Adacel TdaP (Vaksin Tetanus Difteri Pertussis)

Rp835.000,00

Paket ≥ 20 pax (Kelompok/Perusahaan/Haji atau Umroh) : IDR. Call Us

Jadwalkan Layanan

Deskripsi

  • Ringkasan
  • Anjuran
  • Kandungan
  • Efikasi
  • Indikasi
  • Keamanan

Adacel (TdaP, Sanofi) – Vaksin Difteri, Tetanus, & Pertusis (Acellular) untuk remaja & dewasa

Adacel adalah vaksin kombinasi non-live yang memberi kekebalan terhadap difteri, tetanus, dan batuk rejan (pertusis). Difteri dapat menyebabkan sumbatan napas & miokarditis, tetanus memicu kejang kekakuan otot fatal, dan pertusis menimbulkan batuk paroksismal yang dapat berbahaya pada bayi.


Siapa yang disarankan:

  • Remaja & dewasa (10–64 tahun) sebagai booster TdaP (pengganti 1 dosis dari booster Td).

  • Kehamilan: 1 dosis TdaP di setiap kehamilan (optimal trimester 3, minggu 27–36; boleh lebih awal bila risiko tinggi) untuk antibodi maternal yang melindungi bayi baru lahir.

  • “Cocooning”: pasangan / keluarga / penjaga bayi yang belum TdaP.

  • Manajemen luka berisiko tetanus (lihat posologi di Tab 5): TdaP + TIG bila indikasi.


Manfaat utama:

  • Memulihkan titer anti-tetanus / difteri & menurunkan risiko pertusis pada dewasa serta paparan bayi.

  • Jadwal praktis 1 dosis 0,5 mL IM (deltoid), dapat koadministrasi dengan vaksin influenza, COVID-19, pneumokokus di lokasi suntik berbeda.

  • Efek proteksi cepat terhadap tetanus/difteri; antibodi pertusis maternal turun ke bayi sehingga mengisi celah sebelum seri DTP anak selesai.


Regimen & waktu terbaik:

  • Imunisasi Aktif Lanjutan pada Dewasa & Anak ≥ 10 tahun
    • Vaksin TdaP diberikan secara rutin mulai usia 10 tahun hingga 64 tahun, sebanyak satu dosis (0,5 mL) dengan pengulangan setiap 10 tahun.
  • Imunisasi Pada Kehamilan
    • TdaP juga diberikan 1 dosis tambahan pada ibu hamil pada trimester ketiga (usia kehamilan 27 – 42 minggu) untuk pencegahan batuk rejan pada bayi baru lahir selama 6 bulan pertama kehidupannya.
    • TdaP aman dan dianjurkan untuk diberikan pada ibu hamil.
  • Manajemen Luka
    • TdaP dapat diberikan untuk profilaksis tetanus untuk manajemen luka. Untuk penanganan luka rawan tetanus, vaksin ini dapat diberikan jika setidaknya 5 tahun telah berlalu sejak menerima vaksin yang mengandung toksoid tetanus sebelumnya.
  • Waktu ideal: Berikan segera bila sudah ≥10 tahun sejak booster terakhir (atau tidak ingat riwayatnya)—jangan menunggu momen tertentu. Untuk pemeliharaan, ulang setiap 10 tahun. Vaksinasi TdaP tambahan pada kehamilan umumnya diberikan pada usia kehamilan 27-36 minggu agar antibodi maternal maksimal ditransfer ke janin. Bila ada risiko persalinan prematur/terpapar KLB pertusis, boleh lebih awal (trimester 2), tetapi tetap tidak perlu diulang pada kehamilan yang sama.

Berbeda dengan Boostrix yang dapat digunakan pada usia lanjut (≥65 tahun) dan pada sebagian kondisi imunokompromais, Adacel direkomendasikan untuk usia 10–64 tahun sesuai label. Pilih merek sesuai kelompok usia & ketersediaan.


Keamanan & perhatian ringkas:

  • Reaksi pasca vaksinasi umumnya tanpa keluhan hingga ringan–sedang. Apabila ada keluhan umumnya bersifat sementara (1–3 hari): nyeri/kemerahan/bengkak di lokasi suntik, lelah, nyeri otot, sakit kepala, demam ringan/meriang.

  • Penanganan: kompres dingin, hidrasi, istirahat; analgesik/antipiretik OTC sesuai saran tenaga kesehatan.

  • Catatan kehati-hatian (jarang): riwayat ensefalopati dalam ≤7 hari setelah vaksin pertusis sebelumnya → kontraindikasi (gunakan Td untuk kebutuhan tetanus/difteri); riwayat reaksi Arthus berat setelah toksoid tetanus → tunda booster ≥10 tahun; GBS ≤6 minggu pasca toksoid tetanus → pertimbangkan sebagai precaution.

Komposisi Vaksin Adacel TdaP (ringkas)

Satu dosis (0,5 mL) mengandung:

  • toksoid Tetanus — 5 Lf
  • toksoid Diphtheria — 2 Lf
  • antigen Pertusis aseluler (tidak mengandung sel Bordetella pertussis utuh):
    • toksoid Pertussis inaktif (PT) — 2.5 mcg
    • Hemaglutinin filamen (FHA) — 5 mcg
    • Pertactin (PRN) — 3 mcg
    • Fimbriae tipe 2 & 3 (FIM2/3) — 5 mcg
  • Daftar Ajuvan dan Eksipien: lihat tab Kandungan

Pemberian Adacel dengan Vaksin Lain

Adacel (Tdap, non-live) dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain seperti influenza inaktif, pneumokokus (PCV20/PCV15/PPSV23), COVID-19, RSV lansia, Shingrix (zoster rekombinan), hepatitis, HPV, maupun meningokokus, selama lokasi suntik berbeda (mis. deltoid kiri/kanan) dan syringe terpisah.

Untuk vaksin hidup (mis. MMR/Varicella), Tdap boleh bersama hari yang sama atau kapan saja—tidak perlu jeda 4 minggu (aturan jeda berlaku antarsesama vaksin hidup, bukan dengan Tdap).

Pada jadwal padat, koadministrasi membantu mengurangi kunjungan tanpa menurunkan respons imun yang bermakna. Harapkan reaksi lokal (nyeri/kemerahan/bengkak) dan keluhan sistemik ringan (lelah/nyeri otot/demam ringan) bisa sedikit lebih terasa saat beberapa vaksin diberikan di hari yang sama—biasanya ringan & sementara. Kehamilan: Tdap aman dikombinasikan dengan influenza/COVID-19 di trimester 2–3. Manajemen luka: Tdap dapat diberikan bersama TIG bila diindikasikan, di lokasi suntik berbeda. Jangan mencampur vaksin dalam satu spuit.

Vaksin saat hamil / menyusui:

Kehamilan (direkomendasikan sebagai booster pada tiap kehamilan):

  • Berikan 1 dosis Tdap pada usia kehamilan 27–36 minggu untuk memaksimalkan transfer antibodi ke janin dan melindungi bayi dari pertusis pada 2–3 bulan pertama hidupnya.

  • Boleh lebih awal (trimester 1–2) bila ada alasan klinis (kontak KLB pertusis, manajemen luka tetanus, jadwal sulit). Jika sudah diberikan lebih awal, tidak perlu diulang pada 27–36 minggu di kehamilan yang sama.

  • Koadministrasi aman dengan vaksin influenza dan/atau COVID-19 di lokasi suntik berbeda.

  • Bila terlewat saat hamil: berikan segera postpartum (sebelum pulang). Lakukan juga “cocooning”: pasangan/keluarga/penjaga bayi mendapatkan Tdap ≥2 minggu sebelum kontak dekat rutin.

Menyusui:

  • Aman diberikan selama menyusui; tidak mengganggu produksi ASI dan dapat meningkatkan antibodi terhadap pertusis pada ibu, membantu menurunkan risiko penularan ke bayi.

  • Boleh dikombinasikan dengan vaksin lain (influenza, COVID-19) di lokasi suntik berbeda.


Kemasan :

Adacel Vaksin TdaP Vaksin Tetanus Difteri Pertusis

Merek: Adacel

Diproduksi oleh: Sanofi Pasteur

Distribusi oleh: PT Sanofi Indonesia

Anjuran Pemberian & Rekomendasi Dosis

Siapa yang Dianjurkan

  • Remaja & dewasa (10–64 tahun) sebagai booster Tdap (menggantikan 1 dosis Td).

  • Ibu hamil: 1 dosis pada tiap kehamilan, ideal 27–36 minggu.

  • Cocooning: pasangan/keluarga/penjaga bayi yang belum pernah Tdap (beri ≥2 minggu sebelum kontak dekat rutin).

  • Tenaga kesehatan, pendidik/asrama, pekerja layanan publik.

  • Manajemen luka berisiko tetanus (lihat ketentuan booster & TIG di bawah).

Siapa yang perlu ditunda/pertimbangkan

  • Demam ≥38 °C atau penyakit akut sedang–berat → tunda.

  • Riwayat ensefalopati ≤7 hari setelah vaksin pertusis sebelumnya → kontraindikasi (gunakan vaksin Td).

  • Reaksi Arthus berat setelah toksoid tetanus → tunda booster ≥10 tahun.

  • GBS ≤6 minggu pasca toksoid tetanus → precaution (nilai manfaat–risiko).


Jadwal & Dosis (ringkas, IM deltoid 0,5 mL)

  • Imunisasi Aktif Lanjutan pada Dewasa & Anak ≥ 10 tahun
    • Vaksin Tdap diberikan secara rutin mulai usia 10 tahun hingga 64 tahun, sebanyak satu dosis (0,5 mL) dengan pengulangan setiap 10 tahun.
    • Catch-up bila riwayat tidak jelas: berikan segera, lalu ikuti booster berikutnya sesuai interval.
  • Imunisasi Pada Kehamilan
    • Tdap juga diberikan 1 dosis tambahan pada ibu hamil pada trimester ketiga (usia kehamilan 27 – 42 minggu) untuk pencegahan batuk rejan pada bayi baru lahir selama 6 bulan pertama kehidupannya.
    • Tdap aman dan dianjurkan untuk diberikan pada ibu hamil.
  • Manajemen Luka
    • Tdap dapat diberikan untuk profilaksis tetanus untuk manajemen luka. Untuk penanganan luka rawan tetanus, vaksin ini dapat diberikan jika setidaknya 5 tahun telah berlalu sejak menerima vaksin yang mengandung toksoid tetanus sebelumnya.
  • Waktu ideal: Berikan segera bila sudah ≥10 tahun sejak booster terakhir (atau tidak ingat riwayatnya)—jangan menunggu momen tertentu. Untuk pemeliharaan, ulang setiap 10 tahun. Vaksinasi Tdap tambahan pada kehamilan umumnya diberikan pada usia kehamilan 27-36 minggu agar antibodi maternal maksimal ditransfer ke janin. Bila ada risiko persalinan prematur/terpapar KLB pertusis, boleh lebih awal (trimester 2), tetapi tetap tidak perlu diulang pada kehamilan yang sama.


Koadministrasi (Pada Hari yang Sama)

  • Dapat bersamaan dengan influenza, COVID-19, pneumokokus, hepatitis, HPV, meningokokus lokasi suntik berbeda, syringe terpisah.

  • Tidak perlu jeda khusus dengan vaksin hidup (aturan jeda berlaku antarsesama vaksin hidup, bukan dengan Tdap).


Siapa yang Perlu Konsultasi Dulu

  • Alergi berat/anafilaksis terhadap dosis vaksin Td/Tdap sebelumnya atau komponen vaksin (toksoid tetanus/difteri, antigen pertusis PT/FHA/PRN/FIM2-3, aluminium; jejak formaldehida/glutaraldehida).
  • Demam ≥38 °C/penyakit akut sedang–berat (tunda).
  • Riwayat Ensefalopati dalam ≤7 hari setelah vaksin pertusis sebelumnya (kontraindikasi Tdap → gunakan Td bila perlu proteksi tetanus/difteri).
  • Riwayat Guillain–Barré syndrome (GBS) ≤6 minggu pasca toksoid tetanus sebelumnya (nilai manfaat-risiko).
  • Gangguan neurologis progresif yang belum terkontrol (mis. kejang tidak terkontrol, encephalopathy aktif) → tunda sampai stabil.
  • Terapi antikoagulan/kelainan perdarahan (IM deltoid): boleh, namun gunakan jarum kecil & penekanan lebih lama; pertimbangkan risiko memar.

Persiapan & Pasca-Vaksin

  • Bawa riwayat alergi/obat, makan minum cukup, istirahat.

  • Efek samping umum: nyeri/kemerahan suntikan, lelah, nyeri otot, demam ringan (1–3 hari). Kompres dingin & analgesik OTC bila perlu.

  • Observasi 10–15 menit pasca suntik; hubungi kami bila gejala berat/berkepanjangan.

Zat Aktif

Nama produk: Adacel – Vaksin Tetanus, Difteri & Pertusis (Acellular, Tdap)
Tipe: Non-live (inaktif); mengandung toksoid tetanus & difteri serta antigen pertusis aseluler (PT, FHA, PRN, FIM2/3) untuk memicu kekebalan terhadap tiga penyakit tersebut.


Komposisi per dosis

Satu dosis (0,5 mL) mengandung:

  • Toksoid Tetanus — 5 Lf
  • Toksoid Diphtheria — 2 Lf
  • Antigen Pertusis aseluler (tidak mengandung sel Bordetella pertussis utuh):
    • Toksoid Pertussis inaktif (PT) — 2,5 mcg
    • Hemaglutinin filamen (FHA) — 5 mcg
    • Pertactin (PRN) — 3 mcg
    • Fimbriae tipe 2 & 3 (FIM2/3) — 5 mcg
  • Ajuvan:
    • Garam aluminium (mis. aluminium fosfat/hidroksida) — diformulasikan mengandung aluminium dalam kadar jejak sesuai label
  • Eksipien:
    • Natrium klorida — kadar sesuai label
    • Formaldehida / glutaraldehida (residu proses) — kadar jejak
    • Polysorbat 80 (Tween 80) — kadar jejak
  • Produk ini tidak mengandung bahan pengawet (tanpa thimerosal).

Sediaan & penanganan

  • Pre-filled syringe 0,5 mL berisi suspensi injeksi IM (deltoid); jangan diberikan SC/IV.

  • Simpan 2–8 °C; lindungi dari cahaya; jangan dibekukan. Kocok hingga homogen sebelum digunakan.

  • Periksa visual: suspensi opalesen/keputihan tanpa partikel asing. Buang sisa sesuai prosedur limbah medis.

Kata kunci tercakup: Adacel Tdap, toksoid tetanus/difteri, PT/FHA/PRN/FIM2-3, adjuvan aluminium, tanpa thimerosal, 0,5 mL IM deltoid, simpan 2–8 °C.

Efikasi & Perlindungan

Bagaimana melindungi:

  • Adacel (Tdap) merangsang antibodi antitoksin terhadap toksoid tetanus & difteri serta antibodi terhadap antigen pertusis PT/FHA/PRN/FIM2-3. Antibodi ini menetralkan toksin, menghambat perlekatan/penyebaran B. pertussis, dan—bila tetap terpapar—mengurangi keparahan gejala serta risiko komplikasi.
  • Pada kehamilan, antibodi IgG yang terbentuk ditransfer ke janin, membantu melindungi bayi dari pertusis pada bulan-bulan awal kehidupan dan menurunkan potensi penularan dalam keluarga.

Tingkat efektivitas (Seroproteksi cepat & tinggi):

  • Tetanus & difteri:95–99% penerima mencapai seroproteksi dalam 2–4 minggu pasca 1 dosis booster 0,5 mL IM; proteksi klinis lazimnya bertahan ~10 tahun (dasar interval booster rutin).

  • Pertusis (acellular): antibodi terhadap PT/FHA/PRN/FIM2-3 naik bermakna dalam 2–4 minggu. Efektivitas penyakit pada dewasa bervariasi antar studi (waning beberapa tahun), tapi booster menurunkan risiko gejala & transmisi.

  • Tdap kehamilan (27–36 mg): menghasilkan transfer IgG plasenta tinggi → proteksi bayi selama 2–3 bulan pertama (fase paling fatal bila kena pertusis), terbukti menurunkan rawat inap & kematian terkait pertusis pada neonatus. “Cocooning” membantu, namun lebih lemah dibanding vaksinasi bumil—idealnya keduanya dilakukan.
  • Manajemen luka tetanus: Booster Tdap memulihkan titer anti-tetanus dengan cepat; pada luka berisiko dan riwayat imunisasi tidak adekuat, tambahkan TIG sesuai pedoman. Jangan menunda vaksin meski TIG diberikan (lokasi berbeda).

Onset & durasi proteksi:

  • Onset: respon awal ~1–2 minggu, puncak ~2–4 minggu.

  • Durasi: tetanus/difteri ~10 tahun; pertusis menurun lebih cepat (2–4 tahun), sehingga pilar proteksi komunitas tetap pada seri DTP anak + Tdap bumil berulang setiap kehamilan.

Tdap bukan terapi pasca pajanan pertusis yang bekerja seketika; untuk kontak erat, tetap pertimbangkan profilaksis antibiotik per pedoman setempat. Tdap tetap bermanfaat untuk pencegahan jangka menengah.


Kelompok manfaat terbesar:

  • Ibu hamil (tiap kehamilan, 27–36 mg): transfer antibodi ke janin → proteksi bayi dari pertusis pada 2–3 bulan pertama.

  • Keluarga/penjaga bayi (cocooning): ayah/kakak/pengasuh yang belum Tdap → kurangi risiko membawa pertusis ke rumah.

  • Remaja & dewasa (10–64 tahun) yang belum booster 10-tahunan: pulihkan seroproteksi tetanus/difteri & turunkan risiko pertusis.

  • Tenaga kesehatan, pendidik, pekerja layanan publik, penghuni/asrama: paparan tinggi & potensi menulari kelompok rentan.

  • Manajemen luka berisiko tetanus / riwayat imunisasi tidak adekuat: booster cepat; tambah TIG bila indikasi.

  • Penderita komorbid/lanjut usia yang kontak dengan bayi: cegah pertusis berat & rantai transmisi keluarga.

Kata kunci tercakup: Adacel Tdap, efikasi booster difteri tetanus pertusis, seroproteksi 2–4 minggu, waning pertusis 2–4 tahun, Tdap ibu hamil 27–36 mg, proteksi bayi, manajemen luka + TIG, bukan PEP pertusis, cocooning.

Indikasi & Posologi

Indikasi

Adacel (vaksin tetanus, difteri, pertusis aseluler) diindikasikan untuk pencegahan infeksi Tetanus, Difteri, dan Pertusis pada:

  • Booster remaja & dewasa (10–64 tahun): pencegahan difteri, tetanus, pertusis; Tdap dapat menggantikan Td pada booster apa pun.

  • Kehamilan: 1 dosis pada tiap kehamilan (optimal 27–36 minggu) untuk proteksi bayi dari pertusis.

  • Cocooning: pasangan/keluarga/pengasuh bayi yang belum pernah Tdap.

  • Manajemen luka berisiko tetanus: sebagai bagian dari profilaksis luka (lihat di bawah).


Posologi (Dosis & Jadwal)

Rute: IM (intramuskular), preferensi otot deltoid; jangan IV.
Frekuensi: 1×, pengulangan setiap 10 tahun.

Catch-up (Imunisasi Kejar) bila riwayat tidak lengkap/tidak jelas (primer 3 dosis):

  • Dosis-1: Tdap sekarang,

  • Dosis-2: Td/Tdap ≥4 minggu kemudian,

  • Dosis-3: Td/Tdap 6–12 bulan setelah dosis-2 → lalu booster tiap 10 tahun.

Kehamilan:

  • 1 dosis Tdap pada trimester 3 (27–36 mg); bila diberikan lebih awal karena alasan klinis, tidak perlu diulang pada kehamilan yang sama.

Postpartum:

  • Jika terlewat saat hamil, berikan segera setelah melahirkan (aman saat menyusui).

Usia <10 tahun:

  • Gunakan DTaP atau kombinasi DTaP-HiB-HepB-IPV sesuai jadwal anak (Adacel/Tdap tidak diindikasikan).

Catatan Praktis

  • Koadministrasi diperbolehkan dengan vaksin non-hidup seperti PCV/PPV, Influenza, Tdap, COVID-19 mRNA, HPV, Hepatitis A dan B, Shingrix, RSV lansia, dan vaksin hidup seperti MMR, Varicella, Dengue, dsb, di lokasi suntik berbeda.

  • Observasi 10–15 menit pasca suntik; edukasi gejala ringan yang umum (lihat Tab 6).

  • Konsultasi terlebih dulu bila ada riwayat anafilaksis terhadap vaksin/komponennya atau Guillain–Barré syndrome (GBS) ≤6 minggu setelah vaksin Td/Tdap sebelumnya.

Profil Keamanan Singkat

Adacel adalah vaksin non-live (Tdap) dengan profil keamanan baik pada remaja & dewasa 10–64 tahun termasuk ibu hamil. Keluhan umumnya ringan–sedang dan sementara (±1–3 hari).


Efek Samping Umum (0–7 hari)

Lokal (di tempat suntik, IM deltoid):

  • Nyeri, kemerahan, bengkak/indurasi, rasa hangat/nyeri tekan di lokasi injeksi. Jarang terjadi, apabila ada keluhan, umumnya ringan.

Sistemik:

  • Lelah, nyeri otot/pegal, sakit kepala, demam ringan/meriang, menggigil, kadang mual.

Penanganan mandiri: kompres dingin, hidrasi & istirahat, analgesik/antipiretik OTC sesuai saran tenaga kesehatan.


Reaksi Sedang–Berat (Jarang)

  • Reaksi lokal berat/Arthus-like (bengkak luas, nyeri hebat) — biasanya membaik dalam beberapa hari; evaluasi sebelum booster berikutnya.

  • Demam ≥38,5 °C, reaksi alergi; anafilaksis sangat jarang → darurat medis.

  • Sinkop terkait prosedur suntik: observasi singkat setelah penyuntikan.


Kontraindikasi & Penundaan

  • Kontraindikasi: riwayat anafilaksis terhadap komponen vaksin; ensefalopati ≤7 hari setelah vaksin pertusis sebelumnya (gunakan Td).

  • Precaution: reaksi Arthus berat pasca toksoid tetanus (tunda ≥10 tahun), GBS ≤6 minggu setelah toksoid tetanus, gangguan neurologis tidak stabil.

  • Tunda bila demam ≥38 °C atau sakit akut sedang–berat.


Populasi Khusus

  • Kehamilan: direkomendasikan tiap kehamilan (optimal 27–36 mg); aman diberikan bersamaan dengan influenza/COVID-19 di lokasi berbeda.

  • Menyusui: aman; tidak mengganggu produksi ASI.

  • Gangguan perdarahan/antikoagulan: IM deltoid boleh dengan jarum kecil & penekanan lebih lama.

  • Imunokompromais: non-live; umumnya dapat diberikan.


Interaksi/Koadministrasi

  • Boleh bersamaan dengan influenza, COVID-19, pneumokokus, hepatitis, HPV, meningokokuslokasi suntik berbeda dan syringe terpisah.

  • Manajemen luka: dapat diberikan bersama TIG bila diindikasikan (lokasi berbeda).


Setelah Vaksin di Vaxcorp

  • Observasi 10–15 menit pasca suntik untuk memantau sinkop/reaksi awal.

  • Edukasi tertulis pasca-vaksin & hotline/WA untuk keluhan.

  • Dugaan KIPI signifikan akan dievaluasi dan dilaporkan sesuai prosedur.

*Harga vaksinasi per dosis per pax.
*Harga sudah termasuk biaya pelayanan;

Biaya pelayanan termasuk:

  • Konsultasi & Tindakan Dokter

  • Alat Habis Pakai

  • Rekam Medis E-Certificate Vaksinasi

Add-on Kunjungan Klinik (Walk-in): Rp. 0 / pertemuan per dosis
Add-on VIP Layanan vaksinasi di rumah: Rp. 500,000 / kunjungan (DKI Jakarta)

rekomendasi vaksinasi

Lokasi:

Klinik Vaksinasi Vaxcorp Indonesia

Rekomendasi Layanan

Adacel TdaP (Vaksin Tetanus Difteri Pertussis)

Rp835.000,00

Jadwalkan Layanan

Paket ≥ 20 pax (Kelompok/Perusahaan/Haji atau Umroh) : IDR. Call Us

Deskripsi

  • Ringkasan
  • Anjuran
  • Kandungan
  • Efikasi
  • Indikasi
  • Keamanan

Adacel (TdaP, Sanofi) – Vaksin Difteri, Tetanus, & Pertusis (Acellular) untuk remaja & dewasa

Adacel adalah vaksin kombinasi non-live yang memberi kekebalan terhadap difteri, tetanus, dan batuk rejan (pertusis). Difteri dapat menyebabkan sumbatan napas & miokarditis, tetanus memicu kejang kekakuan otot fatal, dan pertusis menimbulkan batuk paroksismal yang dapat berbahaya pada bayi.


Siapa yang disarankan:

  • Remaja & dewasa (10–64 tahun) sebagai booster TdaP (pengganti 1 dosis dari booster Td).

  • Kehamilan: 1 dosis TdaP di setiap kehamilan (optimal trimester 3, minggu 27–36; boleh lebih awal bila risiko tinggi) untuk antibodi maternal yang melindungi bayi baru lahir.

  • “Cocooning”: pasangan / keluarga / penjaga bayi yang belum TdaP.

  • Manajemen luka berisiko tetanus (lihat posologi di Tab 5): TdaP + TIG bila indikasi.


Manfaat utama:

  • Memulihkan titer anti-tetanus / difteri & menurunkan risiko pertusis pada dewasa serta paparan bayi.

  • Jadwal praktis 1 dosis 0,5 mL IM (deltoid), dapat koadministrasi dengan vaksin influenza, COVID-19, pneumokokus di lokasi suntik berbeda.

  • Efek proteksi cepat terhadap tetanus/difteri; antibodi pertusis maternal turun ke bayi sehingga mengisi celah sebelum seri DTP anak selesai.


Regimen & waktu terbaik:

  • Imunisasi Aktif Lanjutan pada Dewasa & Anak ≥ 10 tahun
    • Vaksin TdaP diberikan secara rutin mulai usia 10 tahun hingga 64 tahun, sebanyak satu dosis (0,5 mL) dengan pengulangan setiap 10 tahun.
  • Imunisasi Pada Kehamilan
    • TdaP juga diberikan 1 dosis tambahan pada ibu hamil pada trimester ketiga (usia kehamilan 27 – 42 minggu) untuk pencegahan batuk rejan pada bayi baru lahir selama 6 bulan pertama kehidupannya.
    • TdaP aman dan dianjurkan untuk diberikan pada ibu hamil.
  • Manajemen Luka
    • TdaP dapat diberikan untuk profilaksis tetanus untuk manajemen luka. Untuk penanganan luka rawan tetanus, vaksin ini dapat diberikan jika setidaknya 5 tahun telah berlalu sejak menerima vaksin yang mengandung toksoid tetanus sebelumnya.
  • Waktu ideal: Berikan segera bila sudah ≥10 tahun sejak booster terakhir (atau tidak ingat riwayatnya)—jangan menunggu momen tertentu. Untuk pemeliharaan, ulang setiap 10 tahun. Vaksinasi TdaP tambahan pada kehamilan umumnya diberikan pada usia kehamilan 27-36 minggu agar antibodi maternal maksimal ditransfer ke janin. Bila ada risiko persalinan prematur/terpapar KLB pertusis, boleh lebih awal (trimester 2), tetapi tetap tidak perlu diulang pada kehamilan yang sama.

Berbeda dengan Boostrix yang dapat digunakan pada usia lanjut (≥65 tahun) dan pada sebagian kondisi imunokompromais, Adacel direkomendasikan untuk usia 10–64 tahun sesuai label. Pilih merek sesuai kelompok usia & ketersediaan.


Keamanan & perhatian ringkas:

  • Reaksi pasca vaksinasi umumnya tanpa keluhan hingga ringan–sedang. Apabila ada keluhan umumnya bersifat sementara (1–3 hari): nyeri/kemerahan/bengkak di lokasi suntik, lelah, nyeri otot, sakit kepala, demam ringan/meriang.

  • Penanganan: kompres dingin, hidrasi, istirahat; analgesik/antipiretik OTC sesuai saran tenaga kesehatan.

  • Catatan kehati-hatian (jarang): riwayat ensefalopati dalam ≤7 hari setelah vaksin pertusis sebelumnya → kontraindikasi (gunakan Td untuk kebutuhan tetanus/difteri); riwayat reaksi Arthus berat setelah toksoid tetanus → tunda booster ≥10 tahun; GBS ≤6 minggu pasca toksoid tetanus → pertimbangkan sebagai precaution.

Komposisi Vaksin Adacel TdaP (ringkas)

Satu dosis (0,5 mL) mengandung:

  • toksoid Tetanus — 5 Lf
  • toksoid Diphtheria — 2 Lf
  • antigen Pertusis aseluler (tidak mengandung sel Bordetella pertussis utuh):
    • toksoid Pertussis inaktif (PT) — 2.5 mcg
    • Hemaglutinin filamen (FHA) — 5 mcg
    • Pertactin (PRN) — 3 mcg
    • Fimbriae tipe 2 & 3 (FIM2/3) — 5 mcg
  • Daftar Ajuvan dan Eksipien: lihat tab Kandungan

Pemberian Adacel dengan Vaksin Lain

Adacel (Tdap, non-live) dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain seperti influenza inaktif, pneumokokus (PCV20/PCV15/PPSV23), COVID-19, RSV lansia, Shingrix (zoster rekombinan), hepatitis, HPV, maupun meningokokus, selama lokasi suntik berbeda (mis. deltoid kiri/kanan) dan syringe terpisah.

Untuk vaksin hidup (mis. MMR/Varicella), Tdap boleh bersama hari yang sama atau kapan saja—tidak perlu jeda 4 minggu (aturan jeda berlaku antarsesama vaksin hidup, bukan dengan Tdap).

Pada jadwal padat, koadministrasi membantu mengurangi kunjungan tanpa menurunkan respons imun yang bermakna. Harapkan reaksi lokal (nyeri/kemerahan/bengkak) dan keluhan sistemik ringan (lelah/nyeri otot/demam ringan) bisa sedikit lebih terasa saat beberapa vaksin diberikan di hari yang sama—biasanya ringan & sementara. Kehamilan: Tdap aman dikombinasikan dengan influenza/COVID-19 di trimester 2–3. Manajemen luka: Tdap dapat diberikan bersama TIG bila diindikasikan, di lokasi suntik berbeda. Jangan mencampur vaksin dalam satu spuit.

Vaksin saat hamil / menyusui:

Kehamilan (direkomendasikan sebagai booster pada tiap kehamilan):

  • Berikan 1 dosis Tdap pada usia kehamilan 27–36 minggu untuk memaksimalkan transfer antibodi ke janin dan melindungi bayi dari pertusis pada 2–3 bulan pertama hidupnya.

  • Boleh lebih awal (trimester 1–2) bila ada alasan klinis (kontak KLB pertusis, manajemen luka tetanus, jadwal sulit). Jika sudah diberikan lebih awal, tidak perlu diulang pada 27–36 minggu di kehamilan yang sama.

  • Koadministrasi aman dengan vaksin influenza dan/atau COVID-19 di lokasi suntik berbeda.

  • Bila terlewat saat hamil: berikan segera postpartum (sebelum pulang). Lakukan juga “cocooning”: pasangan/keluarga/penjaga bayi mendapatkan Tdap ≥2 minggu sebelum kontak dekat rutin.

Menyusui:

  • Aman diberikan selama menyusui; tidak mengganggu produksi ASI dan dapat meningkatkan antibodi terhadap pertusis pada ibu, membantu menurunkan risiko penularan ke bayi.

  • Boleh dikombinasikan dengan vaksin lain (influenza, COVID-19) di lokasi suntik berbeda.


Kemasan :

Adacel Vaksin TdaP Vaksin Tetanus Difteri Pertusis

Merek: Adacel

Diproduksi oleh: Sanofi Pasteur

Distribusi oleh: PT Sanofi Indonesia

Anjuran Pemberian & Rekomendasi Dosis

Siapa yang Dianjurkan

  • Remaja & dewasa (10–64 tahun) sebagai booster Tdap (menggantikan 1 dosis Td).

  • Ibu hamil: 1 dosis pada tiap kehamilan, ideal 27–36 minggu.

  • Cocooning: pasangan/keluarga/penjaga bayi yang belum pernah Tdap (beri ≥2 minggu sebelum kontak dekat rutin).

  • Tenaga kesehatan, pendidik/asrama, pekerja layanan publik.

  • Manajemen luka berisiko tetanus (lihat ketentuan booster & TIG di bawah).

Siapa yang perlu ditunda/pertimbangkan

  • Demam ≥38 °C atau penyakit akut sedang–berat → tunda.

  • Riwayat ensefalopati ≤7 hari setelah vaksin pertusis sebelumnya → kontraindikasi (gunakan vaksin Td).

  • Reaksi Arthus berat setelah toksoid tetanus → tunda booster ≥10 tahun.

  • GBS ≤6 minggu pasca toksoid tetanus → precaution (nilai manfaat–risiko).


Jadwal & Dosis (ringkas, IM deltoid 0,5 mL)

  • Imunisasi Aktif Lanjutan pada Dewasa & Anak ≥ 10 tahun
    • Vaksin Tdap diberikan secara rutin mulai usia 10 tahun hingga 64 tahun, sebanyak satu dosis (0,5 mL) dengan pengulangan setiap 10 tahun.
    • Catch-up bila riwayat tidak jelas: berikan segera, lalu ikuti booster berikutnya sesuai interval.
  • Imunisasi Pada Kehamilan
    • Tdap juga diberikan 1 dosis tambahan pada ibu hamil pada trimester ketiga (usia kehamilan 27 – 42 minggu) untuk pencegahan batuk rejan pada bayi baru lahir selama 6 bulan pertama kehidupannya.
    • Tdap aman dan dianjurkan untuk diberikan pada ibu hamil.
  • Manajemen Luka
    • Tdap dapat diberikan untuk profilaksis tetanus untuk manajemen luka. Untuk penanganan luka rawan tetanus, vaksin ini dapat diberikan jika setidaknya 5 tahun telah berlalu sejak menerima vaksin yang mengandung toksoid tetanus sebelumnya.
  • Waktu ideal: Berikan segera bila sudah ≥10 tahun sejak booster terakhir (atau tidak ingat riwayatnya)—jangan menunggu momen tertentu. Untuk pemeliharaan, ulang setiap 10 tahun. Vaksinasi Tdap tambahan pada kehamilan umumnya diberikan pada usia kehamilan 27-36 minggu agar antibodi maternal maksimal ditransfer ke janin. Bila ada risiko persalinan prematur/terpapar KLB pertusis, boleh lebih awal (trimester 2), tetapi tetap tidak perlu diulang pada kehamilan yang sama.


Koadministrasi (Pada Hari yang Sama)

  • Dapat bersamaan dengan influenza, COVID-19, pneumokokus, hepatitis, HPV, meningokokus lokasi suntik berbeda, syringe terpisah.

  • Tidak perlu jeda khusus dengan vaksin hidup (aturan jeda berlaku antarsesama vaksin hidup, bukan dengan Tdap).


Siapa yang Perlu Konsultasi Dulu

  • Alergi berat/anafilaksis terhadap dosis vaksin Td/Tdap sebelumnya atau komponen vaksin (toksoid tetanus/difteri, antigen pertusis PT/FHA/PRN/FIM2-3, aluminium; jejak formaldehida/glutaraldehida).
  • Demam ≥38 °C/penyakit akut sedang–berat (tunda).
  • Riwayat Ensefalopati dalam ≤7 hari setelah vaksin pertusis sebelumnya (kontraindikasi Tdap → gunakan Td bila perlu proteksi tetanus/difteri).
  • Riwayat Guillain–Barré syndrome (GBS) ≤6 minggu pasca toksoid tetanus sebelumnya (nilai manfaat-risiko).
  • Gangguan neurologis progresif yang belum terkontrol (mis. kejang tidak terkontrol, encephalopathy aktif) → tunda sampai stabil.
  • Terapi antikoagulan/kelainan perdarahan (IM deltoid): boleh, namun gunakan jarum kecil & penekanan lebih lama; pertimbangkan risiko memar.

Persiapan & Pasca-Vaksin

  • Bawa riwayat alergi/obat, makan minum cukup, istirahat.

  • Efek samping umum: nyeri/kemerahan suntikan, lelah, nyeri otot, demam ringan (1–3 hari). Kompres dingin & analgesik OTC bila perlu.

  • Observasi 10–15 menit pasca suntik; hubungi kami bila gejala berat/berkepanjangan.

Zat Aktif

Nama produk: Adacel – Vaksin Tetanus, Difteri & Pertusis (Acellular, Tdap)
Tipe: Non-live (inaktif); mengandung toksoid tetanus & difteri serta antigen pertusis aseluler (PT, FHA, PRN, FIM2/3) untuk memicu kekebalan terhadap tiga penyakit tersebut.


Komposisi per dosis

Satu dosis (0,5 mL) mengandung:

  • Toksoid Tetanus — 5 Lf
  • Toksoid Diphtheria — 2 Lf
  • Antigen Pertusis aseluler (tidak mengandung sel Bordetella pertussis utuh):
    • Toksoid Pertussis inaktif (PT) — 2,5 mcg
    • Hemaglutinin filamen (FHA) — 5 mcg
    • Pertactin (PRN) — 3 mcg
    • Fimbriae tipe 2 & 3 (FIM2/3) — 5 mcg
  • Ajuvan:
    • Garam aluminium (mis. aluminium fosfat/hidroksida) — diformulasikan mengandung aluminium dalam kadar jejak sesuai label
  • Eksipien:
    • Natrium klorida — kadar sesuai label
    • Formaldehida / glutaraldehida (residu proses) — kadar jejak
    • Polysorbat 80 (Tween 80) — kadar jejak
  • Produk ini tidak mengandung bahan pengawet (tanpa thimerosal).

Sediaan & penanganan

  • Pre-filled syringe 0,5 mL berisi suspensi injeksi IM (deltoid); jangan diberikan SC/IV.

  • Simpan 2–8 °C; lindungi dari cahaya; jangan dibekukan. Kocok hingga homogen sebelum digunakan.

  • Periksa visual: suspensi opalesen/keputihan tanpa partikel asing. Buang sisa sesuai prosedur limbah medis.

Kata kunci tercakup: Adacel Tdap, toksoid tetanus/difteri, PT/FHA/PRN/FIM2-3, adjuvan aluminium, tanpa thimerosal, 0,5 mL IM deltoid, simpan 2–8 °C.

Efikasi & Perlindungan

Bagaimana melindungi:

  • Adacel (Tdap) merangsang antibodi antitoksin terhadap toksoid tetanus & difteri serta antibodi terhadap antigen pertusis PT/FHA/PRN/FIM2-3. Antibodi ini menetralkan toksin, menghambat perlekatan/penyebaran B. pertussis, dan—bila tetap terpapar—mengurangi keparahan gejala serta risiko komplikasi.
  • Pada kehamilan, antibodi IgG yang terbentuk ditransfer ke janin, membantu melindungi bayi dari pertusis pada bulan-bulan awal kehidupan dan menurunkan potensi penularan dalam keluarga.

Tingkat efektivitas (Seroproteksi cepat & tinggi):

  • Tetanus & difteri:95–99% penerima mencapai seroproteksi dalam 2–4 minggu pasca 1 dosis booster 0,5 mL IM; proteksi klinis lazimnya bertahan ~10 tahun (dasar interval booster rutin).

  • Pertusis (acellular): antibodi terhadap PT/FHA/PRN/FIM2-3 naik bermakna dalam 2–4 minggu. Efektivitas penyakit pada dewasa bervariasi antar studi (waning beberapa tahun), tapi booster menurunkan risiko gejala & transmisi.

  • Tdap kehamilan (27–36 mg): menghasilkan transfer IgG plasenta tinggi → proteksi bayi selama 2–3 bulan pertama (fase paling fatal bila kena pertusis), terbukti menurunkan rawat inap & kematian terkait pertusis pada neonatus. “Cocooning” membantu, namun lebih lemah dibanding vaksinasi bumil—idealnya keduanya dilakukan.
  • Manajemen luka tetanus: Booster Tdap memulihkan titer anti-tetanus dengan cepat; pada luka berisiko dan riwayat imunisasi tidak adekuat, tambahkan TIG sesuai pedoman. Jangan menunda vaksin meski TIG diberikan (lokasi berbeda).

Onset & durasi proteksi:

  • Onset: respon awal ~1–2 minggu, puncak ~2–4 minggu.

  • Durasi: tetanus/difteri ~10 tahun; pertusis menurun lebih cepat (2–4 tahun), sehingga pilar proteksi komunitas tetap pada seri DTP anak + Tdap bumil berulang setiap kehamilan.

Tdap bukan terapi pasca pajanan pertusis yang bekerja seketika; untuk kontak erat, tetap pertimbangkan profilaksis antibiotik per pedoman setempat. Tdap tetap bermanfaat untuk pencegahan jangka menengah.


Kelompok manfaat terbesar:

  • Ibu hamil (tiap kehamilan, 27–36 mg): transfer antibodi ke janin → proteksi bayi dari pertusis pada 2–3 bulan pertama.

  • Keluarga/penjaga bayi (cocooning): ayah/kakak/pengasuh yang belum Tdap → kurangi risiko membawa pertusis ke rumah.

  • Remaja & dewasa (10–64 tahun) yang belum booster 10-tahunan: pulihkan seroproteksi tetanus/difteri & turunkan risiko pertusis.

  • Tenaga kesehatan, pendidik, pekerja layanan publik, penghuni/asrama: paparan tinggi & potensi menulari kelompok rentan.

  • Manajemen luka berisiko tetanus / riwayat imunisasi tidak adekuat: booster cepat; tambah TIG bila indikasi.

  • Penderita komorbid/lanjut usia yang kontak dengan bayi: cegah pertusis berat & rantai transmisi keluarga.

Kata kunci tercakup: Adacel Tdap, efikasi booster difteri tetanus pertusis, seroproteksi 2–4 minggu, waning pertusis 2–4 tahun, Tdap ibu hamil 27–36 mg, proteksi bayi, manajemen luka + TIG, bukan PEP pertusis, cocooning.

Indikasi & Posologi

Indikasi

Adacel (vaksin tetanus, difteri, pertusis aseluler) diindikasikan untuk pencegahan infeksi Tetanus, Difteri, dan Pertusis pada:

  • Booster remaja & dewasa (10–64 tahun): pencegahan difteri, tetanus, pertusis; Tdap dapat menggantikan Td pada booster apa pun.

  • Kehamilan: 1 dosis pada tiap kehamilan (optimal 27–36 minggu) untuk proteksi bayi dari pertusis.

  • Cocooning: pasangan/keluarga/pengasuh bayi yang belum pernah Tdap.

  • Manajemen luka berisiko tetanus: sebagai bagian dari profilaksis luka (lihat di bawah).


Posologi (Dosis & Jadwal)

Rute: IM (intramuskular), preferensi otot deltoid; jangan IV.
Frekuensi: 1×, pengulangan setiap 10 tahun.

Catch-up (Imunisasi Kejar) bila riwayat tidak lengkap/tidak jelas (primer 3 dosis):

  • Dosis-1: Tdap sekarang,

  • Dosis-2: Td/Tdap ≥4 minggu kemudian,

  • Dosis-3: Td/Tdap 6–12 bulan setelah dosis-2 → lalu booster tiap 10 tahun.

Kehamilan:

  • 1 dosis Tdap pada trimester 3 (27–36 mg); bila diberikan lebih awal karena alasan klinis, tidak perlu diulang pada kehamilan yang sama.

Postpartum:

  • Jika terlewat saat hamil, berikan segera setelah melahirkan (aman saat menyusui).

Usia <10 tahun:

  • Gunakan DTaP atau kombinasi DTaP-HiB-HepB-IPV sesuai jadwal anak (Adacel/Tdap tidak diindikasikan).

Catatan Praktis

  • Koadministrasi diperbolehkan dengan vaksin non-hidup seperti PCV/PPV, Influenza, Tdap, COVID-19 mRNA, HPV, Hepatitis A dan B, Shingrix, RSV lansia, dan vaksin hidup seperti MMR, Varicella, Dengue, dsb, di lokasi suntik berbeda.

  • Observasi 10–15 menit pasca suntik; edukasi gejala ringan yang umum (lihat Tab 6).

  • Konsultasi terlebih dulu bila ada riwayat anafilaksis terhadap vaksin/komponennya atau Guillain–Barré syndrome (GBS) ≤6 minggu setelah vaksin Td/Tdap sebelumnya.

Profil Keamanan Singkat

Adacel adalah vaksin non-live (Tdap) dengan profil keamanan baik pada remaja & dewasa 10–64 tahun termasuk ibu hamil. Keluhan umumnya ringan–sedang dan sementara (±1–3 hari).


Efek Samping Umum (0–7 hari)

Lokal (di tempat suntik, IM deltoid):

  • Nyeri, kemerahan, bengkak/indurasi, rasa hangat/nyeri tekan di lokasi injeksi. Jarang terjadi, apabila ada keluhan, umumnya ringan.

Sistemik:

  • Lelah, nyeri otot/pegal, sakit kepala, demam ringan/meriang, menggigil, kadang mual.

Penanganan mandiri: kompres dingin, hidrasi & istirahat, analgesik/antipiretik OTC sesuai saran tenaga kesehatan.


Reaksi Sedang–Berat (Jarang)

  • Reaksi lokal berat/Arthus-like (bengkak luas, nyeri hebat) — biasanya membaik dalam beberapa hari; evaluasi sebelum booster berikutnya.

  • Demam ≥38,5 °C, reaksi alergi; anafilaksis sangat jarang → darurat medis.

  • Sinkop terkait prosedur suntik: observasi singkat setelah penyuntikan.


Kontraindikasi & Penundaan

  • Kontraindikasi: riwayat anafilaksis terhadap komponen vaksin; ensefalopati ≤7 hari setelah vaksin pertusis sebelumnya (gunakan Td).

  • Precaution: reaksi Arthus berat pasca toksoid tetanus (tunda ≥10 tahun), GBS ≤6 minggu setelah toksoid tetanus, gangguan neurologis tidak stabil.

  • Tunda bila demam ≥38 °C atau sakit akut sedang–berat.


Populasi Khusus

  • Kehamilan: direkomendasikan tiap kehamilan (optimal 27–36 mg); aman diberikan bersamaan dengan influenza/COVID-19 di lokasi berbeda.

  • Menyusui: aman; tidak mengganggu produksi ASI.

  • Gangguan perdarahan/antikoagulan: IM deltoid boleh dengan jarum kecil & penekanan lebih lama.

  • Imunokompromais: non-live; umumnya dapat diberikan.


Interaksi/Koadministrasi

  • Boleh bersamaan dengan influenza, COVID-19, pneumokokus, hepatitis, HPV, meningokokuslokasi suntik berbeda dan syringe terpisah.

  • Manajemen luka: dapat diberikan bersama TIG bila diindikasikan (lokasi berbeda).


Setelah Vaksin di Vaxcorp

  • Observasi 10–15 menit pasca suntik untuk memantau sinkop/reaksi awal.

  • Edukasi tertulis pasca-vaksin & hotline/WA untuk keluhan.

  • Dugaan KIPI signifikan akan dievaluasi dan dilaporkan sesuai prosedur.

*Harga vaksinasi per dosis per pax.
*Harga sudah termasuk biaya pelayanan;

Biaya pelayanan termasuk:

  • Konsultasi & Tindakan Dokter

  • Alat Habis Pakai

  • Rekam Medis E-Certificate Vaksinasi

Add-on Kunjungan Klinik (Walk-in): Rp. 0 / pertemuan per dosis
Add-on VIP Layanan vaksinasi di rumah: Rp. 500,000 / kunjungan (DKI Jakarta)

rekomendasi vaksinasi

Lokasi:

Klinik Vaksinasi Vaxcorp Indonesia

Rekomendasi Layanan