Deskripsi
- Ringkasan
- Anjuran
- Kandungan
- Efikasi
- Indikasi
- Keamanan
Varivax – Vaksin Cacar Air (Varicella), Live-attenuated
Varivax adalah vaksin cacar air dari virus hidup-teratenuasi Varicella zoster strain Oka/Merck yang dilemahkan dengan metode preparat terliofilisasi (pengeringan beku). Vaksin ini diindikasikan untuk perlindungan aktif terhadap cacar air (chicken pox / varicella). Cacar air merupakan penyakit infeksi sangat menular yang dapat menimbulkan demam tinggi, lesi luas, infeksi kulit sekunder, pneumonia, hingga komplikasi berat pada dewasa, bumil, dan imunokompromais. Vaksinasi dini menurunkan kejadian rawat inap dan komplikasi serta mengurangi risiko herpes zoster di kemudian hari.
Siapa yang disarankan:
Anak ≥12 bulan (program rutin).
Remaja & dewasa yang belum pernah vaksin dan atau memiliki dokumentasi varicella yang jelas.
Kandidat pra-kehamilan (vaksin sebelum hamil, lalu tunda hamil ≥1 bulan).
Pekerja/sektor padat kontak (tenaga kesehatan, guru, asrama, layanan publik).
Manfaat utama:
Proteksi efektif terhadap varicella bergejala & berat, memutus rantai penularan di rumah tangga dan sekolah.
Post-exposure: bila diberikan ≤3–5 hari setelah pajanan, dapat mencegah/meringankan penyakit.
Membentuk kekebalan jangka panjang; populasi tervaksin memiliki lesi lebih sedikit, durasi sakit lebih singkat, serta mengurangi risiko komplikasi terkait varicella.
Regimen singkat (detail lihat tab Anjuran):
Usia 12 bln–12 th: 2 dosis SC 0,5 mL (interval ≥3 bulan; program IDAI: Berikan dosis-1 pada Usia 12 bulan, diikuti dosis-2 dengan interval 3 bulan; minimal interval 6 minggu bila perlu dipercepat, mis. perjalanan/wabah).
Usia ≥13 th (remaja/dewasa): 2 dosis SC 0,5 mL (interval 4–8 minggu).
Rute: subkutan (deltoid/anterolateral paha).
Keamanan & perhatian ringkas:
Reaksi pasca-vaksinasi biasanya ringan–sedang dan sementara (±1–3 hari): nyeri/kemerahan/bengkak di tempat suntik, lelah, sakit kepala, demam ringan. Ruam varicella ringan (beberapa lesi) bisa muncul 5–26 hari pasca vaksin—biasanya cepat sembuh.
Penanganan: kompres dingin, hidrasi/istirahat; analgesik/antipiretik OTC sesuai saran nakes. Tutup lesi bila ada ruam.
Perhatian khusus:
Obat antivirus anti-VZV (acyclovir/valacyclovir/famciclovir) dapat menurunkan respons; bila bisa, hindari 24 jam sebelum dan 14 hari setelah vaksin.
- ImmunoGlobulin (IG) dan produk darah lainnya tidak boleh diberikan bersamaan dengan VARIVAX.
Salicylate/aspirin: hindari 6 minggu pasca vaksin (risiko sindrom Reye pada anak/remaja).
TST/IGRA (tes TB): lakukan di hari yang sama atau tunda 4–6 minggu setelah vaksin hidup.
Penularan virus vaksin: jarang; risiko terutama bila muncul ruam. Tutup lesi dan hindari kontak dekat dengan bayi baru lahir, ibu hamil yang rentan, dan imunokompromais sampai ruam sembuh.
Komposisi Vaksin Varivax, Live-attenuated
Satu dosis (0,5 mL) setelah rekonstitusi mengandung:
- Varicella virus, Oka/Merck strain: ≥ 1350 PFU
- Daftar eksipien lengkap, lihat Tab Kandungan
Pemberian Varivax dengan Vaksin Lain
Varivax adalah vaksin hidup-teratenuasi (SC). Ia boleh diberikan bersamaan dengan vaksin inaktif—mis. influenza (Influvac Tetra), pneumokokus (PCV20), Tdap, COVID-19, hepatitis—selama lokasi suntik berbeda (mis. deltoid kiri/kanan). Dengan vaksin hidup lain (mis. MMR, Qdenga/TAK-003, varisela lain), gunakan aturan: hari yang sama (titik suntik berbeda) atau bila tidak bersamaan, beri jeda ≥4 minggu untuk mencegah interferensi respons imun.
Pada jadwal yang padat, koadministrasi membantu mengurangi kunjungan tanpa menurunkan efektivitas bermakna. Harapkan reaksi lokal (nyeri/kemerahan/bengkak) dan keluhan sistemik ringan (lelah/nyeri otot/demam ringan) bisa sedikit lebih terasa saat beberapa vaksin diberikan di hari yang sama—umumnya ringan & sementara. Untuk anak, nakes akan memilih kombinasi terbaik (mis. MMR + Varivax di hari yang sama) dan menjaga jarak antar suntikan di satu lengan bila perlu. Catatan tambahan: bila perlu tes TB (TST/IGRA), lakukan di hari yang sama dengan Varivax atau tunda 4–6 minggu setelahnya.
Vaksin saat hamil / menyusui:
Kehamilan: Varivax adalah vaksin hidup-teratenuasi → tidak direkomendasikan saat hamil. Bila merencanakan kehamilan, vaksinlah sebelum hamil dan tunda kehamilan ≥1 bulan setelah tiap dosis. Jika ibu hamil terpajan varicella dan belum kebal, jangan vaksin—pertimbangkan imunoglobulin varicella-zoster (VZIG) sedini mungkin untuk menurunkan risiko penyakit berat; antivirus dapat dipertimbangkan sesuai penilaian dokter. Tunda Varivax hingga pasca-persalinan lalu lengkapi seri.
Menyusui: Boleh & aman diberikan saat menyusui. Vaksin varicella tidak mengandung virus liar (hidup) dan tidak mengganggu produksi ASI; transmisi melalui ASI sangat tidak mungkin. Jika muncul ruam pasca vaksin, tutup lesi dan hindari kontak dekat dengan bayi/imunokompromais hingga sembuh. Jika perlu vaksin lain (mis. Tdap, pneumokokus, influenza), koadministrasi dimungkinkan di lokasi suntik berbeda.
Kemasan :

1 vial bubuk terliofilisasi + 1 pelarut dalam prefilled syringe + 2 jarum
Merek: VARIVAX
Diproduksi oleh: Merck Sharpe & Dohme (MSD)
Distribusi oleh: PT MSD Indonesia
Anjuran Pemberian & Rekomendasi Dosis
Siapa yang Dianjurkan
Anak ≥12 bulan (imunisasi rutin).
Remaja & Dewasa yang belum pernah vaksin atau tidak jelas riwayat varicella (tidak ingat atau dokumentasi vaksinasi tidak ada).
Tenaga kesehatan, guru/asrama, pekerja layanan publik, calon pengantin/pra-kehamilan (selesaikan sebelum hamil).
Post-exposure (kontak erat rumah/sekolah) pada individu non-imun.
Siapa yang tidak perlu
Bukti kekebalan memadai: riwayat varicella/zoster yang jelas, hasil serologi protektif, atau dua dosis vaksin terdokumentasi.
Jadwal & Dosis (SC deltoid / anterolateral paha, 0,5 mL)
- Remaja ≥ 13 tahun & Dewasa
- Diberikan 2 dosis masing-masing 0,5 mL secara subkutan (SC), dengan interval antar dosis 4 minggu.
- Wanita Usia Subur: Sebagai rencana vaksinasi pra-kehamilan, lengkapi 2 dosis, dengan interval 4 minggu. Tunda kehamilan setidaknya 1 bulan setelah dosis kedua. Jangan diberikan saat hamil!
- Populasi anak (Usia 12 bulan hingga 12 tahun)
- 2 dosis masing-masing 0,5 mL secara subkutan (SC), dengan interval ≥3 bulan
- Program Rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia): 12 bulan & 18 bulan.
- Situs injeksi: Anterolateral paha pada anak usia di bawah 2 tahun, Deltoid pada anak usia di atas 2 tahun.
- Catch-up (Jadwal Kejar): Bila terlambat memulai vaksinasi varicella, segera mulai kapan saja secepatnya.
Waktu ideal: Sesuai rekomendasi. Apabila molor / terlambat, kejar secepatnya.
- PEP (Post-exposure Prophylaxis)
Berikan Varivax sedini mungkin, idealnya ≤3 hari (masih bermanfaat hingga 5 hari) setelah pajanan pada individu non-imun untuk mencegah/meringankan penyakit.
Ibu hamil non-imun: jangan Varivax; pertimbangkan VZIG sedini mungkin dan tata laksana oleh dokter.
Koadministrasi (Pada Hari yang Sama)
Dapat diberikan bersamaan dengan vaksin hidup lainnya seperti vaksin MMR atau vaksin Dengue (hari yang sama, lokasi berbeda). Jika tidak bersamaan, beri jarak ≥4 minggu antar vaksin hidup.
Tes TB (TST/IGRA): lakukan di hari yang sama atau tunda 4–6 minggu pasca Varivax.
- Kontraindikasi: kehamilan & imunokompromais berat; tunda saat demam ≥38 °C/penyakit akut sedang–berat.
Siapa yang Perlu Konsultasi Dulu
Alergi berat/anafilaksis terhadap gelatin atau neomisin, atau reaksi berat pada dosis varicella sebelumnya.
Kehamilan atau berencana hamil dalam 1 bulan ke depan (tunda; bahas rencana imunisasi pra-kehamilan & VZIG bila terpajan).
Imunokompromais berat (kemoterapi aktif, transplantasi, defisiensi imun berat, terapi biologik/imunosupresif dosis tinggi).
Demam ≥38 °C atau penyakit akut sedang–berat → tunda sampai membaik.
Konsumsi antivirus anti-VZV (acyclovir/valacyclovir/famciclovir): idealnya hindari 24 jam sebelum dan 14 hari sesudah vaksin.
Riwayat salisilat/aspirin pada anak & remaja: rencanakan pantang 6 minggu pasca vaksin (risiko Reye).
Pernah menerima produk darah/Ig baru-baru ini: mungkin perlu menunggu 3–11 bulan (bergantung jenis/ dosis) sebelum vaksin hidup; konfirmasi intervalnya.
Kontak serumah sangat rentan (neonatus, ibu hamil rentan, imunokompromais berat): boleh vaksin, tapi diskusikan mitigasi bila muncul ruam pasca vaksin (tutup lesi, batasi kontak dekat hingga sembuh).
Gangguan perdarahan/terapi antikoagulan: rute SC umumnya aman, namun tetap rencanakan teknik dan penekanan lebih lama.
Persiapan & Pasca-Vaksin
Bawa riwayat alergi/obat, makan minum cukup, istirahat.
Efek samping umum: nyeri/kemerahan suntikan, lelah, nyeri otot, demam ringan (1–3 hari). Kompres dingin & analgesik OTC bila perlu.
Observasi 10–15 menit pasca suntik; hubungi kami bila gejala berat/berkepanjangan.
Zat Aktif
Nama produk: Varivax — Vaksin Varicella, Live (Oka/Merck)
Tipe: Vaksin hidup-teratenuasi untuk pencegahan cacar air (varicella); diproduksi pada sel diploid janin manusia (MRC-5)
Komposisi per dosis
Satu dosis (0,5 mL) Varivax, setelah rekonstitusi mengandung:
- Varicella virus, Oka/Merck strain: ≥ 1350 PFU
Eksipien & jejak residu (dapat bervariasi menurut label):
- Stabilisator:
- Sukrosa — ± 24 mg
- Gelatin terhidrolisis — ± 12 mg
- Buffer/garam:
- Natrium klorida — ± 3.1 mg
- Natrium fosfat dibasa — ± 0.44 mg
- Kalium fosfat monobasa — ± 0.08 mg
- Kalium klorida — ± 0.08 mg
- Lainnya:
- Monosodium L-glutamate — ± 0.5 mg
- Produk ini juga mengandung komponen residu sel MRC-5, termasuk DNA dan protein, serta sejumlah kecil natrium fosfat monobasik, EDTA, neomisin, dan serum janin sapi.
- Produk ini tidak mengandung bahan pengawet.
Sediaan & penanganan
Sediaan: liofilisat (bubuk) + pelarut 0,5 mL (air steril untuk injeksi).
Rekonstitusi: gunakan seluruh 0,5 mL pelarut; kocok perlahan sampai homogen; jangan campur dengan vaksin/obat lain dalam 1 spuit.
Penampilan: larutan jernih–opalesen, tanpa partikel.
Simpan dingin sesuai label (umumnya 2–8 °C; beberapa label mengizinkan beku ≤-15 °C sebelum distribusi).
Lindungi dari cahaya. Jangan dibekukan setelah rekonstitusi.
Gunakan segera setelah rekonstitusi (ideal ≤30 menit); buang sisa sesuai prosedur limbah medis.
Kata kunci tercakup: Varivax, vaksin varicella hidup-teratenuasi, Oka/Merck, MRC-5, gelatin, neomisin, liofilisat + pelarut 0,5 mL, subkutan, penyimpanan 2–8 °C, stabilitas pasca-rekonstitusi.
Efikasi & Perlindungan
Bagaimana melindungi:
Live-attenuated Oka/Merck: Varivax berisi virus varicella-zoster yang dilemahkan sehingga meniru infeksi alami tanpa menyebabkan penyakit berat. Ini memicu respons imun menyeluruh.
Antibodi penetral (humoral): Glikoprotein permukaan VZV merangsang IgG penetral (neutralizing antibodies) yang mencegah masuknya virus ke sel dan membatasi viremia saat terpajan. Dosis-2 menaikkan titer dan menutup celah kegagalan primer.
Imunitas seluler: Aktivasi sel T CD4⁺/CD8⁺ menghasilkan eliminasi cepat sel terinfeksi dan memori jangka panjang, sehingga bila terpapar di kemudian hari, penyakit lebih jarang atau jauh lebih ringan.
Efek populasi & PEP: Kekebalan individu mengurangi transmisi di rumah tangga/sekolah (herd effect). Pada pajanan, pemberian ≤3–5 hari dapat mencegah/meringankan penyakit dengan mempercepat respons antibodi dan sel T sebelum virus menyebar luas.
Catatan klinis: Varivax tidak mengobati infeksi yang sudah berjalan; proteksi optimal setelah 2 dosis SC sesuai usia.
Tingkat efektivitas (realistis & musiman):
Serokonversi setelah 1 dosis umumnya ≥95%; 2 dosis mendekati ~99%.
Efektivitas dunia nyata: 1 dosis melindungi ±80–85% dari semua varicella dan >95% dari kasus sedang–berat; 2 dosis meningkatkan proteksi terhadap semua derajat penyakit menjadi ±92–98% dan ~100% terhadap penyakit berat.
Breakthrough varicella (jika tetap terinfeksi) biasanya ringan: lesi lebih sedikit, durasi lebih singkat, dan penularan lebih rendah dibanding varicella alami—namun tetap dapat menular.
Onset & durasi proteksi:
Kekebalan mulai terbentuk dalam ~2 minggu pasca dosis-1; dosis-2 meningkatkan titer dan menutup celah kegagalan primer.
Durabilitas jangka panjang baik (bertahun-tahun); strategi 2 dosis mengurangi wabah di sekolah dan risiko sakit saat dewasa.
Post-Exposure Prophylaxis (PEP)
Pada individu non-imun yang terpajan, Varivax memberi manfaat bila diberikan ≤3 hari (masih bermanfaat hingga 5 hari) setelah pajanan: dapat mencegah atau meringankan penyakit.
Untuk bumil non-imun atau imunokompromais berat, vaksin tidak diberikan; pertimbangkan VZIG dan tata laksana khusus.
Dampak populasi & zoster
Cakupan tinggi memutus transmisi (rumah tangga/sekolah), menurunkan rawat inap dan komplikasi.
Riwayat vaksinasi varicella pada masa kanak-kanak dikaitkan dengan risiko herpes zoster yang lebih rendah dibanding infeksi alami; perlindungan terhadap zoster pada usia lanjut tetap mengandalkan vaksin zoster khusus saat dewasa.
Kelompok manfaat terbesar:
Anak ≥12 bulan & usia sekolah: menurunkan kejadian wabah di PAUD/sekolah, absensi, dan komplikasi (infeksi kulit sekunder, pneumonia).
Remaja & dewasa non-imun: risiko varicella lebih berat dibanding anak; vaksinasi dua dosis menurunkan rawat inap & durasi sakit.
Tenaga kesehatan, guru, penghuni/asrama & pekerja layanan publik: paparan tinggi & potensi menulari kelompok rentan—vaksinasi mengurangi transmisi institusional.
Calon pengantin/pra-kehamilan (belum kebal): mencegah varicella saat hamil (risiko pneumonia ibu & sindrom kongenital); lakukan sebelum hamil, tunda hamil ≥1 bulan pasca dosis.
Kontak serumah dengan bayi baru lahir, ibu hamil rentan, atau imunokompromais: “cocooning” melindungi anggota keluarga berisiko tinggi.
Post-exposure pada individu non-imun: pemberian ≤3–5 hari pasca pajanan dapat mencegah/meringankan penyakit.
Pelancong, mahasiswa/dormitory, pekerja lapangan: mobilitas & hunian padat meningkatkan peluang paparan—vaksinasi memberi perlindungan praktis & jangka panjang.
Kata kunci tercakup: efikasi Varivax, serokonversi, dua dosis varicella, breakthrough ringan, PEP Varicella, durasi proteksi Varivax, reduksi wabah sekolah, risiko zoster lebih rendah.
Indikasi & Posologi
Indikasi
Varivax diindikasikan untuk pencegahan cacar air (varicella) pada:
Anak usia ≥12 bulan (imunisasi rutin).
Remaja & dewasa yang belum pernah vaksin atau riwayat varicella tidak jelas/tidak ada bukti kekebalan.
Profilaksis pasca-pajanan (PEP) pada individu non-imun setelah kontak erat varicella.
Tidak untuk pengobatan infeksi varicella yang sedang berlangsung; kontraindikasi pada kehamilan dan imunokompromais berat.
Posologi (Dosis & Jadwal)
Rute: SC (subkutan), preferensi otot deltoid atau otot anterolateral paha pada bayi di bawah 2 tahun; jangan berikan IM/IV.
Frekuensi: sesuai rekomendasi jadwal
- Remaja ≥ 13 tahun & Dewasa
- Diberikan 2 dosis masing-masing 0,5 mL secara subkutan (SC), dengan interval antar dosis 4 minggu.
- Wanita Usia Subur: Sebagai rencana vaksinasi pra-kehamilan, lengkapi 2 dosis, dengan interval 4 minggu. Tunda kehamilan setidaknya 1 bulan setelah dosis kedua. Jangan diberikan saat hamil!
- Populasi anak (Usia 12 bulan hingga 12 tahun)
- 2 dosis masing-masing 0,5 mL secara subkutan (SC), dengan interval ≥3 bulan
- Program Rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia): usia 12 bulan & 18 bulan.
- Situs injeksi: Anterolateral paha pada anak usia di bawah 2 tahun, Deltoid pada anak usia di atas 2 tahun.
- Catch-up (Jadwal Kejar): Bila terlambat memulai vaksinasi varicella, segera mulai kapan saja secepatnya.
Waktu ideal: Sesuai rekomendasi. Apabila molor / terlambat, kejar secepatnya.
- PEP (Post-exposure Prophylaxis)
Berikan Varivax sedini mungkin, idealnya ≤3 hari (masih bermanfaat hingga 5 hari) setelah pajanan pada individu non-imun untuk mencegah/meringankan penyakit.
Ibu hamil non-imun: jangan Varivax; pertimbangkan VZIG sedini mungkin dan tata laksana oleh dokter.
Jika terlambat/terlewat: lanjutkan sesegera mungkin; tidak perlu ulang dari awal.
Riwayat tidak jelas: tes serologi opsional (tidak umum dilakukan); boleh langsung vaksin (2 dosis) untuk memastikan perlindungan.
Catatan Praktis
Koadministrasi
Boleh bersamaan dengan vaksin inaktif (influenza, Tdap, pneumokokus, COVID-19) di lokasi suntik berbeda.
Dengan MMR / vaksin hidup lain: hari yang sama atau beri jeda ≥4 minggu bila tidak bersamaan.
Observasi 10–15 menit pasca suntik; edukasi gejala ringan yang umum (lihat Tab 6).
Antivirus anti-VZV (acyclovir/valacyclovir/famciclovir): idealnya hindari 24 jam sebelum dan 14 hari setelah vaksin.
Aspirin/salisilat (anak & remaja): hindari 6 minggu pasca vaksin.
Tes TB (TST/IGRA): lakukan di hari yang sama atau tunda 4–6 minggu setelah vaksin hidup.
Bukti kekebalan memadai (riwayat varicella/zoster jelas, serologi protektif, atau dokumentasi 2 dosis) → tidak perlu vaksin.
Profil Keamanan Singkat
Varivax adalah vaksin hidup-atenuasi (SC) dengan profil keamanan baik pada anak ≥12 bulan, remaja, dan dewasa non-imun. Keluhan pasca suntik umumnya ringan–sedang dan sementara (±1–3 hari).
Efek Samping Umum (0–7 hari)
Lokal (di tempat suntik, IM deltoid):
Nyeri (paling sering), kemerahan, bengkak/indurasi, rasa hangat/nyeri tekan.
- Ruam pasca vaksin (vaccine-related rash): beberapa lesi varicella bisa muncul hari ke-5 s.d. ke-26; biasanya ringan & cepat sembuh.
Sistemik:
Lelah, nyeri otot/pegal, sakit kepala, demam ringan/meriang, menggigil, kadang mual.
Penanganan mandiri: kompres dingin, hidrasi & istirahat, analgesik/antipiretik OTC sesuai saran tenaga kesehatan.
Reaksi Sedang–Berat (Jarang)
Demam tinggi (≥38,5 °C), ruam luas, atau reaksi lokal berat; umumnya membaik dalam beberapa hari.
Alergi berat/anafilaksis sangat jarang. Tanda bahaya: sesak napas, bengkak wajah/bibir, biduran menyeluruh, pusing berat/pingsan → darurat medis.
Kontraindikasi & Penundaan
Kontraindikasi:
Kehamilan (tunda; hindari hamil ≥1 bulan setelah tiap dosis).
Imunokompromais berat (kemoterapi aktif, transplantasi, defisiensi imun berat, terapi biologik/imunosupresif dosis tinggi).
Alergi berat terhadap gelatin atau neomisin.
Tunda bila demam ≥38 °C atau sedang sakit akut sedang–berat.
Populasi Khusus
- Hamil: hindari pemberian vaksin Varivax pada ibu hamil (kontraindikasi).
Menyusui: boleh & aman; bila muncul ruam, tutup lesi dan batasi kontak dekat dengan bayi hingga sembuh.
Pra-kehamilan: selesaikan seri sebelum hamil; hindari hamil ≥1 bulan pasca dosis.
Kontak rumah tangga berisiko tinggi (neonatus, bumil rentan, imunokompromais): risiko penularan virus vaksin sangat jarang, meningkat bila ada ruam; tutup lesi sampai pulih.
Gangguan perdarahan/terapi antikoagulan: rute SC umumnya aman; lakukan penekanan lebih lama.
Interaksi/Koadministrasi
Antivirus anti-VZV (acyclovir/valacyclovir/famciclovir): idealnya hindari 24 jam sebelum dan 14 hari sesudah vaksin (dapat menurunkan respons).
Salicylate/aspirin (anak & remaja): hindari 6 minggu pasca vaksin (risiko Reye).
Tes TB (TST/IGRA): lakukan di hari yang sama atau tunda 4–6 minggu setelah vaksin hidup.
Vaksin lain: inaktif → boleh hari yang sama (lokasi berbeda); vaksin hidup (mis. MMR) → hari yang sama atau jarak ≥4 minggu.
Setelah Vaksin di Vaxcorp
Observasi 10–15 menit pasca suntik untuk memantau sinkop/reaksi awal.
Edukasi tertulis pasca-vaksin & hotline/WA untuk keluhan.
Dugaan KIPI signifikan akan dievaluasi dan dilaporkan sesuai prosedur.
*Harga vaksinasi per dosis per pax.
*Harga sudah termasuk biaya pelayanan;
Biaya pelayanan termasuk:
Konsultasi & Tindakan Dokter
Alat Habis Pakai
Rekam Medis E-Certificate Vaksinasi
Add-on Kunjungan Klinik (Walk-in): Rp. 0 / pertemuan per dosis
Add-on VIP Layanan vaksinasi di rumah: Rp. 500,000 / kunjungan (DKI Jakarta)
Lokasi:

