menerima ASI: pemberian ASI bukan kontraindikasi vaksinasi BCG. Bayi dapat tetap menerima ASI sebelum dan setelah imunisasi apabila memenuhi syarat klinis untuk menerima vaksin.

Perhatian khusus: bayi yang terpapar obat imunosupresif tertentu selama kehamilan atau melalui ASI memerlukan evaluasi sebelum menerima vaksin BCG, karena beberapa terapi dapat memengaruhi fungsi kekebalan tubuh bayi.


Kemasan :

vaksin bcg ssi - vaksin tuberkulosis vaksin tb kemasan

Bentuk sediaan: serbuk atau massa kristalin putih hasil proses beku-kering (freeze-dried) dalam vial, disertai pelarut khusus untuk menghasilkan suspensi injeksi setelah rekonstitusi.

Isi per vial: setelah rekonstitusi dengan pelarut sesuai petunjuk produk, satu vial menghasilkan suspensi vaksin multidose. Volume 1 mL secara nominal setara dengan:

  • 20 dosis bayi masing-masing 0,05 mL; atau
  • 10 dosis masing-masing 0,1 mL untuk usia 12 bulan ke atas.

Jumlah dosis yang dapat diambil dalam praktik bergantung pada teknik penyiapan dan volume sisa dalam vial.

Penyimpanan: simpan vaksin beku-kering pada suhu 2–8 °C, terlindung dari cahaya. Jangan membekukan pelarut. Ikuti ketentuan penyimpanan dan rantai dingin yang tercantum pada kemasan resmi produk.

Setelah rekonstitusi: vaksin sebaiknya digunakan segera dan harus dilindungi dari cahaya. Sisa suspensi yang tidak digunakan harus dibuang setelah sesi imunisasi, dengan batas maksimal 4 jam setelah rekonstitusi sesuai informasi produk, atau lebih cepat jika ketentuan penanganan vaksin yang berlaku mengharuskannya.

Penanganan: gunakan hanya pelarut yang disediakan untuk produk. Rekonstitusi dan pengambilan dosis harus dilakukan secara aseptik oleh tenaga kesehatan terlatih. Jangan menggunakan vaksin apabila ditemukan kerusakan kemasan, perubahan penampilan yang tidak normal, atau vaksin telah melewati tanggal kedaluwarsa.

Merek: BCG Vaccine SSI (Danish Strain 1331)

Diproduksi oleh: Statens Serum Institut (SSI), Denmark

Diimpor ke Indonesia oleh: PT Bio Farma (Persero), berdasarkan informasi produk BCG SSI yang diterbitkan BPOM

Anjuran Pemberian & Rekomendasi Dosis

Siapa yang Dianjurkan

  • Bayi baru lahir hingga usia 1 bulan yang belum menerima imunisasi BCG, untuk membentuk perlindungan terhadap tuberkulosis (TB) berat, terutama meningitis TB dan TB milier.
  • Bayi yang menjalani imunisasi rutin, sesuai jadwal imunisasi nasional Indonesia. BCG dianjurkan sedini mungkin setelah lahir, dengan sasaran pemberian pada usia kurang dari 1 bulan.
  • Bayi dan anak yang belum pernah menerima BCG, termasuk yang terlambat mendapatkan imunisasi, setelah mempertimbangkan usia, riwayat paparan TB, status kekebalan tubuh, dan kebutuhan pemeriksaan tuberkulin.
  • Anak yang tinggal di wilayah dengan penularan TB tinggi, terutama apabila belum pernah divaksinasi dan tidak memiliki kontraindikasi.
  • Anak dengan risiko paparan TB dalam keluarga atau lingkungan: memerlukan evaluasi untuk menyingkirkan infeksi atau penyakit TB sebelum vaksinasi. Jika terdapat indikasi terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), penanganan mengikuti pedoman TB anak.
  • Kelompok usia lebih besar dengan indikasi khusus: vaksinasi BCG Dewasa dapat dipertimbangkan pada individu yang belum pernah divaksinasi dan memiliki risiko tertentu, berdasarkan rekomendasi resmi, hasil evaluasi TB, dan keputusan dokter. BCG tidak dianjurkan secara rutin untuk seluruh remaja atau orang dewasa, namun melalui pertimbangan manfaat.

Siapa yang Perlu Ditunda/Pertimbangkan

  • Penyakit akut berat dengan demam atau kondisi klinis yang belum stabil → tunda vaksinasi hingga kondisi membaik. Infeksi ringan tanpa gangguan kondisi umum biasanya bukan alasan penundaan.
  • Riwayat anafilaksis terhadap vaksin BCG atau komponen produk → merupakan kontraindikasi.
  • Imunodefisiensi berat, termasuk Severe Combined Immunodeficiency (SCID), gangguan imunitas seluler berat, atau kondisi imunokompromais bermakna → kontraindikasi karena BCG mengandung bakteri hidup yang dilemahkan.
  • Infeksi HIV pada bayi atau anak: memerlukan evaluasi khusus. BCG tidak diberikan pada anak dengan infeksi HIV yang telah terkonfirmasi. Bayi yang terpapar HIV tetapi status infeksinya belum diketahui harus mengikuti pedoman nasional dan penilaian dokter sebelum vaksinasi.
  • Terapi imunosupresif, termasuk kortikosteroid sistemik dosis imunosupresif, kemoterapi, atau obat biologis tertentu → vaksinasi perlu ditunda atau dihindari sesuai jenis terapi dan kondisi imun pasien.
  • Riwayat paparan obat biologis selama kehamilan: bayi yang terpapar obat imunosupresif tertentu, misalnya penghambat TNF-alfa, memerlukan evaluasi sebelum menerima BCG.
  • Infeksi TB aktif atau dugaan infeksi TB: lakukan pemeriksaan dan penanganan sesuai pedoman. BCG tidak digunakan sebagai pengobatan TB.
  • Penggunaan obat antituberkulosis: pasien yang sedang menjalani pengobatan TB tidak diberikan BCG sebagai pengganti atau tambahan terapi tanpa indikasi khusus.
  • Infeksi kulit luas atau kelainan kulit pada lokasi penyuntikan: memerlukan evaluasi dan kemungkinan penundaan sampai kondisi memungkinkan.

Jadwal & Dosis (ID 0,05 mL / 0,1 mL)

  • Imunisasi Primer (Bayi Usia <12 Bulan)
    • Dosis: satu kali pemberian 0,05 mL intradermal (ID) setelah rekonstitusi.
    • Kandungan: sekitar 1–4 × 105 CFU Mycobacterium bovis BCG Danish Strain 1331 hidup yang dilemahkan per dosis 0,05 mL.
    • Waktu pemberian: dianjurkan sedini mungkin setelah lahir, dengan sasaran usia kurang dari 1 bulan berdasarkan rekomendasi imunisasi Indonesia.
    • Lokasi: lapisan kulit lengan atas sesuai teknik intradermal dan prosedur imunisasi yang berlaku.
    • Jumlah dosis: 1 dosis. Tidak diperlukan rangkaian dosis berulang atau booster rutin.
  • Anak Usia ≥12 Bulan dan Dewasa (Indikasi Khusus)
    • Dosis sesuai informasi produk: satu kali pemberian 0,1 mL intradermal (ID) setelah rekonstitusi.
    • Kandungan: sekitar 2–8 × 105 CFU BCG Danish Strain 1331 hidup yang dilemahkan per dosis 0,1 mL.
    • Persyaratan: pemberian hanya dilakukan apabila terdapat indikasi berdasarkan rekomendasi resmi dan hasil evaluasi dokter.
    • Pemeriksaan sebelum vaksinasi: uji tuberkulin atau pemeriksaan TB lainnya dapat diperlukan untuk memastikan kelayakan vaksinasi.
    • Catatan: ketersediaan dosis 0,1 mL untuk kelompok usia lebih besar tidak berarti BCG direkomendasikan secara rutin bagi seluruh orang dewasa.
  • Imunisasi Kejar (Catch-up)
    • Bayi yang belum menerima BCG dianjurkan segera menjalani evaluasi agar vaksinasi tidak tertunda lebih lama.
    • Pada bayi berusia 3 bulan atau lebih yang belum mendapatkan BCG, uji tuberkulin dianjurkan sebelum vaksinasi sesuai pedoman imunisasi Indonesia.
    • Jika uji tuberkulin negatif dan tidak ditemukan kontraindikasi, vaksinasi dapat dipertimbangkan berdasarkan usia dan penilaian dokter.
    • Jika uji tuberkulin positif, diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk kemungkinan infeksi atau penyakit TB. BCG tidak diberikan sebagai pengobatan infeksi TB.
    • Catatan: keputusan vaksinasi kejar harus mengikuti pedoman nasional yang berlaku, terutama pada anak dengan riwayat kontak erat penderita TB atau kondisi imunologis khusus.
  • Kontak Erat dengan Penderita Tuberkulosis
    • Anak yang tinggal bersama atau memiliki kontak erat dengan penderita TB menular perlu menjalani investigasi kontak dan evaluasi TB sebelum vaksinasi.
    • Jika ditemukan penyakit TB aktif, berikan pengobatan antituberkulosis sesuai pedoman. Vaksin BCG tidak menggantikan pengobatan tersebut.
    • Jika penyakit TB aktif telah disingkirkan tetapi anak memenuhi kriteria terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), penanganan dan waktu vaksinasi perlu dikoordinasikan dengan dokter.
    • BCG bukan profilaksis pasca-pajanan yang dapat menggantikan investigasi kontak atau TPT.
  • Revaksinasi dan Booster
    • Booster BCG tidak direkomendasikan secara rutin setelah pemberian satu dosis yang sah.
    • Jika bekas luka BCG tidak terlihat, vaksinasi tidak perlu diulang secara otomatis. Tidak terbentuknya parut bukan bukti kegagalan perlindungan.
    • Apabila riwayat vaksinasi tidak jelas, evaluasi dokumentasi imunisasi dan kebutuhan vaksinasi berdasarkan pedoman serta keputusan dokter.
  • Waktu ideal: berikan BCG sedini mungkin setelah lahir, dengan sasaran usia kurang dari 1 bulan sesuai jadwal imunisasi Indonesia. Pada bayi yang terlambat menerima vaksin, pertimbangkan kebutuhan uji tuberkulin dan pemeriksaan TB sebelum pemberian. Setelah satu dosis BCG lengkap, booster rutin tambahan tidak diperlukan.

Koadministrasi (Pada Hari yang Sama)

  • BCG SSI dapat diberikan bersamaan dengan vaksin rutin bayi yang sesuai usia, termasuk vaksin Hepatitis B, polio, DTP, Hib, dan vaksin lainnya, berdasarkan rekomendasi imunisasi dan pertimbangan dokter.
  • BCG dapat diberikan pada hari yang sama dengan vaksin hidup maupun inaktif, termasuk vaksin campak, gondongan, dan rubela (MMR), apabila terdapat indikasi sesuai usia.
  • Jika BCG dan vaksin hidup suntik lainnya tidak diberikan pada hari yang sama, umumnya diperlukan interval minimal 4 minggu antara pemberian kedua vaksin hidup tersebut, sesuai informasi produk dan pedoman imunisasi.
  • Gunakan lokasi suntik berbeda. Vaksin lain yang diberikan bersamaan dengan BCG sebaiknya disuntikkan pada lengan yang berbeda. Hindari pemberian vaksin lain pada lengan yang telah menerima BCG selama 3 bulan untuk mengurangi risiko limfadenitis regional.
  • Jangan mencampurkan BCG dengan vaksin atau obat lain dalam satu spuit. Rekonstitusi hanya menggunakan pelarut yang disediakan untuk produk.
  • Interaksi dengan obat antituberkulosis: obat yang aktif terhadap mikobakteri dapat mengganggu viabilitas bakteri vaksin. Riwayat pengobatan TB harus diinformasikan kepada dokter sebelum imunisasi.

Siapa yang Perlu Konsultasi Dulu

  • Bayi yang terlambat mendapatkan BCG, terutama usia 3 bulan atau lebih, untuk menentukan kebutuhan uji tuberkulin sebelum vaksinasi.
  • Bayi atau anak dengan riwayat kontak erat penderita TB, termasuk anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan TB paru menular.
  • Gejala yang mengarah pada tuberkulosis, seperti batuk berkepanjangan, demam lama, berat badan sulit naik, penurunan berat badan, atau pembesaran kelenjar getah bening yang tidak jelas penyebabnya.
  • Riwayat alergi berat atau anafilaksis terhadap vaksin BCG atau komponen vaksin lainnya.
  • Gangguan sistem imun, termasuk dugaan SCID, imunodefisiensi primer, infeksi HIV, atau kondisi medis yang menyebabkan penurunan imunitas.
  • Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV, untuk menentukan status infeksi bayi dan kelayakan pemberian BCG berdasarkan pedoman klinis.
  • Riwayat penggunaan obat imunosupresif pada bayi atau paparan obat biologis tertentu selama kehamilan, terutama terapi yang dapat memengaruhi fungsi kekebalan tubuh bayi.
  • Bayi prematur atau bayi dengan kondisi medis kompleks, terutama yang masih menjalani perawatan intensif atau belum stabil secara klinis.
  • Riwayat vaksinasi BCG sebelumnya, termasuk apabila terdapat parut BCG tetapi dokumentasi vaksinasi tidak tersedia.
  • Riwayat hasil uji tuberkulin atau IGRA positif, untuk mengevaluasi kemungkinan infeksi TB sebelum mempertimbangkan vaksinasi.

Persiapan & Pasca-Vaksin

  • Informasikan riwayat imunisasi, alergi, penyakit kronis, kontak dengan penderita TB, status kekebalan tubuh, serta obat yang sedang digunakan. Bawa buku KIA atau catatan imunisasi apabila tersedia.
  • Tidak diperlukan puasa. Bayi dapat menerima ASI atau susu seperti biasa sebelum maupun setelah vaksinasi. Pastikan kondisi klinis memungkinkan untuk menerima vaksin hidup.
  • BCG diberikan melalui suntikan intradermal (ID) oleh tenaga kesehatan terlatih. Penyuntikan yang benar biasanya menimbulkan benjolan kecil atau gelembung pucat (wheal) segera setelah vaksin diberikan.
  • Reaksi lokal yang diharapkan: dalam beberapa minggu dapat muncul benjolan kemerahan yang berkembang menjadi lepuhan atau luka kecil, kemudian mengering dan meninggalkan parut BCG. Proses penyembuhan dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga bulan.
  • Perawatan lokasi suntikan: jaga area tetap bersih dan kering. Jangan memencet benjolan, menggaruk, mengoleskan antibiotik atau antiseptik tanpa indikasi, maupun menutup luka dengan plester kedap secara rutin.
  • Observasi minimal 15 menit setelah penyuntikan untuk memantau reaksi alergi segera atau keluhan akut lainnya.
  • Waspadai komplikasi: pembengkakan kelenjar getah bening yang besar atau bernanah, abses yang membesar, luka yang tidak kunjung membaik, demam berkepanjangan, atau kondisi umum yang memburuk memerlukan pemeriksaan dokter.
  • Tidak terbentuknya parut BCG bukan alasan otomatis untuk mengulang vaksinasi. Evaluasi dilakukan berdasarkan dokumentasi pemberian, teknik vaksinasi, dan pedoman imunisasi.
  • Catat tanggal vaksinasi, merek, nomor batch, dosis, dan lokasi suntikan dalam rekam medis serta dokumentasi imunisasi pasien. BCG umumnya diberikan satu kali tanpa booster rutin.

Zat Aktif

Nama produk: Vaksin BCG SSI Kering – BCG Vaccine SSI (Danish Strain 1331).

Tipe: Vaksin bakteri hidup yang dilemahkan (live attenuated bacterial vaccine) yang mengandung Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331. Vaksin ini digunakan untuk imunisasi aktif terhadap tuberkulosis (TB), terutama untuk membantu melindungi bayi dan anak dari bentuk TB berat, seperti meningitis tuberkulosis dan TB milier.

BCG SSI merupakan vaksin beku-kering (freeze-dried/lyophilised) yang harus direkonstitusi dengan pelarut khusus sebelum diberikan melalui suntikan intradermal (ID). Bakteri BCG yang telah dilemahkan merangsang pembentukan respons kekebalan seluler tanpa menggunakan bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab utama TB pada manusia.


Komposisi per dosis

Setelah rekonstitusi, Vaksin BCG SSI Kering mengandung bakteri BCG hidup yang dilemahkan dengan jumlah sesuai volume dosis dan kelompok usia penerima.

  • Zat aktif utama: Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331, hidup yang dilemahkan.
  • Bayi usia di bawah 12 bulan:
    • Volume dosis: 0,05 mL intradermal.
    • Kandungan bakteri hidup: 1–4 × 105 CFU per dosis.
    • Jumlah pemberian: satu dosis sesuai jadwal imunisasi dan penilaian klinis.
  • Anak usia 12 bulan ke atas dan dewasa (indikasi khusus):
    • Volume dosis: 0,1 mL intradermal.
    • Kandungan bakteri hidup: 2–8 × 105 CFU per dosis.
    • Jumlah pemberian: satu dosis apabila terdapat indikasi berdasarkan rekomendasi resmi dan evaluasi dokter.
  • Konsentrasi bahan aktif: informasi produk BCG SSI mencantumkan 0,75 mg Mycobacterium bovis BCG Danish Strain 1331 per 1 mL suspensi setelah rekonstitusi.
  • CFU (Colony Forming Units): satuan yang digunakan untuk memperkirakan jumlah bakteri hidup yang mampu membentuk koloni pada kondisi pengujian tertentu. Nilai CFU berbeda dari ukuran massa bakteri dalam miligram.
  • Eksipien / zat non-aktif: setiap 1 mL suspensi vaksin setelah rekonstitusi mengandung:
    • Sodium glutamate: 3,75 mg, digunakan sebagai bahan penstabil vaksin beku-kering.
    • Magnesium sulphate: 125 mikrogram.
    • Dipotassium phosphate: 125 mikrogram.
    • Citric acid monohydrate: 0,5 mg.
    • L-asparagine monohydrate: 1 mg.
    • Ferric ammonium citrate: 12,5 mikrogram.
    • Glycerol 85%: 18,4 mg.
    • Water for injection: hingga volume akhir 1 mL.
  • Adjuvan: tidak mengandung adjuvan aluminium. Respons imun dihasilkan oleh bakteri BCG hidup yang telah dilemahkan.
  • Pengawet dan antibiotik: formulasi BCG SSI tidak mencantumkan penambahan pengawet atau antibiotik sebagai komponen produk akhir.
  • Jenis vaksin: vaksin hidup yang dilemahkan, bukan vaksin inaktif. Oleh karena itu, pemberiannya memerlukan perhatian khusus pada individu dengan imunodefisiensi atau penggunaan terapi imunosupresif.

Sediaan & Penanganan

  • Bentuk sediaan: serbuk atau massa kristalin putih hasil proses beku-kering (lyophilised powder) dalam vial, disertai pelarut untuk menghasilkan suspensi injeksi setelah rekonstitusi.
  • Penampilan sebelum rekonstitusi:
    • Vaksin berupa serbuk kristalin putih dalam jumlah kecil, sehingga terkadang sulit terlihat pada dasar vial.
    • Pelarut berupa cairan jernih tidak berwarna dan tidak mengandung partikel yang terlihat.
  • Penampilan setelah rekonstitusi: suspensi homogen yang sedikit opalesen. Perubahan penampilan yang tidak sesuai dengan informasi produk harus dievaluasi sebelum penggunaan.
  • Rekonstitusi: gunakan pelarut khusus yang disediakan bersama vaksin. Jangan menggantinya dengan larutan lain atau mencampurkan vaksin dengan obat maupun vaksin lainnya.
  • Volume setelah rekonstitusi: satu vial dengan volume akhir 1 mL secara nominal setara dengan:
    • 20 dosis bayi masing-masing 0,05 mL; atau
    • 10 dosis masing-masing 0,1 mL untuk anak usia 12 bulan ke atas dan dewasa.
    • Jumlah dosis yang dapat diambil dalam praktik dapat dipengaruhi oleh volume sisa dan teknik penyiapan.
  • Rute pemberian: intradermal (ID) saja, yaitu ke lapisan kulit, menggunakan teknik dan peralatan yang sesuai oleh tenaga kesehatan terlatih.
  • Larangan rute: vaksin tidak boleh diberikan secara intravena, intramuskular, atau subkutan. Penyuntikan terlalu dalam dapat meningkatkan risiko abses dan komplikasi lokal.
  • Penyimpanan sebelum rekonstitusi: simpan pada suhu 2–8 °C dan terlindung dari cahaya. Jangan membekukan vaksin atau pelarut kecuali terdapat ketentuan khusus yang secara eksplisit diizinkan dalam informasi produk.
  • Setelah rekonstitusi: gunakan sesegera mungkin dengan teknik aseptik dan perlindungan dari cahaya. Batas penggunaan maksimum 4 jam setelah rekonstitusi berlaku apabila persyaratan penyimpanan dan penanganan produk terpenuhi; buang lebih cepat apabila terdapat ketentuan operasional yang lebih ketat.
  • Penanganan vial multidose: gunakan jarum dan spuit steril untuk setiap pengambilan dosis. Jangan menyimpan sisa vaksin rekonstitusi untuk sesi imunisasi berikutnya.
  • Stabilitas: karena mengandung bakteri hidup yang dilemahkan, potensi vaksin dipengaruhi oleh suhu, paparan cahaya, waktu setelah rekonstitusi, dan kepatuhan terhadap prosedur penanganan.
  • Perhatian khusus: BCG tidak boleh diberikan kepada individu dengan imunodefisiensi berat atau kontraindikasi lain yang tercantum dalam informasi produk. Pemeriksaan kelayakan klinis harus dilakukan sebelum vaksinasi.
  • Pembuangan: sisa vaksin, vial, jarum, dan bahan yang terkontaminasi harus ditangani sebagai limbah medis sesuai prosedur pengendalian infeksi dan ketentuan yang berlaku.

Kata kunci tercakup: Vaksin BCG SSI Kering, kandungan vaksin BCG, komposisi BCG SSI, zat aktif vaksin BCG, Mycobacterium bovis BCG, Danish Strain 1331, vaksin BCG hidup dilemahkan, BCG live attenuated, dosis BCG bayi 0,05 mL, dosis BCG 0,1 mL, CFU vaksin BCG, vaksin tuberkulosis, vaksin TB bayi, imunisasi BCG, BCG intradermal, vaksin BCG multidose, rekonstitusi vaksin BCG, penyimpanan vaksin BCG, vaksin BCG SSI Indonesia.

Efikasi & Perlindungan

Bagaimana melindungi:

  • Vaksin BCG SSI Kering mengandung Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331, yaitu bakteri hidup yang telah dilemahkan untuk merangsang respons kekebalan terhadap tuberkulosis (TB).
  • Aktivasi kekebalan seluler: setelah pemberian intradermal, bakteri BCG yang dilemahkan dikenali oleh sistem imun dan merangsang aktivitas makrofag, sel penyaji antigen, serta limfosit T yang berperan dalam pertahanan terhadap infeksi mikobakteri.
  • Pembentukan respons imun spesifik: vaksinasi membantu tubuh mengenali antigen mikobakteri sehingga sistem imun dapat merespons lebih efektif apabila terjadi paparan Mycobacterium tuberculosis di kemudian hari.
  • Perlindungan terhadap penyebaran infeksi: manfaat BCG paling konsisten terlihat pada penurunan risiko tuberkulosis milier dan meningitis tuberkulosis, yaitu bentuk TB berat yang terjadi ketika infeksi menyebar ke berbagai organ atau sistem saraf pusat.
  • Perlindungan terhadap TB paru: efektivitas BCG terhadap tuberkulosis paru lebih bervariasi dibandingkan perlindungannya terhadap bentuk TB berat pada anak. Vaksinasi tidak menjamin seseorang terhindar dari infeksi TB atau TB paru.
  • Perlindungan sejak masa bayi: pemberian BCG sedini mungkin bertujuan membangun respons imun sebelum bayi menghadapi risiko paparan TB yang bermakna.

Tingkat efektivitas (ringkas):

  • Perlindungan terhadap meningitis TB dan TB milier: berbagai penelitian dan analisis gabungan menunjukkan bahwa vaksin BCG dapat memberikan perlindungan sekitar 70–85% terhadap bentuk tuberkulosis berat pada anak, meskipun besarnya efek bervariasi menurut populasi, desain penelitian, dan jenis luaran yang dinilai.
  • Perlindungan terhadap TB secara keseluruhan: efektivitas BCG berbeda antarpenelitian dan wilayah geografis. Angka perlindungan tidak dapat disamakan untuk seluruh bentuk penyakit TB, kelompok usia, maupun kondisi epidemiologis.
  • Perlindungan terhadap TB paru: hasil penelitian menunjukkan variasi yang luas, mulai dari perlindungan rendah atau tidak terdeteksi hingga perlindungan yang bermakna pada populasi tertentu. Karena itu, BCG tidak dapat dianggap sebagai pencegahan yang sepenuhnya efektif terhadap TB paru.
  • Manfaat pada bayi dan anak kecil: kelompok ini memperoleh manfaat penting karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyebaran TB ke otak dan organ lain apabila terinfeksi.
  • Faktor yang memengaruhi efektivitas:
    • Usia dan kondisi sistem imun saat vaksinasi.
    • Riwayat paparan atau infeksi mikobakteri sebelum vaksinasi.
    • Perbedaan lingkungan dan epidemiologi tuberkulosis.
    • Variasi strain BCG, proses produksi, serta karakteristik penelitian.
    • Ketepatan dosis, teknik penyuntikan intradermal, dan kualitas penanganan vaksin.
  • Interpretasi angka efektivitas: angka tersebut merupakan estimasi dari penelitian vaksin BCG pada berbagai populasi, bukan jaminan perlindungan individual maupun angka efikasi khusus untuk setiap batch BCG SSI Danish Strain 1331.
  • Perlindungan tidak bersifat absolut: anak yang telah menerima BCG tetap dapat mengalami infeksi TB atau penyakit TB. Oleh karena itu, gejala yang mencurigakan dan riwayat kontak dengan penderita TB tetap harus dievaluasi secara medis.

Onset & durasi proteksi:

  • Awal pembentukan kekebalan: respons imun berkembang secara bertahap dalam beberapa minggu setelah vaksinasi. Perlindungan tidak terbentuk seketika setelah suntikan.
  • Perkembangan respons lokal: benjolan atau kemerahan pada lokasi suntikan dapat muncul setelah beberapa minggu, kemudian berkembang menjadi luka kecil dan parut BCG. Terbentuknya parut bukan ukuran langsung tingkat perlindungan terhadap tuberkulosis.
  • Perlindungan pada masa kanak-kanak: manfaat utama BCG adalah mengurangi risiko TB berat pada bayi dan anak, terutama pada tahun-tahun awal kehidupan.
  • Durasi perlindungan: sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perlindungan BCG dapat bertahan sekitar 10–15 tahun, dengan variasi yang cukup besar antarpenelitian. Beberapa penelitian menemukan perlindungan lebih lama pada populasi tertentu.
  • Penurunan perlindungan: efektivitas dapat berkurang seiring waktu dan tidak dapat diasumsikan tetap sama sepanjang hidup.
  • Booster: pemberian ulang BCG secara rutin tidak direkomendasikan karena bukti yang tersedia tidak menunjukkan manfaat tambahan yang konsisten dari revaksinasi.
  • Parut BCG: tidak munculnya bekas luka setelah vaksinasi tidak secara otomatis berarti vaksin gagal dan bukan alasan untuk melakukan revaksinasi tanpa evaluasi.

Vaksin BCG SSI Kering bukan terapi untuk infeksi atau penyakit tuberkulosis. Vaksin ini tidak dapat menyembuhkan TB aktif, menghilangkan infeksi TB laten, atau menggantikan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) pada individu yang memenuhi indikasi. Bayi atau anak yang telah menerima BCG tetap memerlukan evaluasi apabila mengalami kontak erat dengan penderita TB atau menunjukkan gejala yang mengarah pada tuberkulosis. Vaksinasi BCG juga tidak menjamin perlindungan 100% terhadap seluruh bentuk TB.


Kelompok manfaat terbesar:

  • Bayi baru lahir: kelompok prioritas imunisasi BCG karena perlindungan terhadap bentuk TB berat perlu dibangun sedini mungkin.
  • Bayi dan anak usia dini: memiliki risiko lebih tinggi mengalami meningitis TB dan TB milier dibandingkan kelompok usia yang lebih besar apabila terinfeksi tuberkulosis.
  • Anak yang tinggal di wilayah dengan angka kejadian TB tinggi: memperoleh manfaat dari imunisasi BCG sebagai bagian dari strategi pencegahan tuberkulosis.
  • Anak yang belum menerima imunisasi BCG: dapat memperoleh manfaat melalui imunisasi kejar apabila masih memenuhi indikasi, tidak memiliki kontraindikasi, dan telah menjalani pemeriksaan yang diperlukan.
  • Anak dengan risiko paparan TB di lingkungan keluarga: pencegahan melalui vaksinasi dapat menjadi bagian dari perlindungan kesehatan anak, tetapi kontak erat dengan penderita TB harus dievaluasi terlebih dahulu dan tidak boleh ditangani hanya dengan vaksinasi.
  • Program kesehatan masyarakat: vaksinasi BCG pada bayi membantu mengurangi beban bentuk TB berat pada anak, terutama di negara dengan beban tuberkulosis tinggi seperti Indonesia.

Kata kunci tercakup: Vaksin BCG SSI Kering, efikasi vaksin BCG, efektivitas vaksin BCG, perlindungan vaksin BCG, vaksin tuberkulosis bayi, vaksin TB anak, BCG Danish Strain 1331, manfaat imunisasi BCG, pencegahan meningitis TB, pencegahan TB milier, vaksin BCG untuk bayi baru lahir, efektivitas BCG terhadap TB paru, kekebalan setelah vaksin BCG, durasi perlindungan BCG, booster vaksin BCG, parut vaksin BCG, imunisasi tuberkulosis Indonesia.

Indikasi & Posologi

Indikasi

Vaksin BCG SSI Kering adalah vaksin bakteri hidup yang dilemahkan (live attenuated) yang mengandung Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331. Vaksin ini diindikasikan untuk imunisasi aktif terhadap tuberkulosis (TB), terutama untuk membantu mencegah bentuk TB berat pada bayi dan anak, seperti meningitis tuberkulosis dan TB milier.

Vaksinasi BCG merupakan bagian dari program imunisasi rutin di Indonesia dan dianjurkan sedini mungkin setelah lahir. Perlindungan terhadap TB paru dapat bervariasi, sehingga vaksinasi tidak menggantikan upaya pencegahan penularan, pemeriksaan TB, maupun pengobatan yang diperlukan.

  • Imunisasi rutin bayi: diberikan kepada bayi yang belum pernah menerima BCG, terutama pada usia kurang dari 1 bulan, sesuai jadwal imunisasi nasional.
  • Pencegahan TB berat pada anak: membantu mengurangi risiko meningitis TB, yaitu infeksi tuberkulosis pada selaput otak, dan TB milier, yaitu penyebaran infeksi TB ke berbagai organ.
  • Imunisasi kejar: dapat dipertimbangkan pada bayi atau anak yang belum pernah menerima BCG, setelah evaluasi usia, riwayat paparan TB, dan status kesehatan.
  • Anak di wilayah dengan beban TB tinggi: vaksinasi BCG merupakan bagian penting dari upaya pencegahan TB berat pada anak, termasuk di Indonesia.
  • Individu dengan risiko paparan khusus: pada kelompok usia lebih besar yang belum pernah divaksinasi, pemberian BCG hanya dipertimbangkan berdasarkan rekomendasi resmi, pemeriksaan yang diperlukan, dan keputusan dokter.
  • Kontak erat dengan penderita TB: memerlukan investigasi kontak dan evaluasi infeksi atau penyakit TB sebelum vaksinasi. BCG bukan pengganti terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) atau pengobatan TB aktif.

Posologi (Dosis & Jadwal)

Rute: intradermal (ID), yaitu penyuntikan ke lapisan kulit, menggunakan teknik yang benar oleh tenaga kesehatan terlatih.

Dosis: 0,05 mL untuk bayi usia di bawah 12 bulan dan 0,1 mL untuk anak usia 12 bulan ke atas serta dewasa dengan indikasi khusus, setelah vaksin direkonstitusi sesuai petunjuk produk.

Jumlah pemberian: 1 dosis. Tidak diperlukan booster atau revaksinasi rutin.

  • Imunisasi Primer (Bayi Usia <12 Bulan)
    • Dosis: 0,05 mL intradermal, satu kali pemberian.
    • Kandungan: sekitar 1–4 × 105 CFU BCG Danish Strain 1331 hidup yang dilemahkan per dosis.
    • Waktu ideal: sedini mungkin setelah lahir, dengan sasaran pemberian pada usia kurang dari 1 bulan sesuai jadwal imunisasi Indonesia.
    • Lokasi penyuntikan: daerah lengan atas, umumnya lengan kanan, sesuai prosedur imunisasi dan teknik intradermal yang benar.
    • Jadwal berikutnya: tidak ada dosis lanjutan rutin apabila satu dosis BCG telah diberikan dengan benar.
  • Anak Usia ≥12 Bulan dan Dewasa (Indikasi Khusus)
    • Dosis sesuai informasi produk: 0,1 mL intradermal, satu kali pemberian.
    • Kandungan: sekitar 2–8 × 105 CFU BCG Danish Strain 1331 hidup yang dilemahkan per dosis.
    • Indikasi: pemberian harus berdasarkan rekomendasi resmi dan evaluasi risiko individual. BCG tidak direkomendasikan sebagai imunisasi rutin bagi seluruh orang dewasa.
    • Evaluasi sebelum vaksinasi: dapat mencakup riwayat imunisasi, kontak TB, pemeriksaan tuberkulin, atau pemeriksaan lain sesuai kondisi klinis.
  • Imunisasi Kejar (Catch-up)
    • Bayi yang belum mendapatkan BCG dianjurkan segera menjalani evaluasi untuk menentukan kelayakan vaksinasi.
    • Pada bayi berusia 3 bulan atau lebih, uji tuberkulin dianjurkan sebelum pemberian BCG sesuai pedoman imunisasi Indonesia.
    • Jika hasil uji tuberkulin negatif dan tidak terdapat kontraindikasi, vaksinasi dapat dipertimbangkan berdasarkan usia dan penilaian dokter.
    • Jika hasil uji tuberkulin positif, lakukan evaluasi lebih lanjut terhadap kemungkinan infeksi atau penyakit TB. BCG tidak digunakan untuk mengobati infeksi TB.
    • Keputusan imunisasi kejar pada anak yang lebih besar harus mengikuti pedoman nasional yang berlaku.
  • Riwayat Kontak Erat dengan Penderita TB
    • Lakukan investigasi kontak dan evaluasi kemungkinan infeksi atau penyakit TB sebelum vaksinasi.
    • Apabila ditemukan penyakit TB aktif, berikan pengobatan antituberkulosis sesuai pedoman. Vaksin BCG tidak diberikan sebagai terapi.
    • Apabila anak memenuhi indikasi terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), penentuan waktu vaksinasi harus disesuaikan dengan penanganan TB dan keputusan dokter.
  • Booster dan Revaksinasi
    • Booster BCG tidak dianjurkan secara rutin karena bukti ilmiah belum menunjukkan manfaat tambahan yang konsisten dari pemberian ulang.
    • Tidak terbentuknya parut BCG setelah imunisasi bukan indikasi otomatis untuk mengulang vaksinasi.
    • Apabila dokumentasi imunisasi tidak tersedia atau terdapat keraguan mengenai pemberian sebelumnya, lakukan evaluasi sesuai pedoman imunisasi dan keputusan dokter.

Catatan Praktis

  • Vaksin hidup yang dilemahkan: BCG SSI mengandung bakteri hidup yang telah dilemahkan. Vaksin tidak boleh diberikan kepada individu dengan imunodefisiensi berat, termasuk Severe Combined Immunodeficiency (SCID), atau kondisi lain yang menjadi kontraindikasi.
  • Status HIV: bayi dengan infeksi HIV terkonfirmasi tidak boleh menerima BCG. Bayi yang terpapar HIV tetapi status infeksinya belum diketahui memerlukan penilaian sesuai pedoman nasional sebelum vaksinasi.
  • Teknik intradermal: penyuntikan harus dilakukan tepat ke lapisan kulit. Setelah pemberian yang benar, biasanya terbentuk benjolan kecil atau gelembung pucat (wheal) di lokasi suntikan.
  • Jangan diberikan melalui rute lain: BCG SSI tidak boleh disuntikkan secara intramuskular, subkutan, atau intravena. Teknik penyuntikan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko abses dan komplikasi lokal.
  • Reaksi lokal normal: beberapa minggu setelah vaksinasi dapat muncul benjolan, kemerahan, lepuhan, atau luka kecil yang kemudian mengering dan meninggalkan parut. Proses ini merupakan reaksi lokal yang umum setelah BCG.
  • Perawatan lokasi suntikan: jaga area tetap bersih dan kering. Jangan memencet benjolan, mengoleskan obat tanpa anjuran dokter, atau menutup luka dengan plester kedap secara rutin.
  • Tanda yang memerlukan evaluasi: abses yang membesar, pembengkakan kelenjar getah bening yang besar atau bernanah, luka yang tidak kunjung membaik, demam berkepanjangan, atau kondisi umum yang memburuk.
  • Pemberian bersama vaksin lain: BCG dapat diberikan bersama vaksin rutin yang sesuai usia. Gunakan lokasi suntikan berbeda dan hindari pemberian vaksin lain pada lengan yang sama selama 3 bulan setelah BCG sesuai informasi produk.
  • Rekonstitusi: gunakan hanya pelarut khusus yang disediakan bersama vaksin. Setelah rekonstitusi, vaksin harus ditangani secara aseptik, terlindung dari cahaya, dan digunakan sesuai batas waktu dalam informasi produk.
  • Observasi pascavaksin: lakukan pemantauan minimal 15 menit setelah penyuntikan untuk mendeteksi kemungkinan reaksi alergi segera atau keluhan akut lainnya.
  • Dokumentasi: catat tanggal vaksinasi, dosis, lokasi suntikan, nomor batch, dan identitas produk dalam rekam medis serta buku atau catatan imunisasi pasien.
  • Perlindungan tidak absolut: vaksinasi BCG terutama membantu mencegah bentuk TB berat pada anak. Bayi atau anak yang telah divaksinasi tetap memerlukan pemeriksaan apabila memiliki gejala TB atau kontak erat dengan penderita TB menular.

Kata kunci tercakup: Vaksin BCG SSI Kering, indikasi vaksin BCG, posologi vaksin BCG, dosis vaksin BCG bayi, BCG 0,05 mL, BCG 0,1 mL, vaksin BCG intradermal, jadwal imunisasi BCG, imunisasi BCG bayi baru lahir, vaksin tuberkulosis bayi, vaksin TB anak, BCG Danish Strain 1331, imunisasi kejar BCG, tes tuberkulin sebelum BCG, vaksin BCG usia 3 bulan, vaksin BCG usia 12 bulan, booster BCG, revaksinasi BCG, pencegahan meningitis TB, pencegahan TB milier, imunisasi BCG Indonesia.

Profil Keamanan Singkat

Vaksin BCG SSI Kering adalah vaksin bakteri hidup yang dilemahkan (live attenuated) yang mengandung Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331. Vaksin ini memiliki riwayat penggunaan yang luas dalam program imunisasi bayi untuk membantu mencegah bentuk tuberkulosis (TB) berat, terutama meningitis TB dan TB milier.

Pada bayi dan anak dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, profil keamanan BCG umumnya baik. Berbeda dari banyak vaksin injeksi lainnya, BCG dapat menimbulkan reaksi lokal khas yang berkembang secara bertahap selama beberapa minggu, berupa benjolan kecil, lepuhan atau luka dangkal, kemudian penyembuhan dengan atau tanpa parut.

Sebagian besar reaksi lokal bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri. Namun, karena mengandung bakteri hidup yang dilemahkan, BCG memiliki risiko komplikasi serius pada individu dengan imunodefisiensi berat. Pemeriksaan kelayakan klinis sebelum vaksinasi sangat penting.


Efek Samping Umum (0–7 hari)

Lokal (di tempat suntik, ID):

  • Benjolan kecil atau gelembung pucat (wheal): biasanya muncul segera setelah penyuntikan intradermal yang benar dan akan menghilang dalam waktu singkat.
  • Kemerahan atau pembengkakan ringan: dapat muncul pada area suntikan, umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus.
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman ringan: dapat terjadi sesaat setelah penyuntikan dan biasanya membaik dengan sendirinya.
  • Reaksi lokal tertunda: beberapa minggu setelah vaksinasi dapat terbentuk benjolan kemerahan yang berkembang menjadi lepuhan atau luka kecil, kemudian mengering dan meninggalkan parut BCG. Reaksi ini merupakan bagian dari respons lokal yang umum dan tidak harus muncul dalam 7 hari pertama.

Sistemik:

  • Demam ringan atau perubahan kenyamanan sementara: dapat terjadi setelah imunisasi, tetapi tidak selalu disebabkan oleh BCG. Demam yang menetap atau disertai kondisi umum memburuk perlu dievaluasi.
  • Rewel (iritabilitas): sebagian bayi dapat tampak lebih rewel setelah prosedur penyuntikan. Keluhan biasanya sementara.
  • Pembesaran kelenjar getah bening regional: dapat terjadi pada kelenjar di ketiak atau sekitar lokasi penyuntikan, biasanya muncul beberapa minggu hingga bulan setelah vaksinasi. Pembengkakan yang besar, nyeri, bernanah, atau menetap memerlukan pemeriksaan dokter.

Penanganan mandiri: jaga area suntikan tetap bersih dan kering. Tidak diperlukan pemberian salep, antibiotik, antiseptik, atau plester secara rutin pada reaksi BCG yang normal. Jangan memencet benjolan, menggaruk, atau memecahkan lepuhan. Bayi dapat tetap menerima ASI atau susu seperti biasa. Apabila timbul demam atau keluhan lain, konsultasikan penggunaan obat sesuai usia dan berat badan kepada tenaga kesehatan.

Perkembangan Bekas Luka Vaksin BCG


Reaksi Sedang–Berat (Jarang)

  • Abses lokal: terbentuknya kumpulan nanah atau pembengkakan besar di lokasi suntikan. Risiko dapat meningkat apabila vaksin diberikan terlalu dalam atau menggunakan teknik penyuntikan yang tidak tepat. Abses yang membesar, nyeri, atau tidak membaik memerlukan evaluasi medis.
  • Limfadenitis regional: pembesaran kelenjar getah bening, terutama di ketiak pada sisi suntikan. Sebagian kasus dapat berkembang menjadi limfadenitis supuratif, yaitu pembengkakan kelenjar yang mengandung nanah dan memerlukan penanganan dokter.
  • Ulkus lokal yang luas atau berkepanjangan: luka BCG yang semakin besar, mengeluarkan cairan berlebihan, atau tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu lama perlu diperiksa untuk membedakan reaksi normal dari komplikasi.
  • Osteitis atau osteomielitis akibat BCG: komplikasi sangat jarang berupa peradangan atau infeksi tulang yang berhubungan dengan bakteri vaksin. Gejala dapat muncul beberapa bulan setelah vaksinasi dan memerlukan evaluasi serta penanganan spesialis.
  • Infeksi BCG diseminata: komplikasi sangat jarang tetapi serius ketika bakteri vaksin menyebar ke berbagai organ. Risiko terutama ditemukan pada bayi atau anak dengan imunodefisiensi berat, termasuk SCID. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain demam berkepanjangan, gagal tumbuh, pembesaran kelenjar atau organ, serta kondisi umum yang semakin memburuk.
  • Reaksi alergi berat/anafilaksis: sangat jarang, tetapi dapat ditandai dengan sesak napas, pembengkakan wajah atau tenggorokan, urtikaria menyeluruh, pucat, atau penurunan kesadaran → darurat medis.
  • Demam tinggi atau penyakit sistemik: demam tinggi, bayi tampak sangat lemas, sulit menyusu, atau mengalami penurunan kesadaran memerlukan pemeriksaan medis segera. Gejala tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai efek samping vaksin tanpa evaluasi penyebab lainnya.

Kontraindikasi & Penundaan

  • Kontraindikasi: riwayat anafilaksis terhadap vaksin BCG atau hipersensitivitas berat terhadap salah satu komponen vaksin.
  • Imunodefisiensi berat: BCG tidak boleh diberikan kepada individu dengan Severe Combined Immunodeficiency (SCID), gangguan imunitas seluler berat, atau kondisi imunokompromais bermakna lainnya karena risiko infeksi BCG diseminata.
  • Infeksi HIV: bayi atau anak dengan infeksi HIV yang telah terkonfirmasi tidak boleh menerima BCG. Bayi yang terpapar HIV tetapi status infeksinya belum diketahui memerlukan penilaian sesuai pedoman nasional dan kondisi klinis sebelum vaksinasi.
  • Terapi imunosupresif: vaksinasi dikontraindikasikan atau harus ditunda pada pasien yang menerima terapi yang menyebabkan imunosupresi bermakna, seperti kemoterapi, kortikosteroid sistemik dosis imunosupresif, atau obat biologis tertentu.
  • Paparan obat biologis selama kehamilan: bayi yang terpapar obat imunosupresif tertentu, terutama penghambat TNF-alfa, memerlukan evaluasi khusus karena efek imunosupresi dapat bertahan setelah lahir.
  • Tunda: penyakit akut berat dengan atau tanpa demam, kondisi klinis yang belum stabil, atau infeksi kulit bermakna pada lokasi penyuntikan hingga kondisi memungkinkan. Infeksi ringan tanpa gangguan kondisi umum biasanya bukan alasan penundaan.
  • Infeksi atau penyakit TB: pasien dengan dugaan TB aktif atau hasil pemeriksaan yang menunjukkan kemungkinan infeksi TB harus dievaluasi sebelum vaksinasi. BCG bukan pengobatan TB dan tidak digunakan untuk mengatasi infeksi yang telah terjadi.
  • Riwayat uji tuberkulin positif: memerlukan evaluasi kemungkinan infeksi TB. Vaksinasi tidak dilakukan secara otomatis pada individu dengan bukti infeksi TB sebelumnya.

Populasi Khusus

  • Kehamilan: BCG merupakan vaksin hidup yang dilemahkan dan tidak direkomendasikan selama kehamilan. Individu hamil dengan risiko paparan TB memerlukan evaluasi dan strategi pencegahan berdasarkan pedoman klinis.
  • Menyusui: vaksin BCG tidak diberikan secara rutin kepada ibu menyusui. Namun, bayi yang menerima ASI tetap dapat menerima BCG apabila memenuhi syarat klinis. Tidak diperlukan penghentian ASI sebelum atau setelah vaksinasi bayi.
  • Bayi prematur: vaksinasi dapat dipertimbangkan berdasarkan usia kronologis, stabilitas klinis, dan kondisi imunologis. Bayi prematur yang belum stabil atau masih memerlukan perawatan intensif harus dievaluasi sebelum pemberian.
  • Bayi dengan berat badan lahir rendah: penentuan waktu vaksinasi mengikuti pedoman imunisasi dan penilaian klinis. Berat badan rendah perlu dipertimbangkan bersama kondisi kesehatan bayi, bukan sebagai satu-satunya dasar keputusan.
  • Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV: memerlukan evaluasi status HIV bayi, risiko imunodefisiensi, dan rekomendasi klinis sebelum menerima vaksin hidup BCG.
  • Imunokompromais: individu dengan imunodefisiensi berat tidak boleh menerima BCG. Pada pasien dengan dugaan gangguan kekebalan tubuh, vaksinasi harus ditunda sampai penilaian yang diperlukan selesai.
  • Riwayat kontak erat penderita TB: bayi atau anak yang tinggal bersama penderita TB menular memerlukan investigasi kontak dan evaluasi penyakit TB. Jika terdapat indikasi terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), waktu pemberian BCG harus disesuaikan dengan penanganan klinis.
  • Riwayat vaksinasi BCG sebelumnya: revaksinasi tidak direkomendasikan secara rutin, termasuk hanya karena parut BCG tidak terlihat. Evaluasi dilakukan berdasarkan dokumentasi imunisasi dan pedoman yang berlaku.
  • Anak usia lebih besar dan dewasa: BCG tidak diberikan secara rutin kepada seluruh kelompok usia ini. Pemberian hanya dipertimbangkan apabila terdapat indikasi khusus, tidak ada kontraindikasi, dan telah dilakukan evaluasi risiko serta pemeriksaan yang diperlukan.

Interaksi/Koadministrasi

  • BCG SSI dapat diberikan bersamaan dengan vaksin rutin bayi yang sesuai usia, termasuk vaksin Hepatitis B, polio, DTP, Hib, dan vaksin lainnya, berdasarkan rekomendasi imunisasi dan penilaian dokter.
  • Secara prinsip, BCG dapat diberikan pada hari yang sama dengan vaksin hidup maupun inaktif lainnya. Untuk vaksin hidup suntik tertentu yang tidak diberikan pada hari yang sama, umumnya diperlukan interval minimal 4 minggu sesuai pedoman imunisasi.
  • Lokasi suntikan: gunakan lokasi yang berbeda untuk setiap vaksin. Vaksin lain yang diberikan bersamaan dengan BCG sebaiknya disuntikkan pada lengan yang berbeda.
  • Perhatian pada lengan yang menerima BCG: hindari penyuntikan vaksin lain pada lengan yang sama selama 3 bulan setelah vaksinasi BCG, sesuai informasi produk, untuk mengurangi risiko limfadenitis regional.
  • Jangan mencampurkan BCG dengan vaksin atau obat lain dalam satu spuit. Rekonstitusi harus menggunakan pelarut khusus yang disediakan bersama produk.
  • Obat antituberkulosis: obat yang memiliki aktivitas terhadap mikobakteri dapat menghambat pertumbuhan bakteri BCG hidup. Riwayat penggunaan obat antituberkulosis harus diinformasikan kepada dokter sebelum vaksinasi.
  • Obat imunosupresif: kemoterapi, kortikosteroid sistemik dosis imunosupresif, dan terapi biologis tertentu dapat meningkatkan risiko komplikasi akibat vaksin hidup. Pemberian BCG harus mengikuti kontraindikasi dan rekomendasi waktu vaksinasi yang berlaku.
  • Imunoglobulin dan produk darah: riwayat pemberian produk darah atau imunoglobulin perlu diinformasikan kepada dokter. Penentuan jadwal vaksinasi dilakukan berdasarkan kondisi klinis dan pedoman yang berlaku.

Setelah Vaksin di Vaxcorp

  • Observasi minimal 15 menit pasca suntik untuk memantau kemungkinan reaksi alergi segera atau keluhan akut lainnya.
  • Berikan edukasi tertulis pasca-vaksin kepada orang tua/wali mengenai perkembangan reaksi lokal BCG yang normal, perawatan lokasi suntikan, tanda bahaya, serta akses hotline/WhatsApp Vaxcorp Indonesia untuk konsultasi keluhan.
  • Jelaskan bahwa benjolan, lepuhan, atau luka kecil dapat muncul beberapa minggu setelah vaksinasi dan kemudian sembuh secara bertahap. Jangan memencet, menggaruk, atau mengoleskan obat tanpa anjuran dokter pada lokasi suntikan.
  • Ingatkan orang tua untuk segera menghubungi tenaga kesehatan apabila muncul abses yang membesar, pembengkakan kelenjar getah bening bernanah, luka yang semakin luas, demam berkepanjangan, atau bayi tampak sangat lemas.
  • Catat tanggal vaksinasi, merek vaksin, nomor batch, dosis, rute intradermal, dan lokasi suntikan dalam rekam medis serta dokumentasi imunisasi pasien. BCG umumnya diberikan satu kali tanpa booster rutin.
  • Pastikan penanganan vial dan sisa vaksin yang telah direkonstitusi mengikuti prosedur aseptik, batas waktu penggunaan, dan ketentuan pembuangan limbah medis yang berlaku.
  • Dugaan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) signifikan, termasuk limfadenitis supuratif, infeksi BCG diseminata, atau reaksi alergi berat, akan dievaluasi dan dilaporkan sesuai prosedur yang berlaku.

*Harga vaksinasi per dosis per pax. *Harga sudah termasuk biaya pelayanan;

Biaya pelayanan termasuk:

  • Konsultasi & Tindakan Dokter

  • Alat Habis Pakai

  • Rekam Medis E-Certificate Vaksinasi

Add-on Kunjungan Klinik (Walk-in): Rp. 0 / pertemuan per dosis Add-on VIP Layanan vaksinasi di rumah: Rp. 500,000 / kunjungan (DKI Jakarta)

rekomendasi vaksinasi Lokasi: Klinik Vaksinasi Vaxcorp Indonesia

Rekomendasi Layanan

Vaksin BCG SSI Kering

Rp669.000,00

Jadwalkan Layanan

Paket ≥ 20 pax (Kelompok/Perusahaan/Haji atau Umroh) : IDR. Call Us

Deskripsi

  • Ringkasan
  • Anjuran
  • Kandungan
  • Efikasi
  • Indikasi
  • Keamanan

Vaksin BCG SSI Kering – Vaksin Tuberkulosis (Danish Strain 1331)

Vaksin BCG SSI Kering adalah vaksin tuberkulosis hidup yang dilemahkan (live attenuated) yang mengandung Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331. Vaksin ini digunakan untuk imunisasi aktif terhadap tuberkulosis (TB), terutama untuk membantu melindungi bayi dan anak dari bentuk TB berat seperti meningitis tuberkulosis dan tuberkulosis milier.

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan terutama menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mengenai otak, tulang, kelenjar getah bening, serta organ lainnya. Penularan terjadi melalui udara ketika penderita TB paru atau laring yang menular mengeluarkan partikel infeksius.

Bayi dan anak kecil memiliki risiko lebih tinggi mengalami TB berat dan penyebaran infeksi ke berbagai organ.

Berbeda dari vaksin yang menggunakan bakteri mati, vaksin BCG SSI mengandung bakteri hidup yang telah dilemahkan dan diberikan melalui suntikan intradermal (ID), yaitu ke lapisan kulit. Vaksinasi BCG dianjurkan sejak dini sesuai jadwal imunisasi nasional untuk membantu membentuk respons kekebalan seluler terhadap tuberkulosis.


Siapa yang disarankan:

  • Bayi baru lahir: dianjurkan menerima vaksinasi BCG sedini mungkin sesuai jadwal imunisasi nasional, setelah dinyatakan layak secara klinis.
  • Bayi yang belum menerima vaksin BCG: termasuk bayi yang terlambat mendapatkan imunisasi, dengan mempertimbangkan usia, riwayat paparan TB, dan kebutuhan pemeriksaan sebelum vaksinasi.
  • Anak dengan risiko paparan tuberkulosis: terutama yang tinggal di wilayah dengan angka kejadian TB tinggi, selama belum terinfeksi dan tidak memiliki kontraindikasi.
  • Anak yang tinggal bersama atau memiliki kontak erat dengan penderita TB: memerlukan evaluasi untuk menyingkirkan infeksi atau penyakit TB aktif sebelum vaksinasi. Vaksin BCG bukan pengganti investigasi kontak maupun terapi pencegahan TB apabila diindikasikan.
  • Vaksinasi BCG Dewasa: Individu yang belum pernah menerima BCG dengan risiko paparan khusus: pada keadaan tertentu, vaksinasi dapat dipertimbangkan berdasarkan rekomendasi resmi, hasil pemeriksaan tuberkulin atau IGRA bila relevan, dan evaluasi dokter. Vaksinasi BCG Dewasa tidak dilakukan secara rutin, namun melalui pertimbangan manfaat.

Perhatian: vaksin BCG merupakan bagian dari imunisasi rutin bayi di Indonesia. Namun, bayi dengan dugaan gangguan kekebalan tubuh, infeksi HIV, atau paparan TB yang bermakna memerlukan penilaian khusus sebelum vaksinasi karena BCG merupakan vaksin hidup.


Manfaat utama:

  • Mencegah bentuk tuberkulosis berat pada anak: membantu mengurangi risiko meningitis TB dan TB milier, yaitu bentuk penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan permanen atau kematian.
  • Perlindungan sejak awal kehidupan: pemberian BCG pada masa bayi bertujuan membentuk respons imun sebelum anak mengalami paparan tuberkulosis.
  • Merangsang kekebalan seluler: BCG mengaktifkan respons imun yang melibatkan limfosit T dan makrofag, yang berperan dalam pengendalian infeksi mikobakteri.
  • Mengurangi risiko penyebaran infeksi: respons imun yang terbentuk membantu tubuh membatasi perkembangan dan penyebaran bakteri tuberkulosis ke organ lain.
  • Hanya membutuhkan satu dosis rutin: pada anak yang memenuhi syarat, vaksinasi BCG umumnya diberikan satu kali tanpa booster rutin.
  • Perlindungan terhadap komplikasi serius: manfaat BCG paling konsisten terlihat pada pencegahan bentuk TB berat pada anak, sedangkan perlindungan terhadap TB paru dan infeksi TB secara umum lebih bervariasi.
  • Bagian dari program pengendalian TB: vaksinasi BCG melengkapi upaya deteksi dini, investigasi kontak, terapi pencegahan TB, pengobatan TB aktif, dan pengendalian penularan.

Regimen & waktu terbaik:

  • Imunisasi Primer (Bayi Usia di Bawah 12 Bulan)
    • Dosis: satu dosis 0,05 mL intradermal (ID) setelah vaksin direkonstitusi.
    • Waktu pemberian: dianjurkan sedini mungkin setelah lahir sesuai jadwal imunisasi nasional dan penilaian klinis.
    • Lokasi suntikan: lapisan kulit pada daerah lengan atas, umumnya lengan kanan, sesuai prosedur imunisasi dan teknik intradermal yang benar.
    • Jumlah dosis: satu dosis rutin. Booster BCG tidak direkomendasikan secara rutin.
  • Anak Usia 12 Bulan ke Atas dan Vaksinasi BCG Dewasa (Indikasi Khusus)
    • Dosis sesuai informasi produk: satu dosis 0,1 mL intradermal (ID) setelah rekonstitusi.
    • Indikasi: pemberian pada kelompok usia ini harus berdasarkan rekomendasi resmi, status vaksinasi sebelumnya, risiko paparan TB, dan evaluasi dokter.
    • Pemeriksaan sebelum vaksinasi: pemeriksaan tuberkulin atau evaluasi TB lainnya dapat diperlukan, terutama pada individu yang lebih besar atau memiliki riwayat paparan.
    • Catatan: dosis 0,1 mL dalam informasi produk tidak berarti vaksin BCG dianjurkan secara rutin bagi semua remaja dan orang dewasa.
  • Imunisasi Kejar (Catch-up)
    • Bayi atau anak yang belum pernah mendapatkan BCG perlu dievaluasi berdasarkan usia, riwayat kontak TB, gejala klinis, dan status imun.
    • Di Indonesia, bayi yang terlambat menerima BCG dapat memerlukan uji tuberkulin terlebih dahulu sesuai batas usia dan pedoman imunisasi yang berlaku.
    • Apabila terdapat dugaan infeksi atau penyakit TB, lakukan evaluasi dan penanganan yang sesuai sebelum mempertimbangkan vaksinasi.
    • Tidak diperlukan pengulangan BCG secara rutin hanya karena bekas luka atau parut vaksinasi tidak terlihat.
  • Kontak Erat dengan Penderita Tuberkulosis
    • Anak yang memiliki kontak erat dengan penderita TB menular perlu menjalani investigasi kontak dan evaluasi infeksi TB.
    • Jika ditemukan penyakit TB aktif, pasien membutuhkan pengobatan TB, bukan vaksinasi sebagai terapi.
    • Jika terdapat indikasi terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), jadwal BCG harus disesuaikan dengan pedoman dan keputusan dokter.
  • Waktu ideal: pemberian BCG dianjurkan sedini mungkin setelah lahir, sesuai jadwal imunisasi nasional, untuk membangun perlindungan terhadap bentuk TB berat sejak masa bayi. Pada individu yang terlambat mendapatkan vaksin, kebutuhan pemeriksaan dan kelayakan vaksinasi harus dinilai terlebih dahulu.

Perbedaan vaksin BCG dan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT): vaksin BCG bertujuan membentuk kekebalan sebelum terjadi penyakit, terutama untuk mengurangi risiko TB berat pada anak. Sementara itu, TPT menggunakan obat antituberkulosis pada individu tertentu yang berisiko mengalami perkembangan penyakit setelah terpapar atau terinfeksi TB. Keduanya memiliki tujuan dan indikasi berbeda. BCG tidak menggantikan TPT, pemeriksaan TB, maupun pengobatan TB aktif.


Keamanan & perhatian ringkas:

  • Profil keamanan: BCG telah digunakan secara luas selama puluhan tahun dalam program imunisasi. Pada individu dengan sistem imun yang baik, reaksi pascavaksinasi umumnya bersifat lokal dan dapat sembuh dengan sendirinya.
  • Reaksi lokal yang diharapkan: muncul benjolan kecil atau kemerahan di lokasi suntikan yang dapat berkembang menjadi lepuhan atau luka kecil dalam beberapa minggu, kemudian mengering dan meninggalkan parut BCG.
  • Waktu penyembuhan: reaksi lokal dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga bulan. Bekas parut kecil merupakan temuan yang umum, tetapi tidak terbentuknya parut bukan bukti bahwa vaksinasi gagal.
  • Efek samping lainnya: dapat terjadi pembesaran kelenjar getah bening regional, terutama di ketiak pada sisi suntikan. Pembengkakan yang besar, bernanah, atau menetap memerlukan pemeriksaan medis.
  • Komplikasi jarang: abses di lokasi suntikan, limfadenitis supuratif, osteitis, osteomielitis, atau infeksi BCG yang menyebar. Risiko komplikasi berat meningkat pada pasien dengan gangguan kekebalan tubuh.
  • Kontraindikasi: hipersensitivitas berat terhadap komponen vaksin, imunodefisiensi seluler atau gangguan imun berat, serta penggunaan terapi imunosupresif tertentu. Kondisi terkait HIV harus dinilai mengikuti pedoman klinis terkini.
  • Penundaan vaksinasi: penyakit akut berat dengan demam, infeksi kulit luas, atau kondisi medis yang belum stabil memerlukan penundaan atau evaluasi lebih lanjut.
  • Pasien yang sedang menjalani pengobatan TB: BCG tidak diberikan sebagai terapi atau pengganti pengobatan antituberkulosis.
  • Perawatan luka: jaga lokasi suntikan tetap bersih dan kering. Jangan memencet benjolan, mengoleskan obat tanpa indikasi, atau menutup luka dengan plester kedap secara rutin.
  • Teknik pemberian: vaksin harus disuntikkan secara intradermal oleh tenaga kesehatan terlatih. Penyuntikan terlalu dalam dapat meningkatkan risiko abses dan komplikasi lokal.

Komposisi Vaksin BCG SSI Kering (ringkas)

Zat aktif: Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331, hidup yang dilemahkan.

Setelah rekonstitusi, kandungan antigen per dosis adalah:

  • Bayi usia di bawah 12 bulan: 0,05 mL mengandung sekitar 1–4 × 105 CFU BCG hidup yang dilemahkan.
  • Anak usia 12 bulan ke atas dan dewasa: 0,1 mL mengandung sekitar 2–8 × 105 CFU BCG hidup yang dilemahkan.
  • CFU (Colony Forming Units): satuan untuk menyatakan jumlah bakteri hidup yang mampu membentuk koloni dalam kondisi pengujian tertentu.
  • Eksipien dan komponen formulasi:
    • Natrium glutamat (sodium glutamate).
    • Magnesium sulfat heptahidrat (magnesium sulphate heptahydrate).
    • Dikalium fosfat (dipotassium phosphate).
    • Asam sitrat monohidrat (citric acid monohydrate).
    • L-asparagin monohidrat (L-asparagine monohydrate).
    • Feri amonium sitrat (ferric ammonium citrate).
    • Gliserol 85% (glycerol 85%).
    • Air untuk injeksi (water for injection).
  • Bentuk sediaan: vaksin beku-kering (freeze-dried/lyophilised) yang harus direkonstitusi menggunakan pelarut khusus yang disediakan untuk produk sebelum penyuntikan.
  • Karakteristik: mengandung bakteri hidup yang dilemahkan, sehingga tidak boleh diberikan kepada individu dengan kontraindikasi imunologis tertentu.
  • Informasi lengkap mengenai zat aktif, bahan tambahan, dan karakteristik sediaan tersedia pada tab Kandungan.

Pemberian Vaksin BCG SSI Kering dengan Vaksin Lain

Vaksin BCG SSI Kering dapat diberikan pada kunjungan yang sama dengan sejumlah vaksin rutin, termasuk vaksin yang mengandung difteri, pertusis, tetanus, polio, dan campak, sesuai informasi produk dan pedoman imunisasi yang berlaku.

Secara prinsip, vaksin BCG juga dapat diberikan bersama vaksin hidup maupun inaktif lainnya apabila memenuhi persyaratan imunisasi. Untuk vaksin hidup suntik tertentu yang tidak diberikan pada hari yang sama, interval antarpemberian perlu mengikuti pedoman imunisasi yang berlaku.

Vaksin lain tidak boleh disuntikkan pada lokasi yang sama dengan BCG. Sebaiknya gunakan lengan yang berbeda untuk vaksin injeksi lain pada kunjungan yang sama. Hindari penyuntikan vaksin lain pada lengan yang telah menerima BCG selama periode penyembuhan sesuai informasi produk dan pertimbangan tenaga kesehatan.

BCG tidak boleh dicampurkan dengan vaksin atau obat lain dalam satu spuit. Rekonstitusi harus menggunakan pelarut khusus yang disediakan untuk produk, dan pemberian harus dilakukan melalui rute intradermal oleh tenaga kesehatan terlatih.


Vaksin saat hamil / menyusui:

Kehamilan: vaksin BCG merupakan vaksin hidup yang dilemahkan dan secara umum tidak direkomendasikan selama kehamilan. Pada individu hamil yang memiliki risiko paparan TB, evaluasi dan strategi pencegahan harus ditentukan oleh dokter berdasarkan pedoman klinis.

Menyusui: vaksin BCG tidak diberikan secara rutin kepada ibu menyusui. Kebutuhan vaksinasi pada orang dewasa harus dinilai berdasarkan indikasi khusus dan pertimbangan manfaat–risiko.

Bayi yang menerima ASI: pemberian ASI bukan kontraindikasi vaksinasi BCG. Bayi dapat tetap menerima ASI sebelum dan setelah imunisasi apabila memenuhi syarat klinis untuk menerima vaksin.

Perhatian khusus: bayi yang terpapar obat imunosupresif tertentu selama kehamilan atau melalui ASI memerlukan evaluasi sebelum menerima vaksin BCG, karena beberapa terapi dapat memengaruhi fungsi kekebalan tubuh bayi.


Kemasan :

vaksin bcg ssi - vaksin tuberkulosis vaksin tb kemasan

Bentuk sediaan: serbuk atau massa kristalin putih hasil proses beku-kering (freeze-dried) dalam vial, disertai pelarut khusus untuk menghasilkan suspensi injeksi setelah rekonstitusi.

Isi per vial: setelah rekonstitusi dengan pelarut sesuai petunjuk produk, satu vial menghasilkan suspensi vaksin multidose. Volume 1 mL secara nominal setara dengan:

  • 20 dosis bayi masing-masing 0,05 mL; atau
  • 10 dosis masing-masing 0,1 mL untuk usia 12 bulan ke atas.

Jumlah dosis yang dapat diambil dalam praktik bergantung pada teknik penyiapan dan volume sisa dalam vial.

Penyimpanan: simpan vaksin beku-kering pada suhu 2–8 °C, terlindung dari cahaya. Jangan membekukan pelarut. Ikuti ketentuan penyimpanan dan rantai dingin yang tercantum pada kemasan resmi produk.

Setelah rekonstitusi: vaksin sebaiknya digunakan segera dan harus dilindungi dari cahaya. Sisa suspensi yang tidak digunakan harus dibuang setelah sesi imunisasi, dengan batas maksimal 4 jam setelah rekonstitusi sesuai informasi produk, atau lebih cepat jika ketentuan penanganan vaksin yang berlaku mengharuskannya.

Penanganan: gunakan hanya pelarut yang disediakan untuk produk. Rekonstitusi dan pengambilan dosis harus dilakukan secara aseptik oleh tenaga kesehatan terlatih. Jangan menggunakan vaksin apabila ditemukan kerusakan kemasan, perubahan penampilan yang tidak normal, atau vaksin telah melewati tanggal kedaluwarsa.

Merek: BCG Vaccine SSI (Danish Strain 1331)

Diproduksi oleh: Statens Serum Institut (SSI), Denmark

Diimpor ke Indonesia oleh: PT Bio Farma (Persero), berdasarkan informasi produk BCG SSI yang diterbitkan BPOM

Anjuran Pemberian & Rekomendasi Dosis

Siapa yang Dianjurkan

  • Bayi baru lahir hingga usia 1 bulan yang belum menerima imunisasi BCG, untuk membentuk perlindungan terhadap tuberkulosis (TB) berat, terutama meningitis TB dan TB milier.
  • Bayi yang menjalani imunisasi rutin, sesuai jadwal imunisasi nasional Indonesia. BCG dianjurkan sedini mungkin setelah lahir, dengan sasaran pemberian pada usia kurang dari 1 bulan.
  • Bayi dan anak yang belum pernah menerima BCG, termasuk yang terlambat mendapatkan imunisasi, setelah mempertimbangkan usia, riwayat paparan TB, status kekebalan tubuh, dan kebutuhan pemeriksaan tuberkulin.
  • Anak yang tinggal di wilayah dengan penularan TB tinggi, terutama apabila belum pernah divaksinasi dan tidak memiliki kontraindikasi.
  • Anak dengan risiko paparan TB dalam keluarga atau lingkungan: memerlukan evaluasi untuk menyingkirkan infeksi atau penyakit TB sebelum vaksinasi. Jika terdapat indikasi terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), penanganan mengikuti pedoman TB anak.
  • Kelompok usia lebih besar dengan indikasi khusus: vaksinasi BCG Dewasa dapat dipertimbangkan pada individu yang belum pernah divaksinasi dan memiliki risiko tertentu, berdasarkan rekomendasi resmi, hasil evaluasi TB, dan keputusan dokter. BCG tidak dianjurkan secara rutin untuk seluruh remaja atau orang dewasa, namun melalui pertimbangan manfaat.

Siapa yang Perlu Ditunda/Pertimbangkan

  • Penyakit akut berat dengan demam atau kondisi klinis yang belum stabil → tunda vaksinasi hingga kondisi membaik. Infeksi ringan tanpa gangguan kondisi umum biasanya bukan alasan penundaan.
  • Riwayat anafilaksis terhadap vaksin BCG atau komponen produk → merupakan kontraindikasi.
  • Imunodefisiensi berat, termasuk Severe Combined Immunodeficiency (SCID), gangguan imunitas seluler berat, atau kondisi imunokompromais bermakna → kontraindikasi karena BCG mengandung bakteri hidup yang dilemahkan.
  • Infeksi HIV pada bayi atau anak: memerlukan evaluasi khusus. BCG tidak diberikan pada anak dengan infeksi HIV yang telah terkonfirmasi. Bayi yang terpapar HIV tetapi status infeksinya belum diketahui harus mengikuti pedoman nasional dan penilaian dokter sebelum vaksinasi.
  • Terapi imunosupresif, termasuk kortikosteroid sistemik dosis imunosupresif, kemoterapi, atau obat biologis tertentu → vaksinasi perlu ditunda atau dihindari sesuai jenis terapi dan kondisi imun pasien.
  • Riwayat paparan obat biologis selama kehamilan: bayi yang terpapar obat imunosupresif tertentu, misalnya penghambat TNF-alfa, memerlukan evaluasi sebelum menerima BCG.
  • Infeksi TB aktif atau dugaan infeksi TB: lakukan pemeriksaan dan penanganan sesuai pedoman. BCG tidak digunakan sebagai pengobatan TB.
  • Penggunaan obat antituberkulosis: pasien yang sedang menjalani pengobatan TB tidak diberikan BCG sebagai pengganti atau tambahan terapi tanpa indikasi khusus.
  • Infeksi kulit luas atau kelainan kulit pada lokasi penyuntikan: memerlukan evaluasi dan kemungkinan penundaan sampai kondisi memungkinkan.

Jadwal & Dosis (ID 0,05 mL / 0,1 mL)

  • Imunisasi Primer (Bayi Usia <12 Bulan)
    • Dosis: satu kali pemberian 0,05 mL intradermal (ID) setelah rekonstitusi.
    • Kandungan: sekitar 1–4 × 105 CFU Mycobacterium bovis BCG Danish Strain 1331 hidup yang dilemahkan per dosis 0,05 mL.
    • Waktu pemberian: dianjurkan sedini mungkin setelah lahir, dengan sasaran usia kurang dari 1 bulan berdasarkan rekomendasi imunisasi Indonesia.
    • Lokasi: lapisan kulit lengan atas sesuai teknik intradermal dan prosedur imunisasi yang berlaku.
    • Jumlah dosis: 1 dosis. Tidak diperlukan rangkaian dosis berulang atau booster rutin.
  • Anak Usia ≥12 Bulan dan Dewasa (Indikasi Khusus)
    • Dosis sesuai informasi produk: satu kali pemberian 0,1 mL intradermal (ID) setelah rekonstitusi.
    • Kandungan: sekitar 2–8 × 105 CFU BCG Danish Strain 1331 hidup yang dilemahkan per dosis 0,1 mL.
    • Persyaratan: pemberian hanya dilakukan apabila terdapat indikasi berdasarkan rekomendasi resmi dan hasil evaluasi dokter.
    • Pemeriksaan sebelum vaksinasi: uji tuberkulin atau pemeriksaan TB lainnya dapat diperlukan untuk memastikan kelayakan vaksinasi.
    • Catatan: ketersediaan dosis 0,1 mL untuk kelompok usia lebih besar tidak berarti BCG direkomendasikan secara rutin bagi seluruh orang dewasa.
  • Imunisasi Kejar (Catch-up)
    • Bayi yang belum menerima BCG dianjurkan segera menjalani evaluasi agar vaksinasi tidak tertunda lebih lama.
    • Pada bayi berusia 3 bulan atau lebih yang belum mendapatkan BCG, uji tuberkulin dianjurkan sebelum vaksinasi sesuai pedoman imunisasi Indonesia.
    • Jika uji tuberkulin negatif dan tidak ditemukan kontraindikasi, vaksinasi dapat dipertimbangkan berdasarkan usia dan penilaian dokter.
    • Jika uji tuberkulin positif, diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk kemungkinan infeksi atau penyakit TB. BCG tidak diberikan sebagai pengobatan infeksi TB.
    • Catatan: keputusan vaksinasi kejar harus mengikuti pedoman nasional yang berlaku, terutama pada anak dengan riwayat kontak erat penderita TB atau kondisi imunologis khusus.
  • Kontak Erat dengan Penderita Tuberkulosis
    • Anak yang tinggal bersama atau memiliki kontak erat dengan penderita TB menular perlu menjalani investigasi kontak dan evaluasi TB sebelum vaksinasi.
    • Jika ditemukan penyakit TB aktif, berikan pengobatan antituberkulosis sesuai pedoman. Vaksin BCG tidak menggantikan pengobatan tersebut.
    • Jika penyakit TB aktif telah disingkirkan tetapi anak memenuhi kriteria terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), penanganan dan waktu vaksinasi perlu dikoordinasikan dengan dokter.
    • BCG bukan profilaksis pasca-pajanan yang dapat menggantikan investigasi kontak atau TPT.
  • Revaksinasi dan Booster
    • Booster BCG tidak direkomendasikan secara rutin setelah pemberian satu dosis yang sah.
    • Jika bekas luka BCG tidak terlihat, vaksinasi tidak perlu diulang secara otomatis. Tidak terbentuknya parut bukan bukti kegagalan perlindungan.
    • Apabila riwayat vaksinasi tidak jelas, evaluasi dokumentasi imunisasi dan kebutuhan vaksinasi berdasarkan pedoman serta keputusan dokter.
  • Waktu ideal: berikan BCG sedini mungkin setelah lahir, dengan sasaran usia kurang dari 1 bulan sesuai jadwal imunisasi Indonesia. Pada bayi yang terlambat menerima vaksin, pertimbangkan kebutuhan uji tuberkulin dan pemeriksaan TB sebelum pemberian. Setelah satu dosis BCG lengkap, booster rutin tambahan tidak diperlukan.

Koadministrasi (Pada Hari yang Sama)

  • BCG SSI dapat diberikan bersamaan dengan vaksin rutin bayi yang sesuai usia, termasuk vaksin Hepatitis B, polio, DTP, Hib, dan vaksin lainnya, berdasarkan rekomendasi imunisasi dan pertimbangan dokter.
  • BCG dapat diberikan pada hari yang sama dengan vaksin hidup maupun inaktif, termasuk vaksin campak, gondongan, dan rubela (MMR), apabila terdapat indikasi sesuai usia.
  • Jika BCG dan vaksin hidup suntik lainnya tidak diberikan pada hari yang sama, umumnya diperlukan interval minimal 4 minggu antara pemberian kedua vaksin hidup tersebut, sesuai informasi produk dan pedoman imunisasi.
  • Gunakan lokasi suntik berbeda. Vaksin lain yang diberikan bersamaan dengan BCG sebaiknya disuntikkan pada lengan yang berbeda. Hindari pemberian vaksin lain pada lengan yang telah menerima BCG selama 3 bulan untuk mengurangi risiko limfadenitis regional.
  • Jangan mencampurkan BCG dengan vaksin atau obat lain dalam satu spuit. Rekonstitusi hanya menggunakan pelarut yang disediakan untuk produk.
  • Interaksi dengan obat antituberkulosis: obat yang aktif terhadap mikobakteri dapat mengganggu viabilitas bakteri vaksin. Riwayat pengobatan TB harus diinformasikan kepada dokter sebelum imunisasi.

Siapa yang Perlu Konsultasi Dulu

  • Bayi yang terlambat mendapatkan BCG, terutama usia 3 bulan atau lebih, untuk menentukan kebutuhan uji tuberkulin sebelum vaksinasi.
  • Bayi atau anak dengan riwayat kontak erat penderita TB, termasuk anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan TB paru menular.
  • Gejala yang mengarah pada tuberkulosis, seperti batuk berkepanjangan, demam lama, berat badan sulit naik, penurunan berat badan, atau pembesaran kelenjar getah bening yang tidak jelas penyebabnya.
  • Riwayat alergi berat atau anafilaksis terhadap vaksin BCG atau komponen vaksin lainnya.
  • Gangguan sistem imun, termasuk dugaan SCID, imunodefisiensi primer, infeksi HIV, atau kondisi medis yang menyebabkan penurunan imunitas.
  • Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV, untuk menentukan status infeksi bayi dan kelayakan pemberian BCG berdasarkan pedoman klinis.
  • Riwayat penggunaan obat imunosupresif pada bayi atau paparan obat biologis tertentu selama kehamilan, terutama terapi yang dapat memengaruhi fungsi kekebalan tubuh bayi.
  • Bayi prematur atau bayi dengan kondisi medis kompleks, terutama yang masih menjalani perawatan intensif atau belum stabil secara klinis.
  • Riwayat vaksinasi BCG sebelumnya, termasuk apabila terdapat parut BCG tetapi dokumentasi vaksinasi tidak tersedia.
  • Riwayat hasil uji tuberkulin atau IGRA positif, untuk mengevaluasi kemungkinan infeksi TB sebelum mempertimbangkan vaksinasi.

Persiapan & Pasca-Vaksin

  • Informasikan riwayat imunisasi, alergi, penyakit kronis, kontak dengan penderita TB, status kekebalan tubuh, serta obat yang sedang digunakan. Bawa buku KIA atau catatan imunisasi apabila tersedia.
  • Tidak diperlukan puasa. Bayi dapat menerima ASI atau susu seperti biasa sebelum maupun setelah vaksinasi. Pastikan kondisi klinis memungkinkan untuk menerima vaksin hidup.
  • BCG diberikan melalui suntikan intradermal (ID) oleh tenaga kesehatan terlatih. Penyuntikan yang benar biasanya menimbulkan benjolan kecil atau gelembung pucat (wheal) segera setelah vaksin diberikan.
  • Reaksi lokal yang diharapkan: dalam beberapa minggu dapat muncul benjolan kemerahan yang berkembang menjadi lepuhan atau luka kecil, kemudian mengering dan meninggalkan parut BCG. Proses penyembuhan dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga bulan.
  • Perawatan lokasi suntikan: jaga area tetap bersih dan kering. Jangan memencet benjolan, menggaruk, mengoleskan antibiotik atau antiseptik tanpa indikasi, maupun menutup luka dengan plester kedap secara rutin.
  • Observasi minimal 15 menit setelah penyuntikan untuk memantau reaksi alergi segera atau keluhan akut lainnya.
  • Waspadai komplikasi: pembengkakan kelenjar getah bening yang besar atau bernanah, abses yang membesar, luka yang tidak kunjung membaik, demam berkepanjangan, atau kondisi umum yang memburuk memerlukan pemeriksaan dokter.
  • Tidak terbentuknya parut BCG bukan alasan otomatis untuk mengulang vaksinasi. Evaluasi dilakukan berdasarkan dokumentasi pemberian, teknik vaksinasi, dan pedoman imunisasi.
  • Catat tanggal vaksinasi, merek, nomor batch, dosis, dan lokasi suntikan dalam rekam medis serta dokumentasi imunisasi pasien. BCG umumnya diberikan satu kali tanpa booster rutin.

Zat Aktif

Nama produk: Vaksin BCG SSI Kering – BCG Vaccine SSI (Danish Strain 1331).

Tipe: Vaksin bakteri hidup yang dilemahkan (live attenuated bacterial vaccine) yang mengandung Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331. Vaksin ini digunakan untuk imunisasi aktif terhadap tuberkulosis (TB), terutama untuk membantu melindungi bayi dan anak dari bentuk TB berat, seperti meningitis tuberkulosis dan TB milier.

BCG SSI merupakan vaksin beku-kering (freeze-dried/lyophilised) yang harus direkonstitusi dengan pelarut khusus sebelum diberikan melalui suntikan intradermal (ID). Bakteri BCG yang telah dilemahkan merangsang pembentukan respons kekebalan seluler tanpa menggunakan bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab utama TB pada manusia.


Komposisi per dosis

Setelah rekonstitusi, Vaksin BCG SSI Kering mengandung bakteri BCG hidup yang dilemahkan dengan jumlah sesuai volume dosis dan kelompok usia penerima.

  • Zat aktif utama: Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331, hidup yang dilemahkan.
  • Bayi usia di bawah 12 bulan:
    • Volume dosis: 0,05 mL intradermal.
    • Kandungan bakteri hidup: 1–4 × 105 CFU per dosis.
    • Jumlah pemberian: satu dosis sesuai jadwal imunisasi dan penilaian klinis.
  • Anak usia 12 bulan ke atas dan dewasa (indikasi khusus):
    • Volume dosis: 0,1 mL intradermal.
    • Kandungan bakteri hidup: 2–8 × 105 CFU per dosis.
    • Jumlah pemberian: satu dosis apabila terdapat indikasi berdasarkan rekomendasi resmi dan evaluasi dokter.
  • Konsentrasi bahan aktif: informasi produk BCG SSI mencantumkan 0,75 mg Mycobacterium bovis BCG Danish Strain 1331 per 1 mL suspensi setelah rekonstitusi.
  • CFU (Colony Forming Units): satuan yang digunakan untuk memperkirakan jumlah bakteri hidup yang mampu membentuk koloni pada kondisi pengujian tertentu. Nilai CFU berbeda dari ukuran massa bakteri dalam miligram.
  • Eksipien / zat non-aktif: setiap 1 mL suspensi vaksin setelah rekonstitusi mengandung:
    • Sodium glutamate: 3,75 mg, digunakan sebagai bahan penstabil vaksin beku-kering.
    • Magnesium sulphate: 125 mikrogram.
    • Dipotassium phosphate: 125 mikrogram.
    • Citric acid monohydrate: 0,5 mg.
    • L-asparagine monohydrate: 1 mg.
    • Ferric ammonium citrate: 12,5 mikrogram.
    • Glycerol 85%: 18,4 mg.
    • Water for injection: hingga volume akhir 1 mL.
  • Adjuvan: tidak mengandung adjuvan aluminium. Respons imun dihasilkan oleh bakteri BCG hidup yang telah dilemahkan.
  • Pengawet dan antibiotik: formulasi BCG SSI tidak mencantumkan penambahan pengawet atau antibiotik sebagai komponen produk akhir.
  • Jenis vaksin: vaksin hidup yang dilemahkan, bukan vaksin inaktif. Oleh karena itu, pemberiannya memerlukan perhatian khusus pada individu dengan imunodefisiensi atau penggunaan terapi imunosupresif.

Sediaan & Penanganan

  • Bentuk sediaan: serbuk atau massa kristalin putih hasil proses beku-kering (lyophilised powder) dalam vial, disertai pelarut untuk menghasilkan suspensi injeksi setelah rekonstitusi.
  • Penampilan sebelum rekonstitusi:
    • Vaksin berupa serbuk kristalin putih dalam jumlah kecil, sehingga terkadang sulit terlihat pada dasar vial.
    • Pelarut berupa cairan jernih tidak berwarna dan tidak mengandung partikel yang terlihat.
  • Penampilan setelah rekonstitusi: suspensi homogen yang sedikit opalesen. Perubahan penampilan yang tidak sesuai dengan informasi produk harus dievaluasi sebelum penggunaan.
  • Rekonstitusi: gunakan pelarut khusus yang disediakan bersama vaksin. Jangan menggantinya dengan larutan lain atau mencampurkan vaksin dengan obat maupun vaksin lainnya.
  • Volume setelah rekonstitusi: satu vial dengan volume akhir 1 mL secara nominal setara dengan:
    • 20 dosis bayi masing-masing 0,05 mL; atau
    • 10 dosis masing-masing 0,1 mL untuk anak usia 12 bulan ke atas dan dewasa.
    • Jumlah dosis yang dapat diambil dalam praktik dapat dipengaruhi oleh volume sisa dan teknik penyiapan.
  • Rute pemberian: intradermal (ID) saja, yaitu ke lapisan kulit, menggunakan teknik dan peralatan yang sesuai oleh tenaga kesehatan terlatih.
  • Larangan rute: vaksin tidak boleh diberikan secara intravena, intramuskular, atau subkutan. Penyuntikan terlalu dalam dapat meningkatkan risiko abses dan komplikasi lokal.
  • Penyimpanan sebelum rekonstitusi: simpan pada suhu 2–8 °C dan terlindung dari cahaya. Jangan membekukan vaksin atau pelarut kecuali terdapat ketentuan khusus yang secara eksplisit diizinkan dalam informasi produk.
  • Setelah rekonstitusi: gunakan sesegera mungkin dengan teknik aseptik dan perlindungan dari cahaya. Batas penggunaan maksimum 4 jam setelah rekonstitusi berlaku apabila persyaratan penyimpanan dan penanganan produk terpenuhi; buang lebih cepat apabila terdapat ketentuan operasional yang lebih ketat.
  • Penanganan vial multidose: gunakan jarum dan spuit steril untuk setiap pengambilan dosis. Jangan menyimpan sisa vaksin rekonstitusi untuk sesi imunisasi berikutnya.
  • Stabilitas: karena mengandung bakteri hidup yang dilemahkan, potensi vaksin dipengaruhi oleh suhu, paparan cahaya, waktu setelah rekonstitusi, dan kepatuhan terhadap prosedur penanganan.
  • Perhatian khusus: BCG tidak boleh diberikan kepada individu dengan imunodefisiensi berat atau kontraindikasi lain yang tercantum dalam informasi produk. Pemeriksaan kelayakan klinis harus dilakukan sebelum vaksinasi.
  • Pembuangan: sisa vaksin, vial, jarum, dan bahan yang terkontaminasi harus ditangani sebagai limbah medis sesuai prosedur pengendalian infeksi dan ketentuan yang berlaku.

Kata kunci tercakup: Vaksin BCG SSI Kering, kandungan vaksin BCG, komposisi BCG SSI, zat aktif vaksin BCG, Mycobacterium bovis BCG, Danish Strain 1331, vaksin BCG hidup dilemahkan, BCG live attenuated, dosis BCG bayi 0,05 mL, dosis BCG 0,1 mL, CFU vaksin BCG, vaksin tuberkulosis, vaksin TB bayi, imunisasi BCG, BCG intradermal, vaksin BCG multidose, rekonstitusi vaksin BCG, penyimpanan vaksin BCG, vaksin BCG SSI Indonesia.

Efikasi & Perlindungan

Bagaimana melindungi:

  • Vaksin BCG SSI Kering mengandung Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331, yaitu bakteri hidup yang telah dilemahkan untuk merangsang respons kekebalan terhadap tuberkulosis (TB).
  • Aktivasi kekebalan seluler: setelah pemberian intradermal, bakteri BCG yang dilemahkan dikenali oleh sistem imun dan merangsang aktivitas makrofag, sel penyaji antigen, serta limfosit T yang berperan dalam pertahanan terhadap infeksi mikobakteri.
  • Pembentukan respons imun spesifik: vaksinasi membantu tubuh mengenali antigen mikobakteri sehingga sistem imun dapat merespons lebih efektif apabila terjadi paparan Mycobacterium tuberculosis di kemudian hari.
  • Perlindungan terhadap penyebaran infeksi: manfaat BCG paling konsisten terlihat pada penurunan risiko tuberkulosis milier dan meningitis tuberkulosis, yaitu bentuk TB berat yang terjadi ketika infeksi menyebar ke berbagai organ atau sistem saraf pusat.
  • Perlindungan terhadap TB paru: efektivitas BCG terhadap tuberkulosis paru lebih bervariasi dibandingkan perlindungannya terhadap bentuk TB berat pada anak. Vaksinasi tidak menjamin seseorang terhindar dari infeksi TB atau TB paru.
  • Perlindungan sejak masa bayi: pemberian BCG sedini mungkin bertujuan membangun respons imun sebelum bayi menghadapi risiko paparan TB yang bermakna.

Tingkat efektivitas (ringkas):

  • Perlindungan terhadap meningitis TB dan TB milier: berbagai penelitian dan analisis gabungan menunjukkan bahwa vaksin BCG dapat memberikan perlindungan sekitar 70–85% terhadap bentuk tuberkulosis berat pada anak, meskipun besarnya efek bervariasi menurut populasi, desain penelitian, dan jenis luaran yang dinilai.
  • Perlindungan terhadap TB secara keseluruhan: efektivitas BCG berbeda antarpenelitian dan wilayah geografis. Angka perlindungan tidak dapat disamakan untuk seluruh bentuk penyakit TB, kelompok usia, maupun kondisi epidemiologis.
  • Perlindungan terhadap TB paru: hasil penelitian menunjukkan variasi yang luas, mulai dari perlindungan rendah atau tidak terdeteksi hingga perlindungan yang bermakna pada populasi tertentu. Karena itu, BCG tidak dapat dianggap sebagai pencegahan yang sepenuhnya efektif terhadap TB paru.
  • Manfaat pada bayi dan anak kecil: kelompok ini memperoleh manfaat penting karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyebaran TB ke otak dan organ lain apabila terinfeksi.
  • Faktor yang memengaruhi efektivitas:
    • Usia dan kondisi sistem imun saat vaksinasi.
    • Riwayat paparan atau infeksi mikobakteri sebelum vaksinasi.
    • Perbedaan lingkungan dan epidemiologi tuberkulosis.
    • Variasi strain BCG, proses produksi, serta karakteristik penelitian.
    • Ketepatan dosis, teknik penyuntikan intradermal, dan kualitas penanganan vaksin.
  • Interpretasi angka efektivitas: angka tersebut merupakan estimasi dari penelitian vaksin BCG pada berbagai populasi, bukan jaminan perlindungan individual maupun angka efikasi khusus untuk setiap batch BCG SSI Danish Strain 1331.
  • Perlindungan tidak bersifat absolut: anak yang telah menerima BCG tetap dapat mengalami infeksi TB atau penyakit TB. Oleh karena itu, gejala yang mencurigakan dan riwayat kontak dengan penderita TB tetap harus dievaluasi secara medis.

Onset & durasi proteksi:

  • Awal pembentukan kekebalan: respons imun berkembang secara bertahap dalam beberapa minggu setelah vaksinasi. Perlindungan tidak terbentuk seketika setelah suntikan.
  • Perkembangan respons lokal: benjolan atau kemerahan pada lokasi suntikan dapat muncul setelah beberapa minggu, kemudian berkembang menjadi luka kecil dan parut BCG. Terbentuknya parut bukan ukuran langsung tingkat perlindungan terhadap tuberkulosis.
  • Perlindungan pada masa kanak-kanak: manfaat utama BCG adalah mengurangi risiko TB berat pada bayi dan anak, terutama pada tahun-tahun awal kehidupan.
  • Durasi perlindungan: sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perlindungan BCG dapat bertahan sekitar 10–15 tahun, dengan variasi yang cukup besar antarpenelitian. Beberapa penelitian menemukan perlindungan lebih lama pada populasi tertentu.
  • Penurunan perlindungan: efektivitas dapat berkurang seiring waktu dan tidak dapat diasumsikan tetap sama sepanjang hidup.
  • Booster: pemberian ulang BCG secara rutin tidak direkomendasikan karena bukti yang tersedia tidak menunjukkan manfaat tambahan yang konsisten dari revaksinasi.
  • Parut BCG: tidak munculnya bekas luka setelah vaksinasi tidak secara otomatis berarti vaksin gagal dan bukan alasan untuk melakukan revaksinasi tanpa evaluasi.

Vaksin BCG SSI Kering bukan terapi untuk infeksi atau penyakit tuberkulosis. Vaksin ini tidak dapat menyembuhkan TB aktif, menghilangkan infeksi TB laten, atau menggantikan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) pada individu yang memenuhi indikasi. Bayi atau anak yang telah menerima BCG tetap memerlukan evaluasi apabila mengalami kontak erat dengan penderita TB atau menunjukkan gejala yang mengarah pada tuberkulosis. Vaksinasi BCG juga tidak menjamin perlindungan 100% terhadap seluruh bentuk TB.


Kelompok manfaat terbesar:

  • Bayi baru lahir: kelompok prioritas imunisasi BCG karena perlindungan terhadap bentuk TB berat perlu dibangun sedini mungkin.
  • Bayi dan anak usia dini: memiliki risiko lebih tinggi mengalami meningitis TB dan TB milier dibandingkan kelompok usia yang lebih besar apabila terinfeksi tuberkulosis.
  • Anak yang tinggal di wilayah dengan angka kejadian TB tinggi: memperoleh manfaat dari imunisasi BCG sebagai bagian dari strategi pencegahan tuberkulosis.
  • Anak yang belum menerima imunisasi BCG: dapat memperoleh manfaat melalui imunisasi kejar apabila masih memenuhi indikasi, tidak memiliki kontraindikasi, dan telah menjalani pemeriksaan yang diperlukan.
  • Anak dengan risiko paparan TB di lingkungan keluarga: pencegahan melalui vaksinasi dapat menjadi bagian dari perlindungan kesehatan anak, tetapi kontak erat dengan penderita TB harus dievaluasi terlebih dahulu dan tidak boleh ditangani hanya dengan vaksinasi.
  • Program kesehatan masyarakat: vaksinasi BCG pada bayi membantu mengurangi beban bentuk TB berat pada anak, terutama di negara dengan beban tuberkulosis tinggi seperti Indonesia.

Kata kunci tercakup: Vaksin BCG SSI Kering, efikasi vaksin BCG, efektivitas vaksin BCG, perlindungan vaksin BCG, vaksin tuberkulosis bayi, vaksin TB anak, BCG Danish Strain 1331, manfaat imunisasi BCG, pencegahan meningitis TB, pencegahan TB milier, vaksin BCG untuk bayi baru lahir, efektivitas BCG terhadap TB paru, kekebalan setelah vaksin BCG, durasi perlindungan BCG, booster vaksin BCG, parut vaksin BCG, imunisasi tuberkulosis Indonesia.

Indikasi & Posologi

Indikasi

Vaksin BCG SSI Kering adalah vaksin bakteri hidup yang dilemahkan (live attenuated) yang mengandung Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331. Vaksin ini diindikasikan untuk imunisasi aktif terhadap tuberkulosis (TB), terutama untuk membantu mencegah bentuk TB berat pada bayi dan anak, seperti meningitis tuberkulosis dan TB milier.

Vaksinasi BCG merupakan bagian dari program imunisasi rutin di Indonesia dan dianjurkan sedini mungkin setelah lahir. Perlindungan terhadap TB paru dapat bervariasi, sehingga vaksinasi tidak menggantikan upaya pencegahan penularan, pemeriksaan TB, maupun pengobatan yang diperlukan.

  • Imunisasi rutin bayi: diberikan kepada bayi yang belum pernah menerima BCG, terutama pada usia kurang dari 1 bulan, sesuai jadwal imunisasi nasional.
  • Pencegahan TB berat pada anak: membantu mengurangi risiko meningitis TB, yaitu infeksi tuberkulosis pada selaput otak, dan TB milier, yaitu penyebaran infeksi TB ke berbagai organ.
  • Imunisasi kejar: dapat dipertimbangkan pada bayi atau anak yang belum pernah menerima BCG, setelah evaluasi usia, riwayat paparan TB, dan status kesehatan.
  • Anak di wilayah dengan beban TB tinggi: vaksinasi BCG merupakan bagian penting dari upaya pencegahan TB berat pada anak, termasuk di Indonesia.
  • Individu dengan risiko paparan khusus: pada kelompok usia lebih besar yang belum pernah divaksinasi, pemberian BCG hanya dipertimbangkan berdasarkan rekomendasi resmi, pemeriksaan yang diperlukan, dan keputusan dokter.
  • Kontak erat dengan penderita TB: memerlukan investigasi kontak dan evaluasi infeksi atau penyakit TB sebelum vaksinasi. BCG bukan pengganti terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) atau pengobatan TB aktif.

Posologi (Dosis & Jadwal)

Rute: intradermal (ID), yaitu penyuntikan ke lapisan kulit, menggunakan teknik yang benar oleh tenaga kesehatan terlatih.

Dosis: 0,05 mL untuk bayi usia di bawah 12 bulan dan 0,1 mL untuk anak usia 12 bulan ke atas serta dewasa dengan indikasi khusus, setelah vaksin direkonstitusi sesuai petunjuk produk.

Jumlah pemberian: 1 dosis. Tidak diperlukan booster atau revaksinasi rutin.

  • Imunisasi Primer (Bayi Usia <12 Bulan)
    • Dosis: 0,05 mL intradermal, satu kali pemberian.
    • Kandungan: sekitar 1–4 × 105 CFU BCG Danish Strain 1331 hidup yang dilemahkan per dosis.
    • Waktu ideal: sedini mungkin setelah lahir, dengan sasaran pemberian pada usia kurang dari 1 bulan sesuai jadwal imunisasi Indonesia.
    • Lokasi penyuntikan: daerah lengan atas, umumnya lengan kanan, sesuai prosedur imunisasi dan teknik intradermal yang benar.
    • Jadwal berikutnya: tidak ada dosis lanjutan rutin apabila satu dosis BCG telah diberikan dengan benar.
  • Anak Usia ≥12 Bulan dan Dewasa (Indikasi Khusus)
    • Dosis sesuai informasi produk: 0,1 mL intradermal, satu kali pemberian.
    • Kandungan: sekitar 2–8 × 105 CFU BCG Danish Strain 1331 hidup yang dilemahkan per dosis.
    • Indikasi: pemberian harus berdasarkan rekomendasi resmi dan evaluasi risiko individual. BCG tidak direkomendasikan sebagai imunisasi rutin bagi seluruh orang dewasa.
    • Evaluasi sebelum vaksinasi: dapat mencakup riwayat imunisasi, kontak TB, pemeriksaan tuberkulin, atau pemeriksaan lain sesuai kondisi klinis.
  • Imunisasi Kejar (Catch-up)
    • Bayi yang belum mendapatkan BCG dianjurkan segera menjalani evaluasi untuk menentukan kelayakan vaksinasi.
    • Pada bayi berusia 3 bulan atau lebih, uji tuberkulin dianjurkan sebelum pemberian BCG sesuai pedoman imunisasi Indonesia.
    • Jika hasil uji tuberkulin negatif dan tidak terdapat kontraindikasi, vaksinasi dapat dipertimbangkan berdasarkan usia dan penilaian dokter.
    • Jika hasil uji tuberkulin positif, lakukan evaluasi lebih lanjut terhadap kemungkinan infeksi atau penyakit TB. BCG tidak digunakan untuk mengobati infeksi TB.
    • Keputusan imunisasi kejar pada anak yang lebih besar harus mengikuti pedoman nasional yang berlaku.
  • Riwayat Kontak Erat dengan Penderita TB
    • Lakukan investigasi kontak dan evaluasi kemungkinan infeksi atau penyakit TB sebelum vaksinasi.
    • Apabila ditemukan penyakit TB aktif, berikan pengobatan antituberkulosis sesuai pedoman. Vaksin BCG tidak diberikan sebagai terapi.
    • Apabila anak memenuhi indikasi terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), penentuan waktu vaksinasi harus disesuaikan dengan penanganan TB dan keputusan dokter.
  • Booster dan Revaksinasi
    • Booster BCG tidak dianjurkan secara rutin karena bukti ilmiah belum menunjukkan manfaat tambahan yang konsisten dari pemberian ulang.
    • Tidak terbentuknya parut BCG setelah imunisasi bukan indikasi otomatis untuk mengulang vaksinasi.
    • Apabila dokumentasi imunisasi tidak tersedia atau terdapat keraguan mengenai pemberian sebelumnya, lakukan evaluasi sesuai pedoman imunisasi dan keputusan dokter.

Catatan Praktis

  • Vaksin hidup yang dilemahkan: BCG SSI mengandung bakteri hidup yang telah dilemahkan. Vaksin tidak boleh diberikan kepada individu dengan imunodefisiensi berat, termasuk Severe Combined Immunodeficiency (SCID), atau kondisi lain yang menjadi kontraindikasi.
  • Status HIV: bayi dengan infeksi HIV terkonfirmasi tidak boleh menerima BCG. Bayi yang terpapar HIV tetapi status infeksinya belum diketahui memerlukan penilaian sesuai pedoman nasional sebelum vaksinasi.
  • Teknik intradermal: penyuntikan harus dilakukan tepat ke lapisan kulit. Setelah pemberian yang benar, biasanya terbentuk benjolan kecil atau gelembung pucat (wheal) di lokasi suntikan.
  • Jangan diberikan melalui rute lain: BCG SSI tidak boleh disuntikkan secara intramuskular, subkutan, atau intravena. Teknik penyuntikan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko abses dan komplikasi lokal.
  • Reaksi lokal normal: beberapa minggu setelah vaksinasi dapat muncul benjolan, kemerahan, lepuhan, atau luka kecil yang kemudian mengering dan meninggalkan parut. Proses ini merupakan reaksi lokal yang umum setelah BCG.
  • Perawatan lokasi suntikan: jaga area tetap bersih dan kering. Jangan memencet benjolan, mengoleskan obat tanpa anjuran dokter, atau menutup luka dengan plester kedap secara rutin.
  • Tanda yang memerlukan evaluasi: abses yang membesar, pembengkakan kelenjar getah bening yang besar atau bernanah, luka yang tidak kunjung membaik, demam berkepanjangan, atau kondisi umum yang memburuk.
  • Pemberian bersama vaksin lain: BCG dapat diberikan bersama vaksin rutin yang sesuai usia. Gunakan lokasi suntikan berbeda dan hindari pemberian vaksin lain pada lengan yang sama selama 3 bulan setelah BCG sesuai informasi produk.
  • Rekonstitusi: gunakan hanya pelarut khusus yang disediakan bersama vaksin. Setelah rekonstitusi, vaksin harus ditangani secara aseptik, terlindung dari cahaya, dan digunakan sesuai batas waktu dalam informasi produk.
  • Observasi pascavaksin: lakukan pemantauan minimal 15 menit setelah penyuntikan untuk mendeteksi kemungkinan reaksi alergi segera atau keluhan akut lainnya.
  • Dokumentasi: catat tanggal vaksinasi, dosis, lokasi suntikan, nomor batch, dan identitas produk dalam rekam medis serta buku atau catatan imunisasi pasien.
  • Perlindungan tidak absolut: vaksinasi BCG terutama membantu mencegah bentuk TB berat pada anak. Bayi atau anak yang telah divaksinasi tetap memerlukan pemeriksaan apabila memiliki gejala TB atau kontak erat dengan penderita TB menular.

Kata kunci tercakup: Vaksin BCG SSI Kering, indikasi vaksin BCG, posologi vaksin BCG, dosis vaksin BCG bayi, BCG 0,05 mL, BCG 0,1 mL, vaksin BCG intradermal, jadwal imunisasi BCG, imunisasi BCG bayi baru lahir, vaksin tuberkulosis bayi, vaksin TB anak, BCG Danish Strain 1331, imunisasi kejar BCG, tes tuberkulin sebelum BCG, vaksin BCG usia 3 bulan, vaksin BCG usia 12 bulan, booster BCG, revaksinasi BCG, pencegahan meningitis TB, pencegahan TB milier, imunisasi BCG Indonesia.

Profil Keamanan Singkat

Vaksin BCG SSI Kering adalah vaksin bakteri hidup yang dilemahkan (live attenuated) yang mengandung Mycobacterium bovis Bacillus Calmette-Guérin (BCG), Danish Strain 1331. Vaksin ini memiliki riwayat penggunaan yang luas dalam program imunisasi bayi untuk membantu mencegah bentuk tuberkulosis (TB) berat, terutama meningitis TB dan TB milier.

Pada bayi dan anak dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, profil keamanan BCG umumnya baik. Berbeda dari banyak vaksin injeksi lainnya, BCG dapat menimbulkan reaksi lokal khas yang berkembang secara bertahap selama beberapa minggu, berupa benjolan kecil, lepuhan atau luka dangkal, kemudian penyembuhan dengan atau tanpa parut.

Sebagian besar reaksi lokal bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri. Namun, karena mengandung bakteri hidup yang dilemahkan, BCG memiliki risiko komplikasi serius pada individu dengan imunodefisiensi berat. Pemeriksaan kelayakan klinis sebelum vaksinasi sangat penting.


Efek Samping Umum (0–7 hari)

Lokal (di tempat suntik, ID):

  • Benjolan kecil atau gelembung pucat (wheal): biasanya muncul segera setelah penyuntikan intradermal yang benar dan akan menghilang dalam waktu singkat.
  • Kemerahan atau pembengkakan ringan: dapat muncul pada area suntikan, umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus.
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman ringan: dapat terjadi sesaat setelah penyuntikan dan biasanya membaik dengan sendirinya.
  • Reaksi lokal tertunda: beberapa minggu setelah vaksinasi dapat terbentuk benjolan kemerahan yang berkembang menjadi lepuhan atau luka kecil, kemudian mengering dan meninggalkan parut BCG. Reaksi ini merupakan bagian dari respons lokal yang umum dan tidak harus muncul dalam 7 hari pertama.

Sistemik:

  • Demam ringan atau perubahan kenyamanan sementara: dapat terjadi setelah imunisasi, tetapi tidak selalu disebabkan oleh BCG. Demam yang menetap atau disertai kondisi umum memburuk perlu dievaluasi.
  • Rewel (iritabilitas): sebagian bayi dapat tampak lebih rewel setelah prosedur penyuntikan. Keluhan biasanya sementara.
  • Pembesaran kelenjar getah bening regional: dapat terjadi pada kelenjar di ketiak atau sekitar lokasi penyuntikan, biasanya muncul beberapa minggu hingga bulan setelah vaksinasi. Pembengkakan yang besar, nyeri, bernanah, atau menetap memerlukan pemeriksaan dokter.

Penanganan mandiri: jaga area suntikan tetap bersih dan kering. Tidak diperlukan pemberian salep, antibiotik, antiseptik, atau plester secara rutin pada reaksi BCG yang normal. Jangan memencet benjolan, menggaruk, atau memecahkan lepuhan. Bayi dapat tetap menerima ASI atau susu seperti biasa. Apabila timbul demam atau keluhan lain, konsultasikan penggunaan obat sesuai usia dan berat badan kepada tenaga kesehatan.

Perkembangan Bekas Luka Vaksin BCG


Reaksi Sedang–Berat (Jarang)

  • Abses lokal: terbentuknya kumpulan nanah atau pembengkakan besar di lokasi suntikan. Risiko dapat meningkat apabila vaksin diberikan terlalu dalam atau menggunakan teknik penyuntikan yang tidak tepat. Abses yang membesar, nyeri, atau tidak membaik memerlukan evaluasi medis.
  • Limfadenitis regional: pembesaran kelenjar getah bening, terutama di ketiak pada sisi suntikan. Sebagian kasus dapat berkembang menjadi limfadenitis supuratif, yaitu pembengkakan kelenjar yang mengandung nanah dan memerlukan penanganan dokter.
  • Ulkus lokal yang luas atau berkepanjangan: luka BCG yang semakin besar, mengeluarkan cairan berlebihan, atau tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu lama perlu diperiksa untuk membedakan reaksi normal dari komplikasi.
  • Osteitis atau osteomielitis akibat BCG: komplikasi sangat jarang berupa peradangan atau infeksi tulang yang berhubungan dengan bakteri vaksin. Gejala dapat muncul beberapa bulan setelah vaksinasi dan memerlukan evaluasi serta penanganan spesialis.
  • Infeksi BCG diseminata: komplikasi sangat jarang tetapi serius ketika bakteri vaksin menyebar ke berbagai organ. Risiko terutama ditemukan pada bayi atau anak dengan imunodefisiensi berat, termasuk SCID. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain demam berkepanjangan, gagal tumbuh, pembesaran kelenjar atau organ, serta kondisi umum yang semakin memburuk.
  • Reaksi alergi berat/anafilaksis: sangat jarang, tetapi dapat ditandai dengan sesak napas, pembengkakan wajah atau tenggorokan, urtikaria menyeluruh, pucat, atau penurunan kesadaran → darurat medis.
  • Demam tinggi atau penyakit sistemik: demam tinggi, bayi tampak sangat lemas, sulit menyusu, atau mengalami penurunan kesadaran memerlukan pemeriksaan medis segera. Gejala tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai efek samping vaksin tanpa evaluasi penyebab lainnya.

Kontraindikasi & Penundaan

  • Kontraindikasi: riwayat anafilaksis terhadap vaksin BCG atau hipersensitivitas berat terhadap salah satu komponen vaksin.
  • Imunodefisiensi berat: BCG tidak boleh diberikan kepada individu dengan Severe Combined Immunodeficiency (SCID), gangguan imunitas seluler berat, atau kondisi imunokompromais bermakna lainnya karena risiko infeksi BCG diseminata.
  • Infeksi HIV: bayi atau anak dengan infeksi HIV yang telah terkonfirmasi tidak boleh menerima BCG. Bayi yang terpapar HIV tetapi status infeksinya belum diketahui memerlukan penilaian sesuai pedoman nasional dan kondisi klinis sebelum vaksinasi.
  • Terapi imunosupresif: vaksinasi dikontraindikasikan atau harus ditunda pada pasien yang menerima terapi yang menyebabkan imunosupresi bermakna, seperti kemoterapi, kortikosteroid sistemik dosis imunosupresif, atau obat biologis tertentu.
  • Paparan obat biologis selama kehamilan: bayi yang terpapar obat imunosupresif tertentu, terutama penghambat TNF-alfa, memerlukan evaluasi khusus karena efek imunosupresi dapat bertahan setelah lahir.
  • Tunda: penyakit akut berat dengan atau tanpa demam, kondisi klinis yang belum stabil, atau infeksi kulit bermakna pada lokasi penyuntikan hingga kondisi memungkinkan. Infeksi ringan tanpa gangguan kondisi umum biasanya bukan alasan penundaan.
  • Infeksi atau penyakit TB: pasien dengan dugaan TB aktif atau hasil pemeriksaan yang menunjukkan kemungkinan infeksi TB harus dievaluasi sebelum vaksinasi. BCG bukan pengobatan TB dan tidak digunakan untuk mengatasi infeksi yang telah terjadi.
  • Riwayat uji tuberkulin positif: memerlukan evaluasi kemungkinan infeksi TB. Vaksinasi tidak dilakukan secara otomatis pada individu dengan bukti infeksi TB sebelumnya.

Populasi Khusus

  • Kehamilan: BCG merupakan vaksin hidup yang dilemahkan dan tidak direkomendasikan selama kehamilan. Individu hamil dengan risiko paparan TB memerlukan evaluasi dan strategi pencegahan berdasarkan pedoman klinis.
  • Menyusui: vaksin BCG tidak diberikan secara rutin kepada ibu menyusui. Namun, bayi yang menerima ASI tetap dapat menerima BCG apabila memenuhi syarat klinis. Tidak diperlukan penghentian ASI sebelum atau setelah vaksinasi bayi.
  • Bayi prematur: vaksinasi dapat dipertimbangkan berdasarkan usia kronologis, stabilitas klinis, dan kondisi imunologis. Bayi prematur yang belum stabil atau masih memerlukan perawatan intensif harus dievaluasi sebelum pemberian.
  • Bayi dengan berat badan lahir rendah: penentuan waktu vaksinasi mengikuti pedoman imunisasi dan penilaian klinis. Berat badan rendah perlu dipertimbangkan bersama kondisi kesehatan bayi, bukan sebagai satu-satunya dasar keputusan.
  • Bayi yang lahir dari ibu dengan HIV: memerlukan evaluasi status HIV bayi, risiko imunodefisiensi, dan rekomendasi klinis sebelum menerima vaksin hidup BCG.
  • Imunokompromais: individu dengan imunodefisiensi berat tidak boleh menerima BCG. Pada pasien dengan dugaan gangguan kekebalan tubuh, vaksinasi harus ditunda sampai penilaian yang diperlukan selesai.
  • Riwayat kontak erat penderita TB: bayi atau anak yang tinggal bersama penderita TB menular memerlukan investigasi kontak dan evaluasi penyakit TB. Jika terdapat indikasi terapi pencegahan tuberkulosis (TPT), waktu pemberian BCG harus disesuaikan dengan penanganan klinis.
  • Riwayat vaksinasi BCG sebelumnya: revaksinasi tidak direkomendasikan secara rutin, termasuk hanya karena parut BCG tidak terlihat. Evaluasi dilakukan berdasarkan dokumentasi imunisasi dan pedoman yang berlaku.
  • Anak usia lebih besar dan dewasa: BCG tidak diberikan secara rutin kepada seluruh kelompok usia ini. Pemberian hanya dipertimbangkan apabila terdapat indikasi khusus, tidak ada kontraindikasi, dan telah dilakukan evaluasi risiko serta pemeriksaan yang diperlukan.

Interaksi/Koadministrasi

  • BCG SSI dapat diberikan bersamaan dengan vaksin rutin bayi yang sesuai usia, termasuk vaksin Hepatitis B, polio, DTP, Hib, dan vaksin lainnya, berdasarkan rekomendasi imunisasi dan penilaian dokter.
  • Secara prinsip, BCG dapat diberikan pada hari yang sama dengan vaksin hidup maupun inaktif lainnya. Untuk vaksin hidup suntik tertentu yang tidak diberikan pada hari yang sama, umumnya diperlukan interval minimal 4 minggu sesuai pedoman imunisasi.
  • Lokasi suntikan: gunakan lokasi yang berbeda untuk setiap vaksin. Vaksin lain yang diberikan bersamaan dengan BCG sebaiknya disuntikkan pada lengan yang berbeda.
  • Perhatian pada lengan yang menerima BCG: hindari penyuntikan vaksin lain pada lengan yang sama selama 3 bulan setelah vaksinasi BCG, sesuai informasi produk, untuk mengurangi risiko limfadenitis regional.
  • Jangan mencampurkan BCG dengan vaksin atau obat lain dalam satu spuit. Rekonstitusi harus menggunakan pelarut khusus yang disediakan bersama produk.
  • Obat antituberkulosis: obat yang memiliki aktivitas terhadap mikobakteri dapat menghambat pertumbuhan bakteri BCG hidup. Riwayat penggunaan obat antituberkulosis harus diinformasikan kepada dokter sebelum vaksinasi.
  • Obat imunosupresif: kemoterapi, kortikosteroid sistemik dosis imunosupresif, dan terapi biologis tertentu dapat meningkatkan risiko komplikasi akibat vaksin hidup. Pemberian BCG harus mengikuti kontraindikasi dan rekomendasi waktu vaksinasi yang berlaku.
  • Imunoglobulin dan produk darah: riwayat pemberian produk darah atau imunoglobulin perlu diinformasikan kepada dokter. Penentuan jadwal vaksinasi dilakukan berdasarkan kondisi klinis dan pedoman yang berlaku.

Setelah Vaksin di Vaxcorp

  • Observasi minimal 15 menit pasca suntik untuk memantau kemungkinan reaksi alergi segera atau keluhan akut lainnya.
  • Berikan edukasi tertulis pasca-vaksin kepada orang tua/wali mengenai perkembangan reaksi lokal BCG yang normal, perawatan lokasi suntikan, tanda bahaya, serta akses hotline/WhatsApp Vaxcorp Indonesia untuk konsultasi keluhan.
  • Jelaskan bahwa benjolan, lepuhan, atau luka kecil dapat muncul beberapa minggu setelah vaksinasi dan kemudian sembuh secara bertahap. Jangan memencet, menggaruk, atau mengoleskan obat tanpa anjuran dokter pada lokasi suntikan.
  • Ingatkan orang tua untuk segera menghubungi tenaga kesehatan apabila muncul abses yang membesar, pembengkakan kelenjar getah bening bernanah, luka yang semakin luas, demam berkepanjangan, atau bayi tampak sangat lemas.
  • Catat tanggal vaksinasi, merek vaksin, nomor batch, dosis, rute intradermal, dan lokasi suntikan dalam rekam medis serta dokumentasi imunisasi pasien. BCG umumnya diberikan satu kali tanpa booster rutin.
  • Pastikan penanganan vial dan sisa vaksin yang telah direkonstitusi mengikuti prosedur aseptik, batas waktu penggunaan, dan ketentuan pembuangan limbah medis yang berlaku.
  • Dugaan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) signifikan, termasuk limfadenitis supuratif, infeksi BCG diseminata, atau reaksi alergi berat, akan dievaluasi dan dilaporkan sesuai prosedur yang berlaku.

*Harga vaksinasi per dosis per pax. *Harga sudah termasuk biaya pelayanan;

Biaya pelayanan termasuk:

  • Konsultasi & Tindakan Dokter

  • Alat Habis Pakai

  • Rekam Medis E-Certificate Vaksinasi

Add-on Kunjungan Klinik (Walk-in): Rp. 0 / pertemuan per dosis Add-on VIP Layanan vaksinasi di rumah: Rp. 500,000 / kunjungan (DKI Jakarta)

rekomendasi vaksinasi Lokasi: Klinik Vaksinasi Vaxcorp Indonesia

Rekomendasi Layanan